Hidden Gem Jawa Tengah, Ini Daftar Desa Wisata di Jateng yang Menawarkan Lanskap Berbeda dari Kota
![]() |
| Ilustrasi panorama alam desa wisata di Jawa Tengah. (Dok. PEWARTA/AI) |
PEWARTA.CO.ID — Jawa Tengah tidak selalu harus dijelajahi melalui kota-kota besar, kawasan candi, atau destinasi yang sudah ramai di akhir pekan. Di sejumlah kabupaten, desa wisata menawarkan lanskap yang jauh berbeda dari kehidupan perkotaan, mulai dari lereng gunung, hamparan pertanian, perbukitan, telaga, hingga lingkungan pedesaan yang masih menjadi ruang hidup masyarakat.
Istilah hidden gem Jawa Tengah dalam artikel ini digunakan sebagai istilah editorial, bukan status resmi pariwisata. Maksudnya adalah desa wisata yang dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang mencari suasana lebih rural dan pengalaman yang tidak bertumpu pada lanskap perkotaan.
Beberapa di antaranya memang sudah dikenal wisatawan, seperti Sembungan di Wonosobo atau Karangrejo di Magelang. Namun, masing-masing tetap menawarkan pengalaman yang berbeda karena wisatawan tidak hanya datang melihat pemandangan, melainkan juga dapat berinteraksi dengan aktivitas pertanian, budaya, kuliner, kerajinan, dan kehidupan masyarakat setempat.
Mengapa desa wisata menawarkan pengalaman berbeda?
Perbedaan paling mudah terlihat pada lanskap. Desa wisata umumnya berkembang dari kondisi geografis dan aktivitas masyarakat yang memang sudah ada, sehingga sawah, kebun, sumber air, perbukitan, peternakan, maupun jalur desa dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Model seperti ini membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Wisatawan bisa berpindah dari melihat panorama ke kegiatan seperti belajar bertani, mengikuti paket live in, menikmati makanan lokal, atau menyaksikan kesenian yang masih dipraktikkan masyarakat.
Karena karakter setiap wilayah berbeda, memilih desa wisata sebaiknya tidak hanya berdasarkan foto yang terlihat menarik. Jenis lanskap, aktivitas yang tersedia, akses, kondisi fisik wisatawan, dan waktu yang dimiliki perlu menjadi bagian dari pertimbangan.
Daftar desa wisata di Jawa Tengah
1. Sembungan
![]() |
| Desa Sembungan, Wonosobo, Jateng. |
Desa Wisata Sembungan berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, dan tercatat di Jadesta sebagai desa wisata yang berada pada ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut. Posisi tersebut membuat suasana Sembungan sangat berbeda dari kawasan perkotaan di dataran rendah.
Daya tarik utamanya mencakup kawasan Sikunir, Telaga Cebong, dan Air Terjun Sikarim. Desa ini juga menawarkan produk olahan seperti carica dan purwaceng, serta paket tinggal di desa yang memungkinkan wisatawan menginap sebelum melanjutkan aktivitas pagi.
Yang menarik dari Sembungan bukan sekadar panorama pegunungannya. Kehidupan masyarakat dan aktivitas desa tetap menjadi bagian dari paket wisata, termasuk edukasi pengolahan sampah serta kegiatan budaya tertentu yang berlangsung pada waktu tertentu.
Untuk wisatawan yang mengejar suasana pagi di kawasan tinggi, Sembungan memiliki keunggulan berupa kombinasi antara homestay, perjalanan menuju titik pandang, telaga, dan kehidupan pedesaan dalam satu kawasan.
2. Samiran
![]() |
| Desa Wisata Samiran, Boyolali, Jateng |
Berbeda lagi dengan Desa Wisata Samiran atau Dewi Sambi di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Desa ini berada di sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut dan diapit Gunung Merapi serta Gunung Merbabu.
Kondisi geografis tersebut menjadi dasar pengembangan wisata berbasis alam. Wisatawan dapat memilih soft trekking maupun hard trekking, menikmati panorama matahari terbit, serta mencoba pengalaman live in bersama masyarakat.
Samiran juga memperlihatkan bagaimana lanskap pegunungan terhubung dengan sektor pertanian dan peternakan. Desa ini dikenal dengan produksi susu sapi dan sayuran seperti wortel, brokoli, dan kol yang kemudian menjadi bagian dari produk serta oleh-oleh lokal.
Bagi wisatawan yang lebih menyukai perjalanan aktif, Samiran memberikan pilihan yang cukup beragam. Sementara itu, pengunjung yang datang untuk menikmati suasana pedesaan dapat memilih paket tinggal bersama masyarakat tanpa harus mengambil aktivitas trekking yang berat.
3. Lerep
![]() |
| Desa Wisata Lerep, Semarang, Jateng. |
Desa Wisata Lerep berada di lereng Gunung Ungaran, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Profil resmi Jadesta menyebut desa ini memiliki suasana pegunungan yang sejuk dan mengembangkan wisata melalui pengelolaan masyarakat serta BUMDes.
