Delegasi GAMKI Bawa Produk UMKM Indonesia ke Maritime Silk Road Youth Exchange Camp di China
![]() |
| Delegasi GAMKI mengikuti The 4th Maritime Silk Road Youth Exchange Camp di Fuzhou, Fujian, China, dengan membawa produk UMKM Indonesia. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Sebanyak 19 anggota Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mengikuti The 4th Maritime Silk Road Youth Exchange Camp di Fuzhou, Fujian, China. Delegasi yang berasal dari Sumatera Utara, Maluku, dan Papua Selatan itu juga membawa sejumlah produk UMKM Indonesia untuk diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan.
Ketua Umum DPP GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat mengatakan delegasi tergabung dalam Youth Economic Fellowship Indonesia (YEFI). Produk yang dibawa antara lain kain tenun dari berbagai daerah Nusantara, olahan vanili, kapulaga, dan durian.
"Delegasi GAMKI yang tergabung dalam Youth Economic Fellowship Indonesia (YEFI), ini membawa produk UMKM masing-masing, antara lain kain tenun dari berbagai daerah Nusantara, olahan vanilli, kapulaga, durian, dan lainnya,’’ ujar Sahat, Minggu (12/9/2026).
Menurut Sahat, keikutsertaan dalam program tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membuka peluang dan jejaring bisnis bagi para peserta.
"Kunjungan ini menjadi pengalaman berharga untuk membuka wawasan, pengalaman, serta peluang dan relasi bisnis ke depan," lanjut Sahat.
Fujian jadi ruang belajar bisnis dan diaspora
Sahat menjelaskan Provinsi Fujian, yang memiliki dua kota utama Fuzhou dan Fuqing, merupakan salah satu pusat perdagangan dan investasi penting di kawasan Tiongkok Tenggara. Wilayah tersebut juga memiliki hubungan kerja sama yang erat dengan Indonesia.
Selama berada di Fujian, delegasi melihat kedekatan diaspora asal Fujian dengan daerah leluhurnya. Menurut Sahat, perhatian tersebut antara lain terlihat dari kontribusi para perantau yang berhasil membangun usaha di Indonesia.
“Selama di Fujian ini kami juga melihat bagaimana para diaspora asal Fujian dari berbagai negara sangat hormat dan memperhatikan kampung halamannya,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah pengusaha asal Fujian yang sukses di Indonesia dan pada 1990-an disebut ikut berinvestasi di tanah leluhur mereka, seperti Liem Sioe Liong, Tahir, Djohar Sutanto, dan The Ning King.
Pelajaran kewirausahaan dari Fuzhou
Guru Besar Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Fransina Latumahina menilai perjalanan ke Fuzhou memberikan pengalaman baru bagi dirinya sebagai akademisi sekaligus entrepreneur.
Fransina mengatakan keberhasilan para pengusaha di China memberinya pelajaran mengenai kegigihan dalam menjalankan usaha dan pentingnya integritas untuk terus berkembang.
"Saya belajar banyak tentang kegigihan usaha, tentang integritas diri untuk maju dan berkembang dari keberhasilan pengusaha di China,’’ ujarnya.
Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi motivasi untuk mengembangkan usaha di bidang fashion dan wastra yang sedang digelutinya di Maluku.
"Pelajaran ini menjadi motivasi tersendiri untuk mengembangkan diri menjadi pengusaha yang andal khususnya dibidang fashion dan wastra yang sedang saya geluti di Maluku," tandasnya.
Tata kota dan kepedulian terhadap sejarah
Pembelajaran lain datang dari aspek tata kelola kota. Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan GAMKI Andar Saragih menyoroti pengaturan ruang jalan di dua kota yang dikunjungi selama perjalanan sepekan di China.
Menurut Andar, ruang untuk pejalan kaki dan pesepeda terlihat lebih luas dibandingkan ruang yang digunakan kendaraan bermotor. Kondisi tersebut dinilai menjadi hal yang dapat dipelajari dalam pengelolaan kota.
“Kita wajib belajar dari tata kelola jalannya. Nampak sekali ruang untuk pejalan kaki dan pesepeda dibuat lebih luas dibandingkan kendaraan bermotor,” kata dia.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara itu juga menilai pola tersebut mendorong masyarakat lebih aktif berjalan dan berolahraga.
Selain tata ruang, Andar mencatat perhatian warga Tiongkok terhadap sejarah. Menurutnya, berbagai peninggalan dan perjalanan sejarah didokumentasikan dengan baik sehingga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
”Terutama juga karena menghirup udara bersih yang rendah polusi. Hal penting lain, warga Tiongkok ternyata sangat menghargai sejarah dengan mendokumentasikan semuanya dengan baik. Wajar mereka menjadi pintar dan termasuk bangsa papan atas di dunia saat ini,” pungkasnya.
