Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mahasiswa Undip Raih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026, Esai Rumput Laut Dapat Nilai 97

Mahasiswa Undip juara 1 nasional Pekan Saintek 2026 lewat esai rumput laut SEAGRIVA dengan nilai naskah 97 dan presentasi tertinggi.

mahasiswa undip juara 1 nasional pekan saintek 2026 esai rumput laut
Mahasiswa Undip meraih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026 melalui gagasan hilirisasi rumput laut SEAGRIVA. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Dua mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) mencatat prestasi nasional setelah menjadi Juara 1 Lomba Esai Pekan Saintek 2026 yang digelar UKM Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Prestasi tersebut diraih Rafa Tamlikha Efendi dari S1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip angkatan 2025 bersama Bayu Saputra dari S1 Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip angkatan 2024.

Keduanya mengusung SEAGRIVA, sebuah gagasan mengenai ekosistem hilirisasi rumput laut yang dirancang untuk mendorong penguatan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

Raih nilai 97 pada penilaian naskah

Keunggulan SEAGRIVA terlihat sejak tahap penilaian karya. Esai tersebut memperoleh skor 97 dari total 100 poin, sekaligus menjadi nilai tertinggi dibandingkan seluruh karya yang mengikuti kompetisi.

Penilaian tersebut mencakup skor penuh 25/25 untuk orisinalitas, 20/20 untuk substansi dan relevansi, 27/30 untuk ketajaman analisis, 15/15 untuk ide aplikatif, serta 10/10 dalam kaidah bahasa.

Performa tim Undip kembali menjadi yang tertinggi saat memasuki babak final. Presentasi SEAGRIVA mendapatkan nilai 80 dan menghasilkan nilai akhir 86,8 sehingga menempatkan Rafa dan Bayu di posisi pertama nasional.

Sementara itu, peserta yang berada di peringkat kedua mencatat nilai akhir 80,6.

Penentuan pemenang sendiri tidak hanya didasarkan pada kualitas esai. Sesuai ketentuan kompetisi, nilai akhir dihitung dari gabungan 40 persen nilai naskah dan 60 persen nilai presentasi.

Sebanyak 10 karya terbaik kemudian berhak maju ke babak final. Masing-masing finalis mendapat waktu 10 menit untuk mempresentasikan gagasan dan tujuh menit untuk menjalani sesi tanya jawab.

Tim Undip mengikuti final secara daring pada 17 Juli 2026. Setelah berhasil masuk tiga besar, hasil akhir kompetisi diumumkan dalam rangkaian penganugerahan pada 25 Juli 2026.

Pekan Saintek 2026 mengangkat tema “Mengakselerasi Riset Berbasis Teknologi Menuju Transformasi Digital” dengan cakupan bidang sains, teknologi terapan, inovasi, dan masa depan.

Berangkat dari persoalan hilirisasi rumput laut

SEAGRIVA berawal dari persoalan mengenai besarnya produksi rumput laut Indonesia yang belum sepenuhnya diikuti dengan optimalisasi nilai tambah di dalam negeri.

Dalam kajian yang dibuat tim, data BPS mencatat produksi rumput laut Indonesia pada 2022 mencapai sekitar 9,28 juta ton dengan nilai Rp40,85 triliun.

Namun, sekitar 66,5 persen produksi tersebut masih dikirim ke luar negeri dalam bentuk bahan mentah. Sementara itu, penyerapan oleh industri domestik disebut hanya berada di kisaran 19 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan sekadar meningkatkan produksi rumput laut. Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana nilai ekonomi dari komoditas tersebut dapat lebih banyak dinikmati setelah berada dalam rantai pengolahan.

Tim kemudian menjadikan Jepara, Jawa Tengah, sebagai lokasi kajian awal. Produksi rumput laut di Kecamatan Mlonggo dan Bangsri tercatat sekitar 2.660 ton per tahun.

Temuan lapangan yang menjadi bagian dari kajian juga menunjukkan masih adanya petani yang bergantung pada pola perdagangan konvensional. Salah satu kendalanya berkaitan dengan keterbatasan fasilitas pengolahan serta akses terhadap proses hilirisasi di tingkat lokal.

Atas persoalan itu, SEAGRIVA tidak dirancang sebagai satu jenis produk tertentu. Gagasan tersebut lebih diarahkan menjadi model kawasan hilirisasi yang menghubungkan petani, pengolahan, data mutu, pasar, informasi ekonomi, dan pengelolaan karbon dalam satu rantai nilai yang lebih terintegrasi.

Jepara dipilih sebagai wilayah percontohan karena memiliki potensi budidaya pesisir sekaligus dinilai relevan dengan arah hilirisasi dalam RPJMN 2025-2029.

Akuntansi digunakan sejak proses pengambilan keputusan

Salah satu aspek yang membedakan SEAGRIVA adalah penggunaan perspektif akuntansi sejak awal proses, bukan hanya ketika produk telah selesai dan hasil keuangan perlu dihitung.

Dalam konsep tersebut, data mengenai mutu dan proses dihubungkan dengan biaya, nilai tambah, margin, emisi, hingga kesiapan pasar.

Dengan pendekatan ini, keputusan untuk melakukan hilirisasi tidak otomatis didasarkan pada anggapan bahwa pengolahan bahan mentah selalu menghasilkan keuntungan lebih besar. Setiap pilihan tetap perlu mempertimbangkan nilai ekonomi sekaligus dampaknya.

