Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti

Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 edisi ke-30 resmi dimulai dengan 58 grup. Cek jadwal 20–26 September, Turonggo Yakso, UMKM, dan pameran.

Festival Jaranan Trenggalek Terbuka FJTT 2026 ke-30
Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 resmi dimulai. (Foto: Dok. ANTARA)

PEWARTA.CO.ID — Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 resmi dimulai pada 20 September dan kini memasuki rangkaian pertunjukan hari ketiga. Edisi ke-30 ini berlangsung hingga 26 September 2026 di Alun-Alun Trenggalek, sekaligus menjadi tahun pertama FJTT masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026) Kementerian Pariwisata.

Penyelenggaraan tahun ini membawa jaranan dari ruang kesenian daerah ke panggung dengan cakupan peserta yang lebih luas. Sebanyak 58 grup mengikuti empat kategori kompetisi, mencakup Turonggo Yakso untuk anak, remaja, hingga umum serta kategori Non-Turonggo Yakso tingkat umum.

Bagi wisatawan, FJTT bukan sekadar pertunjukan malam. Festival ini mempertemukan seni tradisi, generasi muda, pameran, kuliner, dan kegiatan UMKM dalam satu ruang publik di pusat Kabupaten Trenggalek.

FJTT ke-30 berlangsung selama sepekan

Rangkaian FJTT 2026 berlangsung pada 20–26 September 2026. Seluruh pertunjukan utama digelar pada malam hari di Alun-Alun Trenggalek, dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan dapat berlangsung hingga sekitar pukul 22.00–23.00 WIB.

Pola jadwal tersebut sengaja disesuaikan dengan keberadaan peserta pelajar. Menurut Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek Tony Widianto, pertunjukan tidak ditempatkan pada pagi hari agar tidak mengganggu aktivitas sekolah peserta.

Pembukaan pada 20 September menjadi penanda dimulainya festival, sedangkan 26 September dijadwalkan sebagai puncak sekaligus penutupan. Di antara dua tanggal tersebut, pengunjung dapat melihat kategori jaranan yang berbeda setiap malam.

Jadwal Festival Jaranan Trenggalek 2026

Bagi wisatawan yang baru memiliki kesempatan datang mulai 23 September, masih terdapat empat malam pertunjukan yang bisa dipilih. Jadwal resmi penyelenggara membaginya berdasarkan kategori kesenian dan kelompok peserta.

Tanggal Agenda Waktu Lokasi
20 September 2026 Grand Opening 19.00 WIB Alun-Alun Trenggalek
21 September 2026 Jaranan Turonggo Yakso Bocah 19.00 WIB Alun-Alun Trenggalek
22 September 2026 Jaranan Turonggo Yakso Remaja 19.00 WIB Alun-Alun Trenggalek
23 September 2026 Jaranan Turonggo Yakso Umum 19.00 WIB Alun-Alun Trenggalek
24 September 2026 Jaranan Non-Turonggo Yakso Umum 1 19.00 WIB Alun-Alun Trenggalek
25 September 2026 Jaranan Non-Turonggo Yakso Umum 2 19.00 WIB Alun-Alun Trenggalek
26 September 2026 Puncak Acara dan Penutupan 19.00 WIB Alun-Alun Trenggalek

Untuk Rabu, 23 September, agenda yang berlangsung adalah kategori Jaranan Turonggo Yakso Umum. Dua hari berikutnya menampilkan kategori Non-Turonggo Yakso Umum, sebelum festival ditutup pada 26 September dengan kembali menampilkan Turonggo Yakso dan Rampak Barong.

Turonggo Yakso menjadi identitas utama Trenggalek

Salah satu alasan FJTT memiliki karakter berbeda dari festival jaranan di daerah lain adalah keberadaan Turonggo Yakso. Kesenian ini tumbuh dari tradisi masyarakat Kecamatan Dongko dan kemudian berkembang menjadi salah satu identitas budaya Kabupaten Trenggalek.

Ciri paling mudah dikenali terdapat pada properti jaranan atau eblek/kepang yang menggabungkan bentuk kuda dengan kepala yaksa atau buto, yakni sosok raksasa. Secara tradisional, properti tersebut menggunakan kulit lembu atau kerbau yang ditatah dan dihias.

Gerak tariannya juga mempunyai karakter gagah, dinamis, dan penuh energi. Sejumlah ragam gerak dikaitkan dengan kehidupan agraris masyarakat Dongko, mulai dari aktivitas menuju sawah, mencangkul, menanam, merawat tanaman hingga memanen.

