Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Labuan Bajo Selain Komodo, Destinasi Apa Saja yang Menarik untuk Dijelajahi?

Labuan Bajo selain Komodo menawarkan Gua Rangko, Batu Cermin, Pulau Kelor, desa budaya, pantai, bukit, dan destinasi alternatif lainnya.

Panorama laut Labuan Bajo dengan gugusan pulau, perbukitan hijau, dan wisatawan menikmati pemandangan dari atas bukit
Panorama pesisir Labuan Bajo dengan gugusan pulau dan laut biru dari salah satu titik pandang di kawasan Flores Barat. (Dok. PEWARTA/AI)

PEWARTA.CO.ID — Ketika nama Labuan Bajo disebut, Taman Nasional Komodo biasanya menjadi tujuan pertama yang muncul. Padahal, perjalanan dari kota di ujung barat Pulau Flores ini dapat diarahkan ke banyak tempat lain, mulai dari gua dengan kolam air asin, pantai dan pulau kecil, perbukitan untuk menikmati matahari terbenam, hingga desa yang menawarkan pengalaman budaya Manggarai.

Ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal. “Labuan Bajo selain Komodo” tidak selalu berarti destinasi di luar Taman Nasional Komodo, karena Pulau Padar, Pink Beach, dan sejumlah lokasi lain masih berada di dalam kawasan taman nasional; artikel ini lebih memusatkan pilihan pada destinasi di luar kunjungan utama ke habitat komodo serta beberapa tempat di daratan Flores dan pulau sekitar Labuan Bajo.

Pilihan tersebut menjadi semakin relevan setelah pada 2026 kunjungan ke Taman Nasional Komodo menerapkan kuota maksimal 1.000 wisatawan per hari melalui sistem reservasi daring SIORA. Selain itu, kondisi cuaca dapat membuat pelayaran ke Pulau Komodo dan Padar dihentikan sementara, seperti yang terjadi pada September 2026.

Karena itu, itinerary Labuan Bajo tidak harus berhenti ketika jadwal menuju Komodo berubah. Ada cukup banyak alternatif yang bisa mengisi hari perjalanan tanpa mengurangi pengalaman menikmati karakter Flores bagian barat.

1. Gua Batu Cermin

Gua Batu Cermin
Gua Batu Cermin

Gua Batu Cermin merupakan salah satu pilihan paling praktis karena berada di daratan Labuan Bajo, sekitar empat kilometer dari pusat kota menurut informasi Indonesia Travel. Nama “Batu Cermin” berasal dari efek cahaya matahari yang masuk melalui celah gua kemudian memantul pada permukaan batu di dalamnya.

Dinding gua juga memiliki fosil koral yang menjadi bagian dari cerita geologinya. Indonesia Travel menjelaskan keberadaan fosil tersebut mendukung dugaan bahwa kawasan gua pernah berada di bawah laut pada masa lampau.

Karena aksesnya relatif dekat dari pusat kota, Batu Cermin cocok ditempatkan pada awal atau akhir itinerary. Lokasi ini juga dapat dipadukan dengan wisata kota tanpa memerlukan perjalanan laut.

2. Gua Rangko

Gua Rangko
Gua Rangko

Gua Rangko memberikan pengalaman yang jauh berbeda. Di dalam gua terdapat kolam air asin berwarna biru jernih yang menerima cahaya matahari melalui celah di bagian atas, sementara formasi batuan dan stalaktit menjadi latar alami di sekelilingnya.

Untuk mencapainya, wisatawan perlu menggunakan perahu dari Labuan Bajo sebelum melanjutkan perjalanan menuju gua. Perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman karena rutenya melewati perairan dan pulau-pulau kecil di sekitar Labuan Bajo.

Gua Rangko juga memperlihatkan pentingnya memeriksa kondisi operasional sebelum keberangkatan. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sempat menutup kawasan ini pada Januari 2026 akibat cuaca ekstrem, sementara pembaruan BPOLBF pada akhir Agustus menyebut Gua Rangko sudah kembali dibuka dengan aktivitas normal setelah pemantauan pascagempa.

Dengan pola seperti itu, Rangko lebih tepat diperlakukan sebagai destinasi yang menarik ketika kondisi laut dan akses memungkinkan, bukan tempat yang jadwal kunjungannya bisa diasumsikan selalu sama.

3. Pulau Kelor

Pulau Kelor
Pulau Kelor

Pulau Kelor berada sekitar 10 kilometer dari Labuan Bajo dan menawarkan pantai pasir putih, air jernih, serta bukit kecil yang menjadi ciri lanskapnya. Indonesia Travel mencatat pulau ini tidak berpenghuni dan tidak memiliki akomodasi maupun restoran, sehingga aktivitas wisata lebih banyak berpusat pada snorkeling, berenang, trekking ringan, dan menikmati panorama.

Karakter tersebut membuat Kelor cocok bagi wisatawan yang masih menginginkan pengalaman pulau dan laut, tetapi tidak menjadikan pengamatan komodo sebagai tujuan utama. Perjalanannya juga cukup sederhana untuk dimasukkan ke dalam paket wisata laut dari Labuan Bajo.

Bagi perjalanan keluarga, bagian perairan yang lebih dangkal dapat menjadi salah satu pertimbangan. Namun, kondisi ombak dan cuaca tetap harus diperhatikan karena aksesnya menggunakan perahu.

4. Pantai Waecicu

Pantai Waecicu
Pantai Waecicu

Tidak semua perjalanan harus dipenuhi aktivitas berat. Pantai Waecicu menawarkan opsi yang lebih ringan dengan pasir putih, air laut jernih, serta suasana yang dekat dengan pusat Labuan Bajo.

Pantai ini juga dikenal sebagai salah satu lokasi untuk menikmati matahari terbenam. Kedekatannya dengan kawasan penginapan membuat Waecicu dapat dipilih ketika wisatawan ingin menghabiskan sore tanpa harus kembali naik kapal dalam perjalanan panjang.

Pilihan tersebut cocok untuk hari yang sengaja dibuat lebih longgar. Setelah beberapa hari melakukan island hopping, menikmati pantai yang bisa dicapai melalui perjalanan darat dapat menjadi jeda sebelum penerbangan pulang.

5. Bukit Cinta dan bukit-bukit di sekitarnya

Bukit Cinta di Labuan Bajo
Bukit Cinta di Labuan Bajo

Labuan Bajo dikenal karena lautnya, tetapi salah satu cara terbaik memahami bentang alam kawasan ini justru dengan melihatnya dari ketinggian. Bukit Cinta, Puncak Amelia, dan Puncak Silvia tercatat sebagai sejumlah titik pandang yang berada tidak jauh dari Bandara Komodo dan pusat Labuan Bajo.

Dari atas bukit, wisatawan dapat melihat kombinasi teluk, pulau kecil, perbukitan, dan garis laut yang membentuk karakter geografis kawasan. Bukit Cinta juga memiliki jalur menanjak pada bagian akhirnya sehingga wisatawan perlu menyesuaikan alas kaki dan membawa air minum.

Destinasi semacam ini menarik karena biaya waktu dan energi untuk mengunjunginya relatif berbeda dibandingkan wisata bahari. Satu sore dapat digunakan untuk mengejar perubahan warna langit, tanpa harus mengatur keberangkatan kapal.

6. Puncak Waringin

Puncak Waringin
Puncak Waringin

Untuk wisatawan yang tidak ingin pergi jauh, Puncak Waringin merupakan alternatif lain. Lokasinya berada di tengah Labuan Bajo dan menawarkan gardu pandang dengan panorama pelabuhan, laut, serta pulau-pulau di sekitarnya.

Kawasan ini juga telah dilengkapi sejumlah fasilitas publik seperti jalan setapak, area parkir, toilet, musala, taman, amfiteater, dan bangunan dengan bentuk yang mengambil inspirasi dari arsitektur rumah adat Manggarai.

Puncak Waringin mempunyai keunggulan lain: wisatawan dapat melihat aktivitas pelabuhan dari ketinggian. Pemandangan tersebut memberi konteks bahwa Labuan Bajo bukan semata-mata kota persinggahan menuju pulau-pulau wisata, melainkan juga kota pesisir yang hidup dari aktivitas masyarakat dan jasa pariwisata.

7. Desa Melo dan Liang Ndara

Desa Melo di Labuan Bajo
Desa Melo di Labuan Bajo

Jika ingin mengganti suasana laut dengan pengalaman budaya, Desa Melo dapat menjadi pilihan. Indonesia Travel mencatat wisatawan dapat menyaksikan Tari Caci dan berinteraksi dengan masyarakat setempat, sementara lanskap perbukitan Flores menjadi bagian dari perjalanan menuju desa.

Pengalaman yang lebih lengkap tersedia di Desa Wisata Liang Ndara, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Labuan Bajo. Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat desa ini menggabungkan wisata alam dan budaya, termasuk pertunjukan Caci, kerajinan pandan, tenun songket, kuliner lokal, trekking, serta kegiatan bird watching di kawasan Mbeliling.

Liang Ndara juga mempunyai paket trekking menuju Gua Liang Kantor dan air terjun. Data atraksi Jadesta menyebut Air Terjun Liang Kantor memiliki ketinggian sekitar 11 meter dan berada di Kampung Melo, dengan perjalanan menuju lokasi melewati area persawahan.

Bagi wisatawan yang ingin memahami Flores di luar gambaran pantai dan pulau, desa wisata seperti ini memberikan konteks yang berbeda. Kehidupan masyarakat, seni, pangan lokal, serta lanskap pedesaan menjadi bagian dari pengalaman yang tidak didapatkan ketika seluruh perjalanan hanya dilakukan di laut.

8. Papagarang

Papagarang, Labuan Bajo
Papagarang, Labuan Bajo

Pulau Papagarang adalah pilihan lain ketika wisatawan tetap ingin menggunakan perahu tetapi ingin bertemu dengan kehidupan masyarakat. Indonesia Travel mencatat desa ini berada di pulau yang dikelilingi perbukitan hijau dan laut tenang, dengan perahu-perahu nelayan yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Aktivitas di Papagarang tidak harus berupa olahraga air. Wisatawan dapat berjalan mengelilingi desa dan mengenal sejarah, tradisi, serta kehidupan para nelayan setempat.

Pilihan ini penting karena memperluas makna wisata bahari. Laut dalam konteks Labuan Bajo bukan cuma ruang untuk snorkeling atau berlayar, tetapi juga bagian dari ruang hidup masyarakat.

9. Pulau Kukusan

Pulau Kukusan
Pulau Kukusan

Pada September 2026, muncul perkembangan baru dalam diversifikasi destinasi Labuan Bajo. Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyiapkan Pulau Kukusan sebagai salah satu destinasi unggulan di luar kawasan Taman Nasional Komodo.

Pulau yang berada di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, tersebut berdekatan dengan Pulau Kelor. Daya tarik yang disebut dalam pengembangan awalnya mencakup wisata bahari, pantai berpasir putih, dan lokasi snorkeling.

Namun, status Kukusan perlu dibedakan dari destinasi yang sudah lebih mapan. Karena pengembangannya masih berlangsung, wisatawan sebaiknya mencari informasi operasional dan fasilitas terkini sebelum memasukkannya ke itinerary.

Perkembangan Kukusan juga menunjukkan arah diversifikasi wisata di Labuan Bajo. Pemerintah dan pelaku pariwisata mulai melihat destinasi di luar kawasan utama TN Komodo sebagai bagian penting untuk memperluas pilihan perjalanan.

10. Cunca Wulang

Cunca Wulang
Cunca Wulang

Air Terjun Cunca Wulang sering disebut sebagai salah satu alternatif wisata alam Labuan Bajo. Air terjun ini berada di kawasan Mbeliling dan dikenal dengan aliran air di antara tebing batu, sehingga menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata pantai dan pulau.

Namun, destinasi ini memiliki catatan keselamatan penting pada 2026. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menutup sementara seluruh aktivitas wisata Cunca Wulang pada 25 Mei 2026 setelah insiden yang menewaskan dua wisatawan asing, dan sumber resmi yang saya telusuri tidak menunjukkan informasi pembukaan kembali yang cukup untuk menjadikannya rekomendasi operasional tanpa pengecekan lanjutan.

Karena itu, Cunca Wulang dapat dipahami sebagai destinasi potensial dalam peta wisata Labuan Bajo, tetapi jangan berangkat dengan asumsi kawasan tersebut sudah pasti bisa dikunjungi. Status terbaru harus dikonfirmasi kepada pengelola atau pemerintah daerah sebelum perjalanan.

Mana yang cocok untuk itinerary?

Pilihan destinasi di luar Komodo sebenarnya dapat dibagi berdasarkan jenis pengalaman. Pembagian ini lebih berguna daripada membuat daftar peringkat karena setiap tempat mempunyai karakter yang berbeda.

Destinasi Karakter Akses utama Cocok untuk
Gua Batu Cermin Gua dan geologi Darat Wisata singkat, sejarah alam
Gua Rangko Gua dengan kolam air asin Darat dan perahu Petualangan, berenang
Pulau Kelor Pantai dan snorkeling Perahu Wisata bahari, keluarga
Pantai Waecicu Pantai dan sunset Darat/perahu Santai, menikmati senja
Bukit Cinta Panorama perbukitan dan laut Darat + jalan kaki Sunset, fotografi
Puncak Waringin Panorama kota, pelabuhan, dan laut Darat Sunset, wisata kota
Melo/Liang Ndara Budaya Manggarai dan alam Darat Budaya, trekking
Papagarang Desa nelayan dan pulau Perahu Interaksi budaya
Pulau Kukusan Pantai dan bahari Perahu Destinasi alternatif

Beberapa pilihan tersebut dapat dirangkai dalam satu hari, sedangkan yang lain membutuhkan blok waktu tersendiri. Gua Batu Cermin, misalnya, lebih mudah disisipkan di sekitar jadwal penerbangan, sementara Gua Rangko atau Papagarang membutuhkan pengaturan perjalanan laut.

Untuk wisatawan dengan waktu tiga hari dua malam, pendekatan yang masuk akal adalah menggabungkan satu hari wisata laut, satu hari eksplorasi darat dan budaya, lalu menyisakan waktu untuk destinasi kota atau sunset. Indonesia Travel juga menyusun itinerary Labuan Bajo yang menggabungkan Pulau Kelor atau Batu Cermin pada hari terakhir, menunjukkan bahwa keduanya memang dapat menjadi alternatif ketika waktu perjalanan terbatas.

Jangan anggap semua destinasi kondisinya sama

Labuan Bajo memiliki karakter wisata yang sangat dipengaruhi laut, cuaca, keselamatan, dan kondisi destinasi. Peristiwa 2026 menunjukkan bahwa perubahan operasional dapat terjadi dalam waktu singkat, baik karena cuaca ekstrem, gelombang tinggi, maupun evaluasi keselamatan fasilitas.

Hal ini penting terutama untuk itinerary yang menggunakan kapal. Jadwal keberangkatan sebaiknya tidak dibuat terlalu padat agar wisatawan mempunyai ruang apabila terjadi perubahan kondisi laut.

Kondisi tersebut juga terlihat setelah gempa bumi pada Agustus 2026. Kementerian Pariwisata menyatakan aktivitas pariwisata Labuan Bajo secara umum kembali berjalan, sementara BPOLBF terus memantau destinasi dan mencatat bahwa sebagian lokasi masih bersifat tentatif sesuai hasil evaluasi lapangan.

Karena itu, informasi destinasi yang benar bukan hanya menjelaskan tempatnya seperti apa. Wisatawan juga perlu mengetahui apakah lokasi tersebut sedang dibuka, bagaimana cara mencapainya, dan apakah kondisi lapangan mendukung aktivitas yang direncanakan.

Labuan Bajo punya cerita lebih luas daripada komodo

Taman Nasional Komodo tetap menjadi bagian penting dari identitas Labuan Bajo, tetapi kota ini memiliki jaringan pengalaman wisata yang jauh lebih luas. Ada lanskap geologi di Batu Cermin, kolam laut di Rangko, pantai dan pulau kecil di sekitar kota, perbukitan untuk menikmati senja, sampai desa-desa yang memperlihatkan kehidupan dan budaya Manggarai.

Bagi sahabat Pewarta, memilih destinasi selain Komodo bukan berarti mengurangi pengalaman Labuan Bajo. Justru dengan memberi ruang bagi daratan Flores dan masyarakat lokal, perjalanan dapat memperlihatkan bahwa Labuan Bajo adalah sebuah kawasan wisata dengan laut, alam, budaya, dan kehidupan sehari-hari yang saling terhubung.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi PEWARTA
Redaksi PEWARTA
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Labuan Bajo Selain Komodo, Destinasi Apa Saja yang Menarik untuk Dijelajahi?
  • Labuan Bajo Selain Komodo, Destinasi Apa Saja yang Menarik untuk Dijelajahi?
  • Labuan Bajo Selain Komodo, Destinasi Apa Saja yang Menarik untuk Dijelajahi?
  • Labuan Bajo Selain Komodo, Destinasi Apa Saja yang Menarik untuk Dijelajahi?
  • Labuan Bajo Selain Komodo, Destinasi Apa Saja yang Menarik untuk Dijelajahi?
  • Labuan Bajo Selain Komodo, Destinasi Apa Saja yang Menarik untuk Dijelajahi?