Kisah Christian Hadinata: Pernah Bermain Tanpa Sepatu, Kini Jadi Legenda Bulu Tangkis Indonesia
![]() |
| Christian Hadinata mengawali perjalanan bulu tangkis tanpa sepatu hingga menjelma menjadi legenda Indonesia berprestasi dunia. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Perjalanan hidup legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata menyimpan cerita inspiratif yang tak banyak diketahui publik. Jauh sebelum menjadi salah satu pebulu tangkis terbaik dunia, ia harus menghadapi keterbatasan ekonomi hingga bermain bulu tangkis tanpa mengenakan alas kaki.
Christian Hadinata lahir di Purwokerto pada 11 Desember 1949 sebagai anak bungsu dari pasangan Timotius Hadinata dan Aer Nio. Sejak kecil, ia dikenal menyukai berbagai aktivitas olahraga.
Awalnya, sepak bola menjadi olahraga yang paling digemarinya. Namun, ketertarikannya kemudian beralih ke bulu tangkis ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Saat itu, ia sering mengikuti pemberitaan mengenai keberhasilan para pebulu tangkis Indonesia menjuarai Piala Thomas. Prestasi tersebut membuatnya yakin bahwa bulu tangkis merupakan cabang olahraga yang mampu mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional.
Meski memiliki semangat besar, kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan tersendiri. Untuk bermain bulu tangkis, ia harus menghadapi keterbatasan perlengkapan, mulai dari raket, kok, senar, hingga sepatu.
Beruntung, Christian memiliki sahabat bernama Wie Wie Kian yang kerap mengajaknya bermain, meminjamkan raket, sekaligus membelikan kok sehingga ia tetap bisa berlatih, meski tanpa sepatu.
“Kalau enggak diajak sama sahabat saya itu maka saya enggak main. Saya main pun tanpa alas kaki karena tidak punya uang untuk membeli sepatu,” cerita Christian, dikutip dari laman resmi PB Djarum, Selasa (4/8/2026).
Perjalanan menuju panggung dunia
Perubahan besar dalam hidup Christian terjadi setelah lulus SMA. Saat berlibur ke Bandung, kakaknya justru memintanya tetap tinggal dan serius menekuni bulu tangkis.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di STO Bandung serta bergabung dengan klub Mutiara Bandung. Dari sana, kariernya berkembang hingga berhasil menjadi juara nasional nomor ganda bersama Atik Jauhari dan mendapatkan kesempatan masuk Pelatnas PBSI.
“Garis tangan pun menentukan lain. Saya enggak boleh pulang sama kakak dan diarah terus bermain bulutangkis di kota Bandung,” tambah Christian.
Perjalanan kariernya kembali berubah ketika Atik Jauhari mengalami cedera mata. Christian kemudian dipasangkan dengan Ade Chandra.
Duet tersebut berhasil mencatat sejarah sebagai pasangan ganda putra Indonesia pertama yang menjuarai All England pada 1972. Saat itu, ganda putra Indonesia belum banyak diperhitungkan di level internasional.
“Kami Satu-satunya ganda putra Indonesia dan dipandang sebelah mata karena bulutangkis Indonesia hanya terkenal tunggal putranya saja. Tetapi kami mampu membuktikan diri sebagai juara,” sambung Christian.
Selain dikenal sebagai spesialis ganda, Christian juga menunjukkan kualitasnya di sektor tunggal. Pada All England 1973, ia berhasil menjadi runner-up setelah dikalahkan Rudy Hartono di partai final.
Sepanjang kariernya, Christian mengoleksi berbagai gelar bergengsi, baik di nomor ganda putra maupun ganda campuran bersama sejumlah pasangan berbeda.
Salah satu pencapaian paling berkesan terjadi pada Kejuaraan Dunia 1980 di Jakarta. Di tengah kekhawatiran menanti kelahiran anaknya, Christian mampu tampil tenang dan sukses meraih dua gelar juara sekaligus.
Tetap mengabdi untuk bulu tangkis Indonesia
Kemampuan Christian beradaptasi dengan berbagai pasangan menjadi salah satu kekuatan utamanya sepanjang karier. Ia dikenal selalu mengutamakan komunikasi dan menyesuaikan pola permainan dengan karakter rekan setimnya.
Pendekatan tersebut membuatnya mampu tampil solid bersama banyak pemain, termasuk Icuk Sugiarto, Ivana Lie, Lius Pongoh, dan sejumlah pebulu tangkis lainnya.
Karier internasional Christian berakhir setelah meraih gelar juara US Open 1988. Setelah meninggalkan Pelatnas, ia melanjutkan kiprahnya bersama PB Djarum sebagai pelatih.
Di klub tersebut, Christian terus mengabdikan diri untuk membina atlet-atlet muda. Ia juga mendirikan pusat pelatihan khusus sektor ganda di Jakarta sebagai upaya mencetak generasi penerus yang mampu melanjutkan prestasi bulu tangkis Indonesia.