Karena itu, Turonggo Yakso tidak berdiri sebagai tarian hiburan semata. Latar budayanya berkaitan dengan kehidupan petani dan tradisi Baritan yang berkembang di Dongko.

Jejak festival sudah berlangsung sejak 1990-an

Perjalanan menuju FJTT ke-30 tidak terjadi secara tiba-tiba. Sutiono, salah satu sesepuh sekaligus perintis kegiatan tersebut, menyebut dirinya ikut mendirikan lomba jaranan pada 1996 sebelum kegiatan itu berkembang menjadi festival seperti sekarang.

Catatan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek juga menunjukkan kesinambungan festival tersebut. Pada 2021, misalnya, FJTT telah memasuki penyelenggaraan ke-25, sedangkan pada 2023 tercatat sebagai festival ke-27.

Dengan demikian, edisi 2026 menjadi penanda tiga dekade perjalanan sebuah forum yang awalnya berangkat dari kompetisi jaranan. Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah kesenian lokal berkembang dengan melibatkan generasi yang berbeda.

Ada ruang untuk anak dan remaja

Salah satu bagian yang menonjol pada FJTT 2026 adalah pembagian kategori berdasarkan kelompok usia. Kompetisi tidak hanya memberi ruang kepada kelompok umum, tetapi juga menghadirkan Turonggo Yakso Bocah untuk tingkat SD dan Turonggo Yakso Remaja untuk tingkat SMP.

Tahun ini masing-masing kategori tersebut diikuti 17 grup. Sementara itu, kategori Turonggo Yakso Umum diikuti sembilan grup dan Non-Turonggo Yakso Umum diikuti 15 grup, sehingga total peserta mencapai 58 kelompok.

Pembagian ini memberi konteks yang lebih luas terhadap fungsi festival. Selain menjadi ajang kompetisi, FJTT juga menyediakan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk belajar, berlatih, tampil, dan mengenali kesenian yang berkembang di daerahnya.

Bagi wisatawan keluarga, penampilan kelompok usia muda juga menjadi bagian menarik untuk disaksikan. Regenerasi seni dapat terlihat secara langsung melalui panggung yang sama dengan kompetisi tingkat umum.

Non-Turonggo Yakso memperlihatkan keragaman jaranan

FJTT 2026 tidak hanya berfokus pada Turonggo Yakso. Kategori Non-Turonggo Yakso memberikan ruang bagi kelompok dari daerah lain yang membawa bentuk dan gaya jaranan masing-masing.

Penyelenggara menyebut beberapa gaya yang hadir dalam kategori tersebut, di antaranya Senterewe dan Pegon. Kehadiran kelompok dari luar Trenggalek membuat festival menjadi ruang pertemuan antarkomunitas seni, bukan sekadar panggung untuk satu gaya kesenian.

Sejumlah daerah di Jawa Timur turut mengirimkan kelompok, antara lain Surabaya, Malang, Batu, Blitar, Kediri, Ponorogo, dan Tulungagung. Komposisi ini memperlihatkan bahwa FJTT mempunyai jangkauan peserta yang melampaui wilayah administratif Trenggalek.

Bagi penonton, keragaman tersebut memberi kesempatan untuk melihat perbedaan bentuk jaranan dalam satu rangkaian acara. Perbandingan itu juga membantu memahami posisi Turonggo Yakso sebagai identitas khas Trenggalek di tengah tradisi jaranan yang lebih luas.

Pameran dan UMKM melengkapi pengalaman wisata

Pengunjung FJTT tidak hanya datang untuk menonton pertunjukan. Penyelenggara juga menghadirkan pameran jaranan, pameran kerajinan, bazar UMKM, serta kuliner tradisional di sekitar lokasi acara.

Pameran jaranan dirancang untuk memberikan informasi mengenai karakteristik, sejarah, dan perkembangan kesenian tersebut. Sarasehan dan sosialisasi juga menjadi bagian dari kegiatan pendukung festival untuk memperkuat sisi literasi budaya.

Kehadiran UMKM membuat pengalaman berwisata tidak berhenti pada pertunjukan seni. Wisatawan dapat menikmati makanan lokal, membeli produk usaha masyarakat, sekaligus melihat bagaimana sebuah event budaya menciptakan ruang ekonomi di sekitar lokasi penyelenggaraan.

Pola tersebut sejalan dengan arah KEN yang menempatkan event daerah sebagai bagian dari daya tarik pariwisata sekaligus sarana untuk mendorong dampak ekonomi lokal. Kementerian Pariwisata menetapkan 125 event dari 38 provinsi dalam KEN 2026.

