Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Tembus 8,98 Juta hingga Juli 2026, Naik 5,23 Persen
![]() |
| Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan perkembangan sektor pariwisata Indonesia hingga Juli 2026. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 8,98 juta kunjungan sepanjang Januari hingga Juli 2026, atau tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator positif sektor pariwisata nasional di tengah dinamika dan ketidakpastian global. Data tersebut juga menunjukkan aktivitas pariwisata domestik terus bergerak.
Hal itu disampaikan Widiyanti dalam konferensi pers Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Rabu (23/9/2026).
“Hingga Juli 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 8,98 juta atau tumbuh 5,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Devisa yang dihasilkan sangat besar, mencapai $8,43 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp140,95 triliun rupiah pada semester satu 2026,” ungkap Widiyanti.
Devisa pariwisata capai USD8,43 miliar
Pertumbuhan kunjungan wisman turut berkontribusi terhadap penerimaan devisa pariwisata Indonesia.
Kementerian Pariwisata mencatat devisa pariwisata pada semester I-2026 mencapai USD8,43 miliar. Dalam rilis resminya, Kementerian Pariwisata menyebut angka tersebut setara sekitar Rp145,13 triliun dan tumbuh 2,88 persen dibandingkan semester I-2025.
Perbedaan nilai rupiah tersebut dengan angka yang disebutkan Widiyanti dalam konferensi pers berkaitan dengan konversi nilai dolar AS ke rupiah yang digunakan pada masing-masing penyampaian data.
Kementerian Pariwisata juga mencatat pertumbuhan kunjungan dari sejumlah kawasan. Sepanjang Januari-Juli 2026, kunjungan wisatawan dari Asia lainnya tumbuh 8,69 persen, Asia Tenggara 7,32 persen, dan Oseania 7,26 persen.
Perjalanan wisatawan nusantara ikut meningkat
Selain wisatawan mancanegara, aktivitas wisatawan nusantara (wisnus) juga menjadi bagian dari pertumbuhan sektor pariwisata.
Dalam data yang disampaikan Widiyanti, hingga Juli 2026 perjalanan wisatawan nusantara mencapai lebih dari 737,8 juta perjalanan, meningkat 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dari sisi domestik, perjalanan wisatawan nusantara juga terus menggerakkan aktivitas ekonomi. Hingga Juli 2026, perjalanan wisnus telah mencapai lebih dari 737,8 juta perjalanan, tumbuh lebih dari 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ucap dia.
Data statistik Kementerian Pariwisata dan BPS menunjukkan jumlah perjalanan wisnus pada Juli 2026 sendiri mencapai 107,44 juta perjalanan dan meningkat 7,23 persen dibandingkan Juli 2025.
Pariwisata dorong aktivitas ekonomi daerah
Widiyanti menilai pertumbuhan aktivitas wisata memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi yang berkaitan dengan perjalanan wisata.
Sektor tersebut antara lain akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta ekonomi kreatif di berbagai daerah.
“Dari wisatawan mancanegara, pengeluaran tersebut menghasilkan devisa bagi Indonesia,” cetus Widiyanti.
Pertumbuhan pariwisata juga berlangsung di tengah situasi geopolitik global yang dinamis sejak awal 2026.
Menurut Widiyanti, Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kemenpar fokus kembangkan quality tourism
Pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong pengembangan produk dan pengalaman wisata.
Widiyanti mengatakan salah satu fokus Kementerian Pariwisata adalah mengembangkan quality tourism, yaitu meningkatkan kualitas produk serta pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan agar dapat mendorong pengeluaran selama perjalanan.
“Indonesia memiliki beragam kekayaan destinasi, termasuk alam dan budaya. Karena itu, salah satu fokus utama kami adalah mengembangkan quality tourism, yaitu meningkatkan kualitas produk dan pengalaman wisata yang ditawarkan untuk mendorong pengeluaran wisatawan,” tutur dia.
Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata, tidak hanya melalui jumlah kunjungan, tetapi juga dari aktivitas wisatawan selama berada di destinasi.
Wisata bahari turut dikembangkan
Pengembangan produk pariwisata juga mencakup sektor wisata bahari.
Widiyanti menyebut sejumlah produk yang dikembangkan pemerintah antara lain wisata yacht, cruise, dan diving. Menurutnya, pengembangan produk tersebut perlu diikuti dengan strategi pemasaran yang menghubungkannya dengan pasar yang sesuai.
“Untuk marine tourism, misalnya, kami mengembangkan produk seperti yacht dan cruise, dan diving. Namun produk yang baik perlu terhubung dengan pasar yang tepat,” pungkas Widiyanti.
Dengan kunjungan wisman yang telah mencapai 8,98 juta hingga Juli 2026, pemerintah masih memiliki waktu untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pariwisata hingga akhir tahun. Kementerian Pariwisata sebelumnya menyebut pemerintah menargetkan 16-17 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2026.
