PTPN I Perkuat Transformasi Perkebunan untuk Dukung Kedaulatan Pangan Nasional
![]() |
| PTPN I menegaskan komitmennya memperkuat kedaulatan pangan nasional melalui transformasi bisnis, modernisasi perkebunan, dan hilirisasi komoditas strategis. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional melalui transformasi bisnis, modernisasi sektor perkebunan, hingga pengembangan hilirisasi komoditas strategis. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung program pembangunan nasional di bidang pangan.
Komitmen itu disampaikan dalam kegiatan Syukuran, Doa Bersama Swasembada Pangan Indonesia, sekaligus peluncuran buku Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara karya Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
PTPN I dinilai memiliki peran strategis
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Rivai Ras menjelaskan bahwa PTPN I menempati posisi penting karena bergerak di sektor agro yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan Indonesia.
Selain berkontribusi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, perusahaan juga disebut memiliki peran dalam membuka akses pembangunan di berbagai wilayah serta menjadi pusat pengembangan teknologi dan inovasi di sektor perkebunan.
"Program Asta Cita Presiden Prabowo sangat relevan dengan tugas PTPN I dalam mendukung ketahanan pangan. Bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tidak akan benar-benar merdeka," kata Abdul Rivai Ras.
Produksi pangan nasional meningkat
Abdul Rivai Ras mengungkapkan, berdasarkan data pemerintah, produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,71 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, produksi padi tercatat mencapai 71,95 juta ton gabah kering panen (GKP). Dengan surplus beras sekitar 3,52 juta ton, Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi selama 2025. Ia juga menyebut cadangan beras pemerintah berada pada level tertinggi dalam sejarah modern Indonesia.
Selain beras, Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada delapan komoditas strategis, yakni beras, jagung pakan, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Menurut Abdul Rivai Ras, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, petani, BUMN, akademisi, pelaku usaha, TNI, Polri, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Transformasi bisnis terus dipercepat
Ia menilai keberhasilan swasembada pangan perlu menjadi dasar untuk membangun sistem pangan nasional yang semakin kuat dan berkelanjutan.
Dalam upaya tersebut, sektor perkebunan dinilai memiliki kontribusi penting melalui peningkatan produktivitas, pengembangan bibit unggul, penguatan industri hilir, serta kemitraan dengan petani.
PTPN I, lanjutnya, akan terus mempercepat transformasi bisnis dengan melakukan modernisasi perkebunan, digitalisasi operasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan hilirisasi berbasis bioenergi.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kontribusi perusahaan terhadap ketahanan pangan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Ketahanan pangan menjadi bagian dari ketahanan negara
Abdul Rivai Ras juga menyoroti berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok internasional yang semakin menegaskan pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari ketahanan negara.
Ia menambahkan, keberhasilan swasembada pangan menjadi fondasi penting dalam mendukung berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memerlukan ketersediaan bahan pangan secara berkelanjutan.
Acara syukuran dan peluncuran buku tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri sejumlah tokoh nasional. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan diskusi mengenai keterkaitan pangan dan pertahanan negara, pemberian santunan kepada anak yatim, serta tausiah yang disampaikan Ustaz Das'ad Latif.