Konsep tersebut juga diterapkan ketika membahas karbon biru. SEAGRIVA tidak langsung menganggap kemampuan penyerapan karbon sebagai kredit karbon yang sudah dapat diperdagangkan.

Pencatatan karbon ditempatkan lebih dulu dalam tahap pra-MRV atau measurement, reporting, and verification. Artinya, data dan batas klaim perlu disiapkan sebelum masuk ke mekanisme yang lebih formal.

Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk menghindari klaim lingkungan yang berlebihan atau praktik greenwashing.

“Bagi kami, keberlanjutan harus bisa dipertanggungjawabkan dengan data. Akuntansi berperan bukan hanya menghitung hasil akhirnya, tetapi membantu membaca biaya, nilai yang tercipta, dampak lingkungan, sampai batas klaim yang memang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, inovasi tidak berhenti sebagai gagasan yang menarik, tetapi memiliki dasar keputusan yang lebih terukur,” kata Rafa.

Kimia dan Akuntansi dipadukan

Jika Akuntansi digunakan untuk melihat penciptaan nilai sekaligus mengukur dampak, ilmu Kimia berperan dalam memahami kemungkinan pemanfaatan biomassa rumput laut untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Dua disiplin tersebut kemudian dipadukan untuk melihat persoalan hilirisasi dari sisi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Di satu sisi, ilmu pengetahuan digunakan untuk menemukan peluang pemanfaatan komoditas. Di sisi lain, setiap alternatif pengembangan perlu diuji berdasarkan kelayakan ekonomi, dampak, dan aspek keberlanjutannya.

“Kami mencoba agar sains tidak berhenti di laboratorium. Potensi material rumput laut perlu dipertemukan dengan kebutuhan industri, kondisi petani, dan sistem yang memungkinkan hasil riset benar-benar memiliki jalur menuju penerapan. Kolaborasi dengan akuntansi membuat aspek tersebut dapat dilihat dengan lebih utuh,” kata Bayu.

SEAGRIVA memiliki roadmap hingga 2030

Gagasan yang dibawa dua mahasiswa Undip tersebut juga dilengkapi dengan peta jalan implementasi hingga 2030.

Tahap awal diarahkan untuk memvalidasi kondisi lapangan sekaligus membangun data dasar. Setelah itu, pengembangan berlanjut pada penguatan sistem mutu dan keterlacakan, pengujian hilirisasi, integrasi informasi ekonomi serta karbon, hingga pengembangan kemitraan dan kemungkinan penerapan model di kawasan pesisir lainnya.

Tim tidak menempatkan SEAGRIVA sebagai konsep yang seluruh elemennya harus berjalan dalam waktu bersamaan. Setiap fase memiliki ukuran keberhasilan tersendiri.

Indikator tersebut antara lain mencakup ketersediaan data produksi dan mutu, peningkatan akses pasar, terbentuknya kelembagaan lokal yang dapat mengelola kawasan, serta semakin siapnya informasi terkait karbon.

Dalam jangka menengah, model tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan konsistensi mutu, memperkuat posisi tawar petani, memperluas akses pasar, dan mendorong keputusan produksi yang semakin bertumpu pada data.

Sementara dalam jangka panjang, SEAGRIVA diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir sekaligus membuka peluang penerapan model hilirisasi serupa di daerah penghasil rumput laut lainnya.

Menggabungkan hilirisasi, digitalisasi, dan karbon

Kebaruan SEAGRIVA berada pada upayanya menyatukan tiga isu yang selama ini sering dibahas secara terpisah, yakni hilirisasi komoditas, transformasi digital, dan pengukuran karbon.

Melalui pendekatan tersebut, rumput laut tidak hanya dinilai dari jumlah produksi atau hasil panennya. Mutu, nilai ekonomi, informasi proses, dampak lingkungan, serta manfaat hilirisasi bagi masyarakat pesisir juga menjadi bagian dari rantai nilai yang diperhitungkan.

Bagi Rafa dan Bayu, keberhasilan menjadi Juara 1 Nasional menjadi validasi awal terhadap pendekatan lintas disiplin yang mereka tawarkan.

Nilai tertinggi pada tahap naskah dan presentasi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi bidang Akuntansi dan Kimia dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang lebih luas.

Mulai dari hilirisasi sumber daya, ekonomi biru, tata kelola keberlanjutan, hingga pengambilan keputusan berbasis data, seluruh aspek tersebut menjadi bagian dari gagasan SEAGRIVA yang membawa dua mahasiswa Undip meraih posisi teratas di Pekan Saintek 2026.

Pilihan Redaksi:
SHARE: Tersalin 👍
Redaksi Pewarta.co.id
Redaksi Pewarta.co.id
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Mahasiswa Undip Raih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026, Esai Rumput Laut Dapat Nilai 97
  • Mahasiswa Undip Raih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026, Esai Rumput Laut Dapat Nilai 97
  • Mahasiswa Undip Raih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026, Esai Rumput Laut Dapat Nilai 97
  • Mahasiswa Undip Raih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026, Esai Rumput Laut Dapat Nilai 97
  • Mahasiswa Undip Raih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026, Esai Rumput Laut Dapat Nilai 97
  • Mahasiswa Undip Raih Juara 1 Nasional Pekan Saintek 2026, Esai Rumput Laut Dapat Nilai 97