Indonesia Pernah Punya KRI Irian, Kapal Perang Raksasa yang Lebih Besar dari KRI Gajah Mada
![]() |
| KRI Irian merupakan kapal perang kelas penjelajah ringan yang pernah memperkuat Indonesia pada era 1960-an. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Indonesia bersiap memiliki kapal induk pertama, KRI Gajah Mada, yang sebelumnya bernama Giuseppe Garibaldi. Namun, jauh sebelum kapal tersebut menuju Indonesia, TNI AL pernah mengoperasikan kapal perang raksasa bernama KRI Irian.
KRI Irian menjadi salah satu kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Kapal kelas penjelajah ringan itu bahkan disebut pernah menjadi yang terbesar di kawasan Asia dan menjadi bagian dari kekuatan laut Indonesia pada era 1960-an.
KRI Gajah Mada sendiri direncanakan dapat mengoperasikan helikopter dari tiga matra TNI. Kapal tersebut tidak hanya akan membawa helikopter milik TNI AL, tetapi juga helikopter TNI AD dan TNI AU.
"Kami bertekad bahwa kapal induk itu tidak hanya dilengkapi dengan helikopter Angkatan Laut, tapi juga helikopter Angkatan Udara dan Angkatan Darat bisa berada di atas kapal. Namun memang pilot-pilotnya akan kita latih untuk bisa mendarat di kapal induk," kata KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali.
KRI Irian memperkuat armada Indonesia pada era 1960-an
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno atau Bung Karno, Indonesia memiliki kekuatan angkatan laut yang besar dengan berbagai alutsista canggih pada zamannya.
Dikutip dari buku Kapal Selam Indonesia karya Indroyono Soesilo dan Budiman, armada Indonesia saat itu juga diperkuat kapal selam jenis Whiskey Class buatan Uni Soviet, dua kapal induk untuk kapal selam yakni KRI Ratulangi dan KRI Thamrin, dua kapal penangkap torpedo serta satu kapal penyelamat.
Di antara armada tersebut, terdapat KRI Irian yang dibeli dari Uni Soviet pada 1962. Kapal perang kelas light cruiser atau penjelajah ringan itu menjadi kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia.
Pengadaan KRI Irian berkaitan dengan lobi Bung Karno yang mengarahkan perhatian Indonesia ke blok timur. Kehadiran kapal dan armada lainnya turut menjadikan Indonesia memiliki salah satu kekuatan angkatan laut terbesar di Asia Tenggara.
Ukuran dan persenjataan KRI Irian
KRI Irian memiliki bobot 13.600 ton, panjang 210 meter, serta lebar 22 meter. Kapal ini juga dilengkapi perlindungan baja dengan ketebalan berbeda pada sejumlah bagian.
Baja pelindungnya mencapai 100 mm di lambung kapal, 150 mm di menara pengawas, 50 mm di dek, serta 75 mm pada kubah-kubah meriam.
Persenjataan KRI Irian terdiri atas 12 meriam kaliber 152 mm, 12 meriam kaliber 100 mm, dan 32 meriam antipesawat kaliber 37 mm. Kapal tersebut juga memiliki 10 tabung torpedo berkaliber 553 mm untuk menghadapi kapal selam musuh.
Selain persenjataan, KRI Irian dilengkapi 17 radar berbagai jenis dan dua perangkat Watch Dog electronic jamming. Kapal perang buatan Soviet ini memiliki kecepatan maksimal 32,5 knot.
Pernah ditugaskan dalam Operasi Trikora
Sebelum resmi memperkuat ALRI, KRI Irian menjalani uji coba dengan melibatkan sejumlah personel sebagai calon awak kapal pada 5 April 1962.
Setelah proses tersebut selesai, KRI Irian dibawa ke Indonesia dan tiba di Pangkalan ALRI Surabaya pada 5 Agustus 1962.
KRI Irian kemudian sempat ditugaskan dalam upaya merebut Irian Barat yang kini dikenal sebagai Papua melalui Operasi Tri Komando Rakyat atau Trikora.
Kehadiran KRI Irian dalam kekuatan laut Indonesia bahkan disebut membuat kapal induk Belanda, HNLMS Karel Doorman R81, menjadi ciut.