Pilihan atraksinya cukup beragam, mulai dari Curug Indrokilo, Embung Sebligo, susur sungai, hingga kegiatan membajak sawah dengan kerbau. Ada pula pasar kuliner jajanan desa, kerajinan bambu, batik ecoprint, serta aktivitas menanam pohon.
Lerep menarik karena pengalaman wisatanya tidak bergantung pada satu panorama utama. Pengunjung dapat melihat bagaimana pertanian, lingkungan, kerajinan, kuliner, dan tradisi masyarakat ditempatkan sebagai satu rangkaian pengalaman.
Bagi wisatawan yang tinggal di sekitar Semarang, karakter seperti ini juga membuat Lerep relatif mudah dijadikan perjalanan singkat untuk mencari suasana pedesaan tanpa harus melakukan perjalanan ke kawasan pegunungan yang sangat jauh.
4. Pandanrejo
![]() |
| Desa Wisata Pandanrejo, Purworejo, Jateng. |
Desa Wisata Pandanrejo atau Dewa Pandan berada di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, tepat di kawasan Perbukitan Menoreh yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jadesta mencatat desa ini berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat Kabupaten Purworejo dan sekitar 36 kilometer dari Kota Yogyakarta.
Panorama perbukitan menjadi salah satu modal alamnya, tetapi karakter Pandanrejo justru semakin kuat karena dihubungkan dengan peternakan kambing Peranakan Etawa atau PE ras Kaligesing. Gunung Gajah, Bukit Sebutrong, Pasar Seton, edukasi peternakan, pengolahan susu, serta homestay menjadi bagian dari produk wisata desa.
Pasar Seton juga memberikan unsur lokal yang tidak mudah ditemukan dalam perjalanan wisata konvensional. Aktivitas perdagangan kambing Kaligesing menjadi bagian dari sejarah ekonomi masyarakat sekaligus dijadikan materi edukasi wisata.
Ada pula Festival Adat Baritan yang melibatkan masyarakat dalam rangkaian kenduri, pengambilan air dari sejumlah mata air, kirab budaya, hingga pagelaran kesenian. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa wisata budaya di desa tidak harus dibuat khusus untuk turis karena dapat berangkat dari kegiatan yang hidup di masyarakat.
5. Serang
![]() |
| Desa Wisata Serang, Purbalingga, Jateng. |
Desa Wisata Serang berada di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, di lereng Gunung Slamet. Pemerintah Kabupaten Purbalingga menggambarkan wilayah ini sebagai kawasan pertanian dengan kebun stroberi, sayuran, sungai, dan hutan yang bisa dijelajahi melalui jalur berjalan kaki.
Atraksi pertanian menjadi salah satu ciri utama. Wisatawan dapat menikmati kebun stroberi, mengikuti paket edukasi pertanian untuk anak, serta melakukan aktivitas luar ruang seperti tracking, berkuda, dan wahana lainnya.
Serang juga memberikan contoh bagaimana pariwisata dapat mengubah aktivitas ekonomi masyarakat tanpa menghilangkan identitas agrarisnya. Profil Jadesta mencatat desa yang sebelumnya didominasi petani kemudian berkembang dengan munculnya pelaku usaha, operator, dan tenaga kerja yang mendukung kegiatan pariwisata melalui BUMDes.
Lanskapnya cocok bagi wisatawan keluarga karena pengalaman yang ditawarkan dapat menggabungkan alam dan pembelajaran. Perjalanan tidak harus berorientasi pada satu titik foto, tetapi dapat berlangsung melalui kebun dan lingkungan desa.
6. Karangrejo
![]() |
| Desa Wisata Karangrejo, Magelang, Jateng. |
Desa Wisata Karangrejo berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekitar tiga hingga empat kilometer dari kawasan Candi Borobudur. Meski lokasinya dekat dengan salah satu destinasi wisata paling dikenal di Indonesia, Karangrejo menawarkan sudut pandang berbeda melalui lanskap desa dan aktivitas masyarakat.
Tiga bukit menjadi bagian penting lanskapnya, yakni Punthuk Setumbu, Bukit Barede, dan Bukit Rhema. Dari beberapa titik tersebut, pengunjung dapat melihat kawasan Borobudur serta lanskap Merapi-Merbabu pada kondisi cuaca yang mendukung.
Namun pengalaman Karangrejo tidak berhenti pada panorama. Desa ini menawarkan aktivitas bercocok tanam, berkeliling menggunakan kendaraan wisata, andong atau sepeda, serta melihat usaha rumahan seperti produksi gula jawa, keripik ketela, empon-empon, gerabah, batik, hingga kerajinan bambu.
Pola tersebut menjadikan Karangrejo contoh bagaimana desa penyangga kawasan wisata besar dapat mengembangkan produk sendiri. Wisatawan bisa mendapatkan pengalaman pedesaan tanpa harus meninggalkan koridor perjalanan menuju Borobudur.
