Minyak Jelantah Bisa Jadi Cuan Rp8.000 per Liter, Jangan Lagi Dibuang ke Selokan Setelah Masak
![]() |
| Minyak jelantah rumah tangga dapat dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul dan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah dapur ternyata memiliki nilai ekonomi. Minyak goreng bekas dari rumah tangga disebut dapat dibeli pengepul dengan harga hingga Rp8.000 per liter, sekaligus berpotensi menjadi bahan baku industri.
Praktisi bisnis lingkungan sekaligus influencer, Bang Sap, mengingatkan masyarakat agar tidak lagi membuang minyak jelantah ke selokan maupun tanah. Menurut dia, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan persoalan lingkungan dan mengganggu saluran pembuangan.
“Minyak jelantah itu bukan cuma kotoran dapur yang harus disingkirkan. Dia punya dua sisi. Bisa jadi bencana kalau dibuang sembarangan, atau bisa jadi rezeki kalau dikelola dengan benar,” ujar Bang Sap dalam unggahan video di akun Instagramnya, dikutip Kamis (20/8/2026).
Dampak minyak jelantah bagi lingkungan
Minyak goreng bekas tidak memiliki karakter seperti air yang dapat langsung mengalir dan meresap ketika dibuang. Bang Sap menjelaskan, minyak jelantah dapat mengendap dan mengeras sehingga berpotensi menyumbat saluran pembuangan.
“Coba bayangin, minyak jelantah itu kayak selimut tebal yang nutupin permukaan air. Begitu masuk ke got atau tanah, dia enggak larut kayak air biasa. Dia mengendap, mengeras, dan menyumbat pipa rumahmu. Efeknya, air jadi susah mengalir, banjir kecil muncul di gang-gang perumahan, dan tanah di sekitarnya jadi keras, enggak bisa ngerap air lagi,” ucapnya.
Karena itu, membuang minyak jelantah secara sembarangan bukan sekadar persoalan kebersihan dapur. Limbah tersebut dapat memberikan dampak terhadap saluran air dan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Bang Sap juga menyebut data Kementerian Lingkungan Hidup yang menyatakan satu liter minyak jelantah yang terbuang bebas berpotensi mencemari hingga 1.000 liter air tanah.
Minyak jelantah punya nilai ekonomi
Di balik persoalan lingkungan tersebut, minyak jelantah mulai memiliki nilai sebagai komoditas yang dibutuhkan industri. Bang Sap menyebut pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memperketat regulasi ekspor minyak jelantah sejak awal 2025 seiring meningkatnya kebutuhan minyak tersebut sebagai bahan baku biodiesel nasional B50.
“Sesuai data resmi Kementerian Lingkungan Hidup, 1 liter minyak jelantah bisa mencemari sampai 1.000 liter air tanah. Tapi di sisi lain, sejak awal 2025, Pemerintah justru memperketat ekspor minyak jelantah lewat aturan Kementerian Perdagangan. Alasannya, minyak ini sekarang jadi bahan baku penting buat program biodiesel nasional yang tahun ini naik jadi B50,” papar Bang Sap.
Meningkatnya kebutuhan tersebut membuka peluang bagi rumah tangga untuk mendapatkan nilai ekonomi dari minyak goreng bekas yang sebelumnya hanya dibuang.
Menurut Bang Sap, pengepul bahkan sudah ada yang bersedia membeli minyak jelantah rumah tangga secara tunai dengan harga hingga Rp8.000 per liter.
“Saking berharganya, sekarang ada pengepul yang berani bayar tunai sampai Rp8.000 per liter buat minyak jelantah rumah tangga,” tuturnya.
Cara memanfaatkan minyak jelantah dari rumah
Daripada langsung membuangnya, minyak goreng bekas dapat dikumpulkan terlebih dahulu setelah digunakan. Limbah tersebut kemudian dapat disimpan hingga jumlahnya cukup untuk diserahkan kepada pengepul yang memang menerima minyak jelantah rumah tangga.
Langkah tersebut membuat limbah dapur memiliki nilai guna sekaligus mengurangi kebiasaan membuang minyak ke saluran pembuangan. Namun, sumber tidak merinci tata cara penyimpanan atau standar kualitas minyak jelantah yang diterapkan masing-masing pengepul.
Bang Sap menilai peluang tersebut masih sering terlewatkan oleh masyarakat, khususnya rumah tangga yang terbiasa membuang minyak bekas setelah digunakan.
“Ironisnya, banyak ibu-ibu yang masih buang sembarangan, sementara pengepul di luar sana nunggu buat beli. Sayang banget kalau minyak jelantah yang bisa jadi cuan malah kita donasikan gratis ke selokan,” kata Bang Sap.
Limbah dapur yang bernilai jika dikelola
Minyak jelantah pada dasarnya memiliki dua persoalan yang berjalan bersamaan. Ketika dibuang sembarangan, limbah tersebut berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, sedangkan jika dikumpulkan dan disalurkan melalui pengepul, minyak bekas tersebut dapat memberikan nilai ekonomi bagi rumah tangga.
Potensi tersebut menjadi alasan masyarakat perlu mengubah kebiasaan dalam memperlakukan minyak goreng bekas. Alih-alih masuk ke selokan atau tanah, minyak jelantah dapat dikumpulkan untuk kemudian dimanfaatkan melalui jalur pengelolaan yang tersedia.
Dengan begitu, limbah dapur tidak langsung menjadi beban lingkungan dan masih dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pemiliknya.


