Bau Kaki Tak Hilang Meski Rajin Mandi? Kebiasaan Ini Bisa Picu Pitted Keratolysis
![]() |
| Pitted keratolysis dapat membuat telapak kaki berlubang kecil dan menimbulkan bau tidak sedap akibat lingkungan yang lembap. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Bau kaki yang terus muncul meski sudah rajin mandi ternyata bisa berkaitan dengan kebiasaan sederhana dalam merawat kaus kaki dan sepatu. Kondisi kaki yang lembap, hangat, serta terlalu lama tertutup dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri penyebab pitted keratolysis.
Kondisi tersebut ditandai dengan munculnya lubang-lubang kecil menyerupai kawah pada permukaan telapak kaki. Selain perubahan pada kulit, aktivitas bakteri juga dapat menghasilkan aroma tidak sedap yang membuat bau kaki sulit hilang.
Dokter sekaligus influencer kesehatan Cecep Hermawan mengingatkan persoalan tersebut melalui unggahan video di akun Instagramnya.
“Harus berapa kali sih diingetin, yang kaus kakinya dipakai berhari-hari, dan sepatu enggak pernah dijemur. Mau nunggu jadi kayak gini (Pitted Keratolysis)?” ujar dr. Cecep dikutip Jumat (14/8/2026).
Kenapa pitted keratolysis bisa muncul?
Menurut dr. Cecep, pitted keratolysis berkaitan dengan perkembangbiakan bakteri Corynebacterium dan bakteri sejenisnya. Mikroorganisme tersebut menyukai kondisi kaki yang hangat, lembap, dan tertutup dalam waktu lama.
Bakteri kemudian menghasilkan enzim yang dapat merusak keratin pada lapisan terluar kulit telapak kaki. Proses inilah yang menyebabkan munculnya cekungan atau lubang-lubang kecil pada permukaan kulit.
“Bakteri (Corynebacterium dan sejenisnya) itu betah banget di kaki yang lembab, hangat, dan ketutup lama. Nah, bakteri ini ngeluarin enzim yang ngelarin keratin alias lapisan kulit paling luar telapak kaki kita. Makanya muncul lubang-lubang kecil kayak kawah,” katanya.
Bau yang menyertai kondisi tersebut juga berasal dari aktivitas bakteri. Senyawa sulfur yang dihasilkan dalam proses metabolisme bakteri disebut menjadi salah satu sumber aroma tidak sedap pada kaki.
“Baunya sendiri datang dari senyawa sulfur yang diproduksi bakterinya. Jadi wajar aja walau udah rajin mandi, kalo kakinya lembab terus ya bakterinya betah. Ini bakteri, bukan jamur. Banyak yang beli salep antijamur sendiri terus heran kok enggak sembuh-sembuh. Beda penyebab, beda obatnya,” tutur dr. Cecep.
Kebiasaan yang bisa membantu mencegah
Menjaga kaki tetap kering menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi kondisi yang disukai bakteri. Sejumlah kebiasaan sederhana juga disarankan untuk menjaga kebersihan kaki, kaus kaki, dan sepatu.
Pertama, ganti kaus kaki secara berkala dan jangan menunggu sampai muncul bau. Cadangan kaus kaki dapat dibawa saat beraktivitas dan penggantian minimal dua kali sehari, terutama pada siang hari, disarankan dalam sumber tersebut.
Kedua, lakukan rotasi sepatu agar tidak menggunakan pasangan yang sama setiap hari. Sepatu yang telah dipakai sebaiknya diangin-anginkan selama sekitar 24 jam hingga bagian dalamnya benar-benar kering.
Bahan kaus kaki juga perlu diperhatikan. Katun atau wol disebut lebih mampu menyerap keringat dibandingkan bahan sintetis, sementara sepatu dengan sirkulasi udara yang baik dapat membantu menjaga kaki tidak terlalu lembap.
Setelah mandi atau terkena hujan, pastikan kaki dikeringkan dengan baik, termasuk bagian di antara jari-jari. Kaus kaki juga disarankan dicuci menggunakan air panas sekitar 60 derajat Celsius untuk membantu membunuh bakteri yang menempel pada serat kain.
Jika memungkinkan, lepaskan sepatu sejenak ketika berada di rumah atau memiliki waktu jeda saat bekerja. Memberikan kesempatan bagi kaki untuk terkena udara dapat membantu menjaga area tersebut tetap kering.


