Hanung Bramantyo Resmi Berdamai dengan Oknum Militer yang Aniaya Karyawannya di Depan Anak
![]() |
| Hanung Bramantyo menyampaikan proses perdamaian dengan oknum militer yang menganiaya karyawannya. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Hanung Bramantyo resmi berdamai dengan oknum militer yang sebelumnya menganiaya karyawannya di hadapan putrinya, Kala Madali. Proses perdamaian tersebut ditempuh melalui Pengadilan Militer agar penyelesaian perkara tetap berjalan sesuai prosedur hukum.
Hanung mengatakan keputusan berdamai tidak berarti mengabaikan proses hukum yang sedang berlangsung. Menurutnya, jalur hukum tetap diperlukan agar proses pemaafan dilakukan melalui mekanisme yang jelas.
“Apa yang sudah terjadi tidak merugikan satu sama lain sekarang, tetapi menjadi semacam ukhuwah yang baik,” ujar Hanung.
Sutradara film Ayat-Ayat Cinta tersebut menyebut kejadian itu memberikan dampak secara psikologis. Namun, ia memilih menjadikan persoalan tersebut sebagai pembelajaran bagi sang putri mengenai arti memaafkan.
Pemaafan tetap melalui prosedur hukum
Hanung menilai memaafkan seseorang tidak harus dilakukan dengan mengesampingkan aturan hukum yang berlaku. Ia ingin proses tersebut tetap berjalan melalui jalur resmi sehingga kedua pihak memiliki kejelasan secara legal.
“Proses memaafkan harus dilakukan dengan cara yang legal dan sesuai prosedur. Bukan pada saat kejadian terus kita diminta segera minta maaf, bukan begitu. Tetapi kita menempuh jalur hukum yang ada,” ungkapnya.
Menurut Hanung, keluarga Kala telah memberikan maaf kepada pihak terdakwa. Meski demikian, keputusan mengenai kelanjutan perkara dan vonis tetap diserahkan kepada mekanisme hukum yang berlaku di lingkungan militer.
“Kalau ditanya apakah orang tua Kala memaafkan pelaku? Kami bilang kami memaafkan. Terus apakah proses ini akan dilanjutkan atau bebas? Saya akan bilang, sesuai dengan proses hukum saja,” tutur Hanung.
Menghormati proses di Pengadilan Militer
Perdamaian tersebut dilakukan melalui Pengadilan Militer sebagai bagian dari penyelesaian yang ditempuh kedua belah pihak. Hanung menegaskan dirinya tidak ingin mencampuri keputusan akhir yang menjadi kewenangan proses hukum.
Setelah proses mediasi tersebut, Hanung menganggap persoalan yang terjadi telah diselesaikan dengan baik. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada institusi militer yang telah memfasilitasi proses mediasi secara transparan.
Bagi Hanung, penyelesaian perkara ini sekaligus menjadi momentum untuk menunjukkan kepada anaknya bahwa memaafkan dan menghormati proses hukum dapat berjalan secara bersamaan.


