Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement

Target Indonesia di Asian Games 2026 Turun Jadi 4 Emas, Erick Thohir Ungkap Penyebabnya

Target Indonesia di Asian Games 2026 menjadi 4 emas. Erick Thohir menjelaskan penyebab perubahan target dan strategi pembinaan atlet.

target indonesia asian games 2026 empat medali emas erick thohir
Erick Thohir menjelaskan alasan target Indonesia di Asian Games 2026 disesuaikan menjadi empat medali emas di tengah efisiensi anggaran. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Target perolehan medali emas Indonesia pada Asian Games 2026 resmi disesuaikan menjadi empat keping. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, menyebut angka tersebut merupakan sasaran paling realistis dengan mempertimbangkan perubahan nomor pertandingan serta kondisi anggaran yang tersedia.

Sebelumnya, Indonesia diproyeksikan mampu mengulang raihan tujuh medali emas. Namun, sejumlah faktor membuat target tersebut harus dievaluasi kembali menjelang pesta olahraga Asia yang akan berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang.

Perubahan nomor pertandingan memengaruhi target

Erick menjelaskan bahwa penyesuaian target tidak hanya dipengaruhi oleh efisiensi anggaran, tetapi juga perubahan cabang yang dipertandingkan pada Asian Games 2026.

Dari total tujuh medali emas yang diraih Indonesia pada edisi sebelumnya, tiga di antaranya berasal dari nomor yang dipastikan tidak lagi masuk dalam daftar pertandingan.

“Saya sudah sampaikan target realistis kami saat ini adalah empat medali emas, bukan tujuh. Dari tujuh emas sebelumnya memang ada tiga nomor yang kini tidak dipertandingkan," ungkap Erick di Kantor Kemenpora RI, Jakarta, Jumat 31 Juli 2026.

Meski demikian, ia tetap berharap sejumlah cabang olahraga mampu memberikan hasil terbaik, termasuk bulu tangkis yang kembali diharapkan menjadi penyumbang medali emas.

“Kalau bisa bulu tangkis juga menyumbang emas, tentu semua kami harapkan memberikan medali," tegas Erick.

Pembinaan atlet tetap menjadi prioritas

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, Kemenpora memilih memusatkan pembinaan kepada atlet yang masuk kategori prioritas agar peluang meraih prestasi tetap terjaga.

Namun, Erick mengingatkan bahwa atlet yang masih berada dalam kategori menuju prioritas juga harus tetap mendapatkan pembinaan sebagai bagian dari proses regenerasi.

"Dengan kondisi efisiensi anggaran saat ini, kami benar-benar memprioritaskan atlet yang sudah masuk kategori utama. Padahal dalam olahraga ada atlet prioritas dan atlet menuju prioritas,” terang Erick.

Ia menilai pembinaan atlet lapis kedua tidak boleh terhenti karena mereka akan menjadi penerus ketika atlet utama memasuki masa pensiun.

“Atlet menuju prioritas tidak boleh berhenti dibina karena nantinya atlet prioritas akan pensiun. Itulah mengapa saya mengusulkan anggaran Pelatnas bersifat multiyears agar persiapan menuju Olimpiade 2032 bisa dilakukan sejak sekarang," tegas pria yang juga Ketua Umum PSSI itu.

Anggaran Kemenpora menurun

Erick juga memaparkan kondisi anggaran Kemenpora yang mengalami penurunan dibandingkan rata-rata alokasi dalam kurun sekitar 10 tahun terakhir.

Menurutnya, anggaran tahun 2026 hanya sekitar Rp1,15 triliun, bahkan lebih rendah dibandingkan masa pandemi. Selain itu, sebagian dana masih berstatus diblokir, termasuk anggaran perjalanan dinas yang dibutuhkan atlet dan pelatih.

“Selama sekira 10 tahun, rata-rata anggaran Kemenpora mencapai Rp2,6 triliun. Tahun ini anggaran yang diberikan sekitar Rp1,15 triliun, bahkan lebih rendah dibanding masa pandemi yang mencapai Rp1,2 triliun,” aku Erick.

“Dari Rp1,15 triliun itu masih ada sekira Rp270 miliar yang diblokir. Salah satunya untuk perjalanan dinas. Tapi saya sudah sampaikan perjalanan dinas tersebut bukan untuk saya, melainkan untuk atlet dan pelatih," papar mantan Presiden Inter Milan itu.

Ia menambahkan, pembiayaan program Pelatnas kini dilakukan secara rinci berdasarkan identitas dan kuota atlet yang masuk kategori prioritas. Pemerintah pun masih menunggu tambahan anggaran untuk mendukung pembinaan atlet muda, persiapan SEA Games, hingga Olimpiade.

"Presiden (Prabowo Subianto) sudah meminta hal tersebut. Alhamdulillah, Menteri Keuangan melalui jajaran Direktorat Jenderal menyampaikan dalam 1-2 minggu ke depan mudah-mudahan ada kabar baik," lanjut Erick.

Peran sponsor tetap dibutuhkan

Selain menyiapkan atlet, Kemenpora terus berkoordinasi dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta Chief de Mission (CdM) Asian Games 2026, Todotua Pasaribu, yang telah melakukan peninjauan langsung.

Terkait dukungan sektor swasta, Erick mengatakan peluang kerja sama dengan sponsor tetap terbuka lebar, terutama untuk penyelenggaraan kejuaraan nasional maupun internasional.

Sementara itu, untuk kebutuhan Pelatnas yang menggunakan anggaran negara, keterlibatan sponsor lebih diarahkan pada penyediaan perlengkapan dan peralatan olahraga.

“Untuk kejuaraan nasional, Asia, atau dunia, sponsorship lebih fleksibel. Tetapi untuk Pelatnas, karena menggunakan anggaran pemerintah, pengaturannya lebih kompleks. Sponsor masih bisa membantu dari sisi peralatan olahraga," pungkas Erick.

Pilihan Redaksi:
BAGIKAN: Tersalin 👍
Redaksi Pewarta.co.id
Redaksi Pewarta.co.id
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Target Indonesia di Asian Games 2026 Turun Jadi 4 Emas, Erick Thohir Ungkap Penyebabnya
  • Target Indonesia di Asian Games 2026 Turun Jadi 4 Emas, Erick Thohir Ungkap Penyebabnya
  • Target Indonesia di Asian Games 2026 Turun Jadi 4 Emas, Erick Thohir Ungkap Penyebabnya
  • Target Indonesia di Asian Games 2026 Turun Jadi 4 Emas, Erick Thohir Ungkap Penyebabnya
  • Target Indonesia di Asian Games 2026 Turun Jadi 4 Emas, Erick Thohir Ungkap Penyebabnya
  • Target Indonesia di Asian Games 2026 Turun Jadi 4 Emas, Erick Thohir Ungkap Penyebabnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement