Korban Perang AS-Iran Bertambah, Pentagon Catat 653 Tentara AS Terluka dan 18 Tewas
![]() |
| Pentagon memperbarui data korban perang AS-Iran dengan mencatat 653 tentara AS terluka dan 18 personel tewas dalam konflik. (Dok. AP Photo) |
PEWARTA.CO.ID — Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) kembali memperbarui data korban dalam konflik bersenjata dengan Iran. Berdasarkan pembaruan yang dirilis pada Kamis, 30 Juli 2026, jumlah personel militer AS yang mengalami luka kini bertambah menjadi 653 orang.
Penambahan tersebut berasal dari 11 personel militer yang baru dimasukkan ke dalam basis data korban perang. Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai waktu terjadinya insiden yang menyebabkan mereka terluka.
Dengan demikian, belum dapat dipastikan apakah para personel tersebut mengalami cedera dalam dua hari terakhir atau baru tercatat dalam sistem pelaporan militer.
Selain korban luka yang terus bertambah, data terbaru juga menunjukkan sebanyak 18 tentara Amerika Serikat telah kehilangan nyawa selama konflik berlangsung.
CENTCOM selidiki laporan korban sipil di Iran
Di tengah perkembangan tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengaku telah menerima laporan mengenai meninggalnya seorang balita perempuan berusia dua tahun bersama kedua orang tuanya di Iran.
Militer AS menyatakan informasi tersebut masih dalam tahap penyelidikan untuk memastikan fakta di lapangan.
"Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti pasukan Iran yang telah meluncurkan ribuan rudal dan drone yang menargetkan orang-orang tak berdosa di seluruh Timur Tengah dan menewaskan lebih dari 50.000 warga negara mereka sendiri awal tahun ini," kata juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins dilansir ABC News, Sabtu (1/8/2026).
Iran tuding AS serang kawasan permukiman
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat dengan sengaja menyerang wilayah permukiman warga sipil.
Menurutnya, serangan yang terjadi pada awal pekan ini mengakibatkan tewasnya sepasang suami istri bersama anak mereka yang masih berusia dua tahun.
"Amerika Serikat menodai tangannya dengan kejahatan baru setiap hari; serangan teroris terhadap rumah-rumah penduduk sipil di Pulau Qeshm merupakan kelanjutan dari kekejaman di Minab dan Lamerd," kata Ghalibaf dalam sebuah pernyataan.
Ghalibaf juga mengeklaim Washington melampiaskan kekalahan di medan tempur dengan menyerang masyarakat sipil.
"Orang Amerika sudah terbiasa menebus tamparan yang mereka terima di medan perang dengan menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah. Mereka akan membayar harganya," tegasnya.