Setiap desa punya alasan yang berbeda untuk dikunjungi
Enam desa tersebut menunjukkan bahwa wisata tersembunyi Jawa Tengah tidak memiliki satu bentuk lanskap. Ada desa yang kuat dengan dataran tinggi, ada yang mengandalkan perbukitan, ada yang menempatkan pertanian sebagai inti pengalaman, dan ada pula yang menggabungkan panorama dengan tradisi masyarakat.
| Desa wisata | Kabupaten | Lanskap utama | Pengalaman yang menonjol |
|---|---|---|---|
| Sembungan | Wonosobo | Dataran tinggi Dieng | Sikunir, Telaga Cebong, homestay, budaya |
| Samiran | Boyolali | Lereng Merapi-Merbabu | Trekking, live in, pertanian, susu |
| Lerep | Semarang | Lereng Gunung Ungaran | Curug, embung, susur sungai, pertanian |
| Pandanrejo | Purworejo | Perbukitan Menoreh | Gunung Gajah, kambing PE, Pasar Seton |
| Serang | Purbalingga | Lereng Gunung Slamet | Stroberi, kebun, trekking, edukasi pertanian |
| Karangrejo | Magelang | Perbukitan Borobudur | Punthuk Setumbu, pertanian, kerajinan, budaya |
Tabel tersebut bukan peringkat destinasi. Setiap desa mempunyai karakter yang berbeda sehingga pilihan sebaiknya disesuaikan dengan jenis perjalanan yang ingin dilakukan.
Hidden gem tidak selalu berarti tempat yang benar-benar sepi
Ada kesalahpahaman yang cukup umum ketika istilah hidden gem digunakan untuk destinasi wisata. Sebuah tempat dapat disebut hidden gem secara editorial karena menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi utama, tetapi tidak otomatis berarti lokasinya sepi atau belum dikenal.
Sembungan, misalnya, pernah masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022, sedangkan Pandanrejo masuk 50 Besar ADWI 2021 dan Karangrejo masuk 100 Besar ADWI 2021. Artinya, beberapa desa dalam daftar ini sudah memiliki rekam jejak promosi dan pengakuan di tingkat nasional.
Karena itu, ukuran yang lebih masuk akal bukan seberapa sedikit wisatawan yang datang, melainkan apakah destinasi tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda dan memberikan alasan untuk tinggal lebih lama.
Memilih desa wisata berdasarkan tipe perjalanan
Wisatawan yang mencari udara dingin dan lanskap pegunungan dapat mempertimbangkan Sembungan atau Samiran. Keduanya memiliki ketinggian dan karakter pegunungan yang kuat, tetapi menawarkan pengalaman berbeda antara kawasan Dieng dan lereng Merapi-Merbabu.
Untuk perjalanan keluarga yang memadukan alam dan aktivitas edukatif, Serang dan Lerep mempunyai pilihan yang cukup beragam. Pertanian, kebun, aktivitas air, kerajinan, serta kegiatan desa memberi ruang bagi pengunjung untuk ikut melakukan sesuatu, bukan hanya melihat panorama.
Sementara itu, Pandanrejo menarik bagi wisatawan yang ingin menggabungkan perbukitan dengan pengalaman peternakan dan budaya. Karangrejo cocok bagi mereka yang ingin menjadikan Borobudur sebagai bagian dari perjalanan, tetapi ingin melihat sisi pedesaan yang berkembang di sekeliling kawasan tersebut.
Perjalanan desa lebih baik tidak dibuat terlalu padat
Karakter desa wisata membuat pola perjalanan sedikit berbeda dari wisata kota. Jarak antaraktivitas dapat lebih tersebar, sementara beberapa pengalaman seperti pertanian, trekking, atau live in membutuhkan waktu yang tidak bisa dipadatkan dalam hitungan menit.
Karena itu, memilih satu desa lalu menikmati beberapa aktivitas di dalamnya sering kali lebih masuk akal daripada mengumpulkan banyak tempat dalam satu hari. Pendekatan tersebut juga memberi kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi dengan warga dan memahami konteks budaya tanpa terburu-buru.
Sahabat Pewarta yang mencari wisata Jawa Tengah dengan suasana berbeda dari pusat kota dapat menjadikan desa wisata sebagai alternatif perjalanan. Daya tariknya bukan semata-mata pada lanskap yang hijau, tetapi pada hubungan antara alam, pekerjaan masyarakat, tradisi, dan ruang hidup yang masih berjalan bersamaan.
Pada akhirnya, desa wisata menawarkan cara lain untuk membaca Jawa Tengah. Pegunungan, sawah, kebun, telaga, ternak, pasar desa, kerajinan, dan tradisi tidak berdiri sebagai latar belakang, melainkan menjadi bagian dari pengalaman yang membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan setempat.






