Mengapa Pacitan Dijuluki Kota 1001 Goa? Ini Sejarah dan Pesonanya
![]() |
| Penampakan salah satu gua yang cukup populer di Pacitan karena keindahan bagian dalamnya yang terbentuk secara alami. (Dok. Istimewa) |
PEWARTA.CO.ID — Pacitan dikenal luas dengan julukan “Kota 1001 Goa” karena bentang alam karstnya menyimpan begitu banyak gua, luweng, dan lorong bawah tanah. Angka 1001 dalam julukan tersebut ternyata bukan angka resmi yang menunjukkan jumlah persis gua di Pacitan, melainkan bagian dari jargon untuk menggambarkan kekayaan gua yang sangat banyak.
Julukan itu memiliki sejarah yang cukup menarik. Sejumlah kesaksian menyebut istilah “Kota 1001 Goa” mulai muncul sekitar pergantian milenium dan kemudian berkembang menjadi identitas pariwisata Pacitan.
Yang membuat julukan tersebut tetap relevan hingga sekarang adalah fakta bahwa eksplorasi gua di Pacitan masih menemukan lorong dan titik baru. Bahkan pada 2026, ekspedisi speleologi di kawasan Luweng Ombo kembali menunjukkan betapa besar potensi bawah tanah Pacitan.
Dari mana asal julukan Kota 1001 Goa?
Cerita mengenai asal-usul julukan ini berkaitan dengan sosok S. Endro Waluyo, pejabat senior Pemerintah Kabupaten Pacitan yang juga dikenal sebagai pegiat seni.
Pewarta.co.id mengutip kesaksian sahabat Endro dari detikJatim, gagasan “Kota 1001 Goa” muncul sekitar 1999–2000 dalam sebuah percakapan dengan sejumlah pejabat daerah. Ketika ditanya mengenai banyaknya gua di Pacitan, Endro menyampaikan angka 1001 sebagai ungkapan untuk menggambarkan jumlahnya yang sangat banyak.
Angka tersebut kemudian memiliki makna lebih luas daripada sekadar jumlah. Adik Endro, Widjanarko Dewo, menjelaskan bahwa angka 1001 sengaja dipilih karena dimaksudkan sebagai hitungan yang tidak terbatas, sehingga tetap relevan ketika gua baru kembali ditemukan.
Ada pula versi lain mengenai waktunya. Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Pacitan Djohan Perwiranto pernah menyebut istilah tersebut berkembang sekitar 2004, setelah jargon “Kota Seribu Goa” lebih dahulu digunakan Kabupaten Tuban dan kemudian ditambahkan angka satu menjadi “1001 Goa”.
Perbedaan keterangan mengenai tahun kemunculan tidak mengubah satu hal yang sama-sama disebut dalam berbagai kesaksian: julukan tersebut berkaitan dengan banyaknya gua di kawasan karst Pacitan dan kemudian dipopulerkan sebagai identitas daerah.
Mengapa Pacitan memiliki begitu banyak gua?
Jawabannya terdapat pada kondisi geologi wilayah tersebut. Pemerintah Kabupaten Pacitan menjelaskan bahwa kawasan Pegunungan Seribu atau Gunung Sewu didominasi endapan gamping dan mengalami proses erosi oleh sungai serta rembesan air yang kemudian membentuk bentang alam karst.
Karst merupakan kawasan batuan yang mudah mengalami pelarutan oleh air. Dalam proses geologi yang berlangsung sangat lama, air dapat membentuk rongga, saluran bawah tanah, dolina, luweng, hingga sistem gua.
Pacitan berada di bagian timur kawasan Gunung Sewu. UNESCO mencatat Gunung Sewu sebagai UNESCO Global Geopark dengan karakter utama berupa bentang alam karst tropis, termasuk bukit-bukit karst, lembah, sungai bawah tanah, mata air, dan ratusan gua.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa gua di Pacitan tidak berdiri sebagai fenomena yang terpisah. Gua merupakan bagian dari sistem bentang alam karst yang jauh lebih luas dan terbentuk melalui proses geologi dalam rentang waktu yang panjang.
Angka 1001 ternyata bukan batas jumlah gua
Salah satu hal yang sering menimbulkan salah pengertian adalah anggapan bahwa Pacitan benar-benar memiliki tepat 1.001 gua.
Faktanya, angka tersebut merupakan jargon, sementara jumlah gua yang telah ditemukan atau didata dapat berubah seiring penelitian dan pemetaan. Data Pemerintah Kabupaten Pacitan sendiri pada 2026 masih menggambarkan kawasan bawah tanahnya sebagai potensi yang belum sepenuhnya terungkap.
Pacitan Speleology Society (PSS), komunitas yang melakukan penelusuran dan pemetaan gua, pada awal 2026 melaporkan telah mengidentifikasi 1.623 mulut gua di tujuh kecamatan berdasarkan penelusuran mereka. Angka tersebut merupakan data sementara hasil pendataan komunitas, bukan angka resmi pemerintah untuk seluruh gua di Kabupaten Pacitan.
Artinya, perkembangan data justru memperlihatkan mengapa angka 1001 tetap cocok sebagai simbol. Julukan itu sejak awal tidak dirancang sebagai sensus permanen, sementara proses inventarisasi gua masih berjalan.
Gua Gong menjadi salah satu ikon Pacitan
![]() |
| Gua Gong Pacitan |
Jika membicarakan Kota 1001 Goa, nama Gua Gong hampir selalu muncul. Gua yang berada di Desa Bomo, Kecamatan Punung, tersebut menjadi salah satu destinasi gua yang paling dikenal dari Pacitan.
Gua Gong memiliki ornamen karst berupa stalaktit dan stalagmit yang terbentuk melalui proses geologi panjang. Pemerintah Kabupaten Pacitan memasukkan Gua Gong sebagai salah satu bagian dari kawasan pariwisata geopark di daerah tersebut.
Nama “Gong” sendiri berkaitan dengan karakter bunyi pada sejumlah batuan di dalam gua. Keunikan tersebut membuat Gua Gong memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan gua yang hanya menawarkan pengalaman melihat lorong bawah tanah.
Gua ini juga memiliki nilai edukasi karena pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana air dan batuan membentuk ornamen gua dalam waktu yang sangat panjang.
Gua Tabuhan punya suara yang menjadi daya tarik
![]() |
| Gua Tabuhan Pacitan |
Gua Tabuhan berada di Desa Wareng, Kecamatan Punung. Destinasi ini dikenal karena sejumlah batuan di dalam gua dapat menghasilkan bunyi ketika dipukul dan menghasilkan suara yang menyerupai instrumen musik.
Pemerintah Kabupaten Pacitan mencantumkan Gua Tabuhan bersama Gua Gong sebagai bagian dari objek wisata yang berada dalam kawasan pengembangan geopark.
Keunikan tersebut membuat Gua Tabuhan memiliki dua sisi daya tarik sekaligus. Pengunjung dapat melihat bentukan geologi gua sekaligus mengenal fenomena bunyi yang muncul dari batuan tertentu.
Kedua gua itu juga punya posisi penting dalam sejarah munculnya branding “Kota 1001 Goa”. Kesaksian yang dihimpun detikJatim menyebut Gua Gong dan Gua Tabuhan termasuk objek gua yang mulai populer ketika jargon tersebut diperkenalkan.
Luweng Ombo menunjukkan sisi lain dunia bawah