Mengenal Desa Wisata Pentingsari Yogyakarta dan Daya Tarik Wisata Berbasis Masyarakat
![]() |
| Suasana Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta. (Dok. Istimewa) |
PEWARTA.CO.ID — Desa Wisata Pentingsari Yogyakarta menawarkan cara menikmati kawasan lereng Gunung Merapi yang berbeda dari wisata berbasis objek tunggal. Pengunjung datang untuk menjalani pengalaman pedesaan melalui pertanian, kesenian, homestay, kuliner, lingkungan, hingga aktivitas yang melibatkan warga setempat secara langsung.
Pentingsari berada di Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya sekitar 22,5 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan berada di ketinggian kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut.
Konsep tersebut membuat Pentingsari menarik bagi wisatawan yang ingin memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan pariwisata berbasis masyarakat. Di sini, warga bukan sekadar penerima tamu, tetapi menjadi bagian dari pengelola sekaligus pelaku berbagai aktivitas wisata.
Dari desa dengan keterbatasan menjadi desa wisata
Perubahan Pentingsari tidak berlangsung dalam waktu singkat. Pedoman Desa Wisata dari Kementerian Pariwisata mencatat bahwa pada dekade 1990-an Pentingsari masih termasuk wilayah yang kondisi ekonominya relatif rendah dibandingkan sejumlah permukiman lain di lereng Merapi.
Kondisi lahan yang relatif kurang subur, akses yang kala itu belum mudah, serta keterbatasan sumber penghasilan membuat masyarakat menghadapi persoalan ekonomi yang cukup besar. Namun, kehidupan agraris dan tradisi yang telah dimiliki warga kemudian justru menjadi modal ketika gagasan desa wisata mulai dikembangkan.
Pengembangan Desa Wisata Pentingsari dimulai pada 2008. Indonesia Travel mencatat bahwa sejak saat itu alam, budaya, pertanian, dan kearifan lokal ditempatkan sebagai bagian utama dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
Pendekatan tersebut sejak awal berbeda dari konsep pembangunan destinasi yang bergantung pada pembangunan atraksi buatan dalam skala besar. Yang ditawarkan adalah kehidupan desa itu sendiri.
Warga menjadi bagian dari produk wisata
![]() |
| Masyarakat Desa Pentingsari menjadi bagian dari daya tarik wisata. (Dok. Istimewa) |
Istilah wisata berbasis masyarakat atau community-based tourism menjadi penting untuk memahami Pentingsari.
Dalam model ini, masyarakat lokal mengambil peran dalam pengelolaan dan memperoleh manfaat dari aktivitas pariwisata. Dinas Pariwisata DIY menyebut pengelolaan Pentingsari melibatkan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis, termasuk dalam proses perencanaan hingga evaluasi kegiatan.
Bentuknya dapat dilihat dari rumah warga yang digunakan sebagai homestay. Petani juga dapat terlibat dalam kegiatan pertanian, sementara pemuda berperan sebagai pemandu dan kelompok masyarakat lainnya menjalankan kegiatan budaya, kuliner, serta usaha pendukung wisata.
Model tersebut membuat uang yang dibelanjakan wisatawan memiliki jalur lebih panjang di dalam desa. Belanja untuk tempat menginap, makanan, aktivitas, pemandu, kerajinan, dan produk lokal dapat melibatkan pelaku ekonomi yang berbeda.
Dihimpun dari ANTARA, pada 2024 menunjukkan Pentingsari telah memiliki sekitar 80 homestay, tujuh UMKM yang terintegrasi dengan kegiatan desa wisata, serta sekitar 200 orang dalam tim lapangan yang berasal dari warga sekitar. Pada tahun yang sama, jumlah kunjungan tercatat lebih dari 29.000 wisatawan.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa kegiatan wisata di Pentingsari telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi, bukan sekadar aktivitas tambahan bagi masyarakat.
Daya tarik alam tetap menjadi bagian penting
Walaupun konsep utamanya berbasis masyarakat, lingkungan alam Pentingsari tetap menjadi fondasi pengalaman wisata. Letaknya di lereng Gunung Merapi membuat desa ini memiliki lanskap pedesaan yang sejuk dengan area pertanian, perkebunan, sungai, serta jalur yang dapat dieksplorasi dengan berjalan kaki.
Dinas Pariwisata DIY menyebut wisatawan dapat mengikuti aktivitas trekking dan berkeliling desa untuk menikmati lingkungan sekitar. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa alam di Pentingsari tidak diposisikan hanya sebagai latar belakang untuk berfoto.
Kehidupan alam dan pertanian justru disatukan dalam satu pengalaman. Wisatawan dapat melihat bagaimana lahan yang sehari-hari digunakan warga tetap berfungsi sebagai ruang produksi sekaligus ruang pembelajaran.
Konsep seperti ini memberi dimensi lain pada wisata pedesaan. Pengunjung tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga dapat mengenal proses dan pekerjaan yang biasanya tidak ditemukan dalam perjalanan wisata perkotaan.
Belajar bertani langsung dari masyarakat
Pertanian merupakan salah satu aktivitas yang paling kuat menggambarkan karakter Pentingsari. Wisatawan dapat mengikuti kegiatan seperti berkebun, bertani, menanam, memetik hasil pertanian, hingga membajak sawah.
Aktivitas tersebut menjadikan sawah dan kebun sebagai ruang belajar terbuka. Anak-anak, keluarga, maupun rombongan pelajar dapat melihat secara langsung bagaimana pekerjaan pertanian dilakukan, bukan hanya mengenalnya dari buku atau materi pembelajaran.
Pedoman Desa Wisata Kementerian Pariwisata juga menempatkan atraksi pertanian sebagai bagian dari produk wisata Pentingsari. Dalam dokumen tersebut, atraksi desa mencakup seni budaya, pertanian, petualangan, outbound, camping, hingga volcano tour Merapi.
Pengalaman semacam ini menjadi salah satu pembeda Pentingsari dari destinasi yang hanya menjual panorama. Nilai wisatanya muncul dari keterlibatan pengunjung dalam aktivitas yang benar-benar ada di kehidupan warga.
Seni tradisional tidak berhenti sebagai pertunjukan
Kesenian di Pentingsari juga dikembangkan dengan pendekatan partisipatif. Wisatawan dapat belajar memainkan alat musik tradisional seperti gamelan, mengikuti kegiatan tari, atau mencoba membuat wayang suket.
Dengan cara itu, kesenian tidak sekadar ditampilkan di atas panggung untuk ditonton. Pengunjung diberi kesempatan memahami bagian dari prosesnya.
Wayang suket menjadi salah satu contoh sederhana tetapi penting. Kerajinan tersebut menggunakan bahan rumput dan memperlihatkan bagaimana benda yang dekat dengan lingkungan pedesaan dapat diolah menjadi bagian dari pengalaman budaya.
Bagi wisatawan yang datang bersama keluarga atau sekolah, aktivitas semacam ini juga mempunyai nilai edukasi. Anak-anak bisa berinteraksi langsung dengan bahan, alat, dan pelaku budaya yang ada di desa.
Homestay membuat wisata terasa lebih dekat
![]() |
| Suasana Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta. (Dok. Istimewa) |
Salah satu ciri khas Pentingsari adalah penggunaan rumah warga sebagai homestay. Indonesia Travel menggambarkan pengalaman menginap di sana lebih menyerupai tinggal di rumah keluarga daripada berada di sebuah resor.
Konsep tersebut sejalan dengan gagasan utama desa wisata. Setelah menjalani aktivitas pada siang hari, pengunjung tetap berada dalam lingkungan masyarakat dan mempunyai kesempatan untuk merasakan kehidupan desa dari jarak yang lebih dekat.
Dinas Pariwisata DIY juga mencatat adanya paket live-in yang memungkinkan pengunjung tinggal bersama keluarga lokal sambil mengikuti kegiatan sehari-hari. Aktivitasnya dapat mencakup pertanian, kerajinan, menangkap ikan, serta berbagai kegiatan tradisional.
Pilihan tersebut membuat perjalanan ke Pentingsari tidak harus selesai dalam satu kunjungan singkat. Bagi wisatawan yang ingin memahami konsep desa wisata secara lebih utuh, menginap dapat memberikan konteks yang tidak didapatkan dari kunjungan beberapa jam.
Kuliner dan UMKM ikut menggerakkan ekonomi desa
Pariwisata Pentingsari juga berkembang bersama usaha skala rumah tangga. Dinas Pariwisata DIY mencatat sejumlah UMKM lokal seperti Wedhang Rempah, Kopi Madu Merapi, Jamur Gin-Gin, Keripik Ubi Ungu, Amplang Lele, dan Batik Badong sebagai bagian dari aktivitas ekonomi desa.
Produk-produk tersebut penting karena memperlihatkan hubungan antara wisata dan kegiatan ekonomi sehari-hari. Pengunjung memperoleh produk lokal, sedangkan masyarakat mendapatkan pasar tambahan di luar penjualan konvensional.
Pada titik ini, kuliner dan kerajinan tidak berdiri sendiri. Keduanya menjadi bagian dari rantai pengalaman yang dimulai dari kedatangan wisatawan, aktivitas di desa, menginap, makan, hingga membawa pulang produk buatan masyarakat.
Bagi desa wisata, pola seperti ini lebih berarti daripada sekadar meningkatnya jumlah kunjungan. Kualitas pengeluaran wisatawan dan seberapa besar manfaatnya berputar di masyarakat juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan.
Erupsi Merapi menjadi bagian dari perjalanan Pentingsari
Letak Pentingsari di lereng Gunung Merapi membawa keuntungan sekaligus risiko. Gunung tersebut merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, sehingga kehidupan masyarakat di kawasan ini juga tidak dapat dipisahkan dari ancaman aktivitas vulkanik.
Erupsi Merapi pada 2010 menjadi salah satu ujian terbesar dalam perjalanan desa wisata tersebut. Pedoman Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat dampak terhadap area persawahan dan akses warga sehingga kegiatan ekonomi maupun pariwisata ikut terganggu.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa wisata berbasis masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menerima tamu. Masyarakat juga perlu mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dan bencana yang dapat memengaruhi kehidupan desa.
Dalam kasus Pentingsari, kegiatan wisata kemudian kembali berkembang. Perjalanan pemulihan tersebut menjadi bagian dari cerita desa yang tidak dapat dipisahkan dari identitasnya sebagai komunitas di lereng Merapi.
Prestasi memperkuat reputasi Pentingsari
Perjalanan Pentingsari memperoleh sejumlah pengakuan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Pada 2 Maret 2021, desa ini termasuk satu dari 16 desa wisata di Indonesia yang menerima Sertifikat dan Penghargaan Desa Wisata Berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Indonesian Sustainability Tourism Council.
Penghargaan tersebut menilai penerapan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan, termasuk manfaat ekonomi, pelestarian budaya, dan daya tahan lingkungan. Pentingsari kemudian juga mendapatkan predikat Desa Wisata Mandiri Inspiratif dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.
Pada tingkat internasional, profil resmi desa wisata mencatat Pentingsari masuk Green Destinations Top 100 pada 2019 dan menerima ASEAN Sustainable Tourism Award pada 2022 serta ASEAN Tourism Award kategori Community Based Tourism pada 2023.
Serangkaian pengakuan tersebut memberi gambaran bahwa pengelolaan Pentingsari telah berjalan lebih jauh daripada sekadar promosi destinasi. Fokusnya mencakup kelembagaan, keterlibatan warga, lingkungan, budaya, dan keberlanjutan ekonomi.
Aktivitas Pentingsari cocok untuk berbagai tipe wisatawan
Karakter Pentingsari membuat desa ini dapat disesuaikan dengan tujuan perjalanan yang berbeda. Keluarga dapat memilih aktivitas pertanian dan kegiatan yang ramah anak, sedangkan rombongan sekolah dapat memanfaatkan unsur edukasi dan interaksi budaya.
Wisatawan yang ingin lebih santai bisa memilih homestay, kuliner, lingkungan pedesaan, dan aktivitas budaya. Sementara pencinta kegiatan luar ruang dapat mempertimbangkan trekking, outbound, camping, atau aktivitas yang berkaitan dengan kawasan Merapi.
Pilihan paket juga tersedia dalam beberapa durasi. Pedoman Desa Wisata mencatat format perjalanan mulai dari kegiatan satu hari hingga paket tiga atau empat hari yang menggabungkan sejumlah aktivitas.
Karena konsepnya berbasis pengalaman, lama kunjungan akan sangat memengaruhi kedalaman perjalanan. Semakin banyak aktivitas yang dipilih, semakin besar ruang waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar mengikuti proses, bukan sekadar berpindah dari satu titik ke titik berikutnya.
Mengapa Pentingsari menarik sebagai contoh wisata berbasis masyarakat?
Ada alasan mengapa Pentingsari relevan dibicarakan ketika pariwisata berbasis masyarakat menjadi semakin penting. Destinasi ini menunjukkan bahwa daya tarik wisata tidak selalu harus dibuat dari nol; kehidupan yang sudah ada dapat menjadi aset ketika dikelola secara terarah.
Sawah tidak perlu berubah menjadi taman tematik. Rumah tidak harus dibongkar menjadi resor. Kesenian tidak harus dipentaskan setiap saat agar bernilai wisata.
Yang dilakukan Pentingsari adalah menghubungkan berbagai elemen tersebut menjadi satu pengalaman. Warga tetap menjadi bagian dari kehidupan desa, sementara wisatawan memperoleh kesempatan untuk memahami aktivitas yang sebelumnya mungkin terasa biasa bagi masyarakat setempat.
Model itu juga memberi pelajaran mengenai keberlanjutan. Ketika masyarakat mempunyai peran nyata dan manfaat ekonomi dapat tersebar melalui homestay, kuliner, pemandu, pertanian, seni, dan UMKM, pariwisata memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh bersama komunitas.
Bagi wisatawan, pengalaman tersebut menawarkan sesuatu yang sulit diperoleh dari perjalanan yang hanya berorientasi pada objek. Di Pentingsari, yang menjadi daya tarik utama justru kehidupan desa yang masih berlangsung di depan mata.
Mengenal Desa Wisata Pentingsari Yogyakarta pada akhirnya berarti mengenal cara sebuah komunitas mengubah keterbatasan menjadi kekuatan ekonomi tanpa harus melepaskan karakter lokal. Lereng Merapi, sawah, homestay, gamelan, kerajinan, kuliner, dan aktivitas warga menyatu dalam satu model perjalanan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari pariwisata.
Bagi sahabat Pewarta yang mencari destinasi Yogyakarta dengan pengalaman lebih mendalam, Pentingsari menawarkan kesempatan untuk datang sebagai wisatawan sekaligus belajar sebagai tamu di sebuah komunitas.


