Jalan Sehat Mlaku Fest di Kota Batu Jadi Sorotan, Aksi Siswa SD Sawer Biduan Bikin Ngelus Dada
![]() |
| Kegiatan jalan sehat Mlaku Fest di Kota Batu yang diikuti ribuan siswa SD diwarnai aksi sejumlah peserta naik ke panggung dan menyawer biduan. (Dok. PEWARTA.co.id/Yan) |
PEWARTA.CO.ID — Jalan sehat Mlaku Fest yang diikuti ribuan siswa SD se-Kecamatan Batu di Kota Batu, Kamis (20/8/2026), menjadi sorotan setelah sejumlah peserta didik naik ke panggung dan memberikan saweran kepada biduan saat sesi hiburan berlangsung.
Kegiatan yang digelar di Rest Area Mayangsari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, tersebut pada awalnya merupakan agenda gerak jalan yang dilanjutkan dengan pengundian hadiah dan hiburan.
Namun, suasana kegiatan berubah ketika beberapa siswa terlihat ikut bergoyang, kemudian naik ke area panggung dan memberikan uang kepada penyanyi perempuan yang tampil dalam acara tersebut.
Peristiwa itu menjadi perhatian karena peserta kegiatan merupakan siswa sekolah dasar dan acara digelar dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan unsur pendidikan.
Dari gerak jalan hingga sesi hiburan
Kegiatan Mlaku Fest digagas oleh Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan diikuti ribuan siswa SD se-Kecamatan Batu.
Sejumlah wali murid juga hadir untuk mendampingi anak-anak mereka selama kegiatan berlangsung.
Dalam klarifikasinya, Ketua K3S Mohammad Mustain, M.Ag menjelaskan bahwa kegiatan utama sebenarnya adalah gerak jalan. Setelah agenda tersebut selesai, acara dilanjutkan dengan pengundian hadiah hiburan yang diselingi penampilan penyanyi lokal.
Penampilan tersebut kemudian menjadi bagian dari situasi yang mengantarkan pada aksi sejumlah siswa naik ke panggung dan menyawer biduan.
Aksi siswa disebut terjadi spontan
K3S menegaskan bahwa aksi menyawer biduan oleh para siswa tersebut bukanlah bagian dari susunan acara yang telah disiapkan panitia.
“Kejadian di luar perencanaan. Tindakan menyawer oleh beberapa siswa SD tersebut terjadi secara spontan, mendadak, dan sama sekali tidak ada dalam rangkaian susunan acara yang direncanakan panitia,” ujar Mustain.
Menurut K3S, tindakan tersebut muncul secara spontan ketika sesi hiburan berlangsung. Pihak penyelenggara kemudian mengakui bahwa kejadian itu menunjukkan adanya kekurangan dalam pengawasan dan pengondisian peserta didik.
“Sebagai panitia, KKGO, BAPOPSI dan K3S, kami mengakui bahwa kejadian spontan tersebut kurang pantas dan kurang etis dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar,” katanya.
Pengakuan tersebut membuat persoalan tidak berhenti pada tindakan beberapa siswa yang berada di atas panggung. Pengawasan terhadap peserta didik selama kegiatan juga menjadi bagian yang perlu dievaluasi.
K3S siapkan evaluasi
K3S menyatakan kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi panitia, kepala sekolah, dan pendidik yang terlibat dalam kegiatan.
“Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi mendalam dan pembelajaran berharga bagi kami beserta seluruh kepala sekolah dan pendidik,” ujar Mustain.
Pihaknya juga berjanji memperketat pengawasan pada kegiatan berikutnya agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ke depan, kami akan memperketat pengawasan serta pengkondisian acara agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” tegasnya.
K3S turut menyatakan komitmen untuk membimbing peserta didik dalam menjaga nilai-nilai etika, baik ketika berada di lingkungan sekolah maupun saat mengikuti kegiatan di luar sekolah.
Wali murid ikut menyayangkan
Kejadian tersebut juga mendapat perhatian dari wali murid yang berada di lokasi. Salah seorang wali murid berinisial Z mengaku prihatin karena menilai aksi menyawer biduan tidak semestinya dilakukan oleh anak sekolah dasar.
"Terus terang saya prihatin sekali, sebab tidak ada pengawasan dari para guru dan pihak panitia pelaksana, saya kuatir moral anak saya menjadi rusak karena aksi tersebut, karena dalam masa pertumbuhan anak di aeah umur serta etika dan moral," ungkapnya.
Ia mengatakan langsung mengajak anaknya pulang setelah melihat kejadian tersebut.
"Saya menilai itu sangat tidak pantas sekali, apalagi sampai berjoget dengan orang dewasa sambil menyawer uang. Seharusnya, di moment kemerdekaan RI ke-81 ini kita harus lebih menghargai bentuk perjuangan para pahlawan terutama bagi generasi penerus bangsa seperti anak saya. Maka dari itu, anak saya langsung saya ajak pulang ke rumah, dan saya sangat menyayangkan sekali," paparnya.
Wali murid tersebut juga menyebut peserta kegiatan membayar Rp5 ribu untuk kupon, yang menurut keterangannya terdiri dari Rp3 ribu untuk gerak jalan dan Rp2 ribu untuk permainan.
Ia berharap pihak Dinas Pendidikan Kota Batu memberikan perhatian terhadap kejadian tersebut serta mengambil langkah yang diperlukan agar peristiwa serupa tidak terulang.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M. Noer Adhim belum memberikan keterangan resmi mengenai tindak lanjut, atensi, maupun kemungkinan sanksi terhadap panitia dan guru terkait kejadian tersebut.