Tahun pertama masuk Karisma Event Nusantara

Masuknya FJTT dalam KEN 2026 menjadi salah satu catatan penting pada edisi ke-30. Dalam daftar resmi Kementerian Pariwisata, Festival Jaranan Trenggalek Terbuka tercantum sebagai salah satu event unggulan Jawa Timur untuk kalender nasional tersebut.

Status KEN memberikan konteks baru bagi festival yang selama ini berkembang sebagai agenda budaya Trenggalek. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur menyebut keikutsertaan dalam KEN memperkuat posisi seni tradisi sebagai bagian dari daya tarik wisata berbasis budaya.

Bagi daerah, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan jumlah penonton. Festival juga berpotensi memperluas jejaring kelompok seni, memperkenalkan budaya lokal kepada pengunjung dari luar daerah, dan mempertemukan kegiatan budaya dengan sektor ekonomi kreatif.

FJTT sendiri sebelumnya sudah mempunyai jaringan peserta dari berbagai daerah, sehingga masuknya ke kalender nasional menambah lapisan promosi pada festival yang telah berlangsung selama tiga dekade.

Tiket reguler masih tersedia secara gratis

Ada perubahan lain dalam tata kelola FJTT 2026, yakni penerapan sistem ticketing untuk area tempat duduk tertentu. Pengunjung tetap dapat menonton melalui area reguler tanpa biaya, sementara kursi VIP dan VVIP disediakan bagi penonton yang menginginkan fasilitas tempat duduk khusus.

Menurut informasi panitia, pada hari kedua hingga keenam tersedia tiket VIP seharga Rp25.000 dan VVIP Rp55.000. Sementara hari pembukaan dan penutupan dapat disaksikan secara gratis, termasuk area reguler.

Untuk kategori Turonggo Yakso Umum pada 23 September, laman resmi FJTT juga mencantumkan akses reguler gratis dan tiket berbayar mulai Rp25.000.

Sistem tersebut diperkenalkan untuk menambah kenyamanan penonton sekaligus membantu panitia mencatat jumlah pengunjung. Pembelian tempat duduk berbayar dapat dilakukan secara daring melalui laman resmi FJTT atau secara langsung selama kursi masih tersedia.

Cara menikmati FJTT sebagai wisata budaya

Wisatawan yang baru datang ke Trenggalek tidak harus menjadikan FJTT sebagai satu-satunya aktivitas. Acara ini bisa dipadukan dengan perjalanan kuliner atau kunjungan ke destinasi wisata lain di Kabupaten Trenggalek sebelum datang ke alun-alun pada malam hari.

Karena pertunjukan dimulai pukul 19.00 WIB, pengunjung memiliki waktu siang untuk menjelajahi kota atau destinasi sekitar. Datang lebih awal ke area festival juga memberi kesempatan melihat pameran, kuliner, dan UMKM sebelum pertunjukan dimulai.

Bagi yang ingin memahami kesenian lebih jauh, memilih dua malam dengan kategori berbeda dapat menjadi pilihan. Satu malam dapat digunakan untuk menyaksikan Turonggo Yakso, sedangkan malam berikutnya memberi kesempatan melihat jaranan Non-Turonggo Yakso dari kelompok lain.

Sahabat Pewarta juga dapat menjadikan festival sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah kesenian Trenggalek. Menyaksikan bentuk pertunjukannya menjadi pengalaman yang berbeda ketika penonton sudah mengetahui hubungan Turonggo Yakso dengan Dongko, Baritan, dan kehidupan agraris masyarakat setempat.

23 hingga 26 September masih menjadi kesempatan untuk datang

Hingga Rabu, 23 September 2026, FJTT masih menyisakan empat malam rangkaian acara. Kamis dan Jumat menghadirkan Non-Turonggo Yakso Umum, sedangkan Sabtu menjadi malam penutupan festival.

Bagi wisatawan dari luar Trenggalek, rentang empat hari tersebut memberi pilihan waktu yang cukup fleksibel. Pengunjung dapat memilih berdasarkan kategori jaranan yang ingin disaksikan, bukan semata-mata berdasarkan hari yang paling ramai.

Yang membuat FJTT ke-30 penting dalam kalender budaya Trenggalek adalah pertemuan antara perjalanan panjang festival dan upaya memperluas jangkauannya. Dari lomba jaranan yang mulai dirintis pada 1990-an hingga masuk KEN 2026, festival ini memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional dapat terus diberi ruang melalui kompetisi, regenerasi, pameran, dan aktivitas ekonomi lokal.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi PEWARTA
Redaksi PEWARTA
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti
  • Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti
  • Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti
  • Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti
  • Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti
  • Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Dimulai, FJTT ke-30 jadi Wisata Budaya Paling Dinanti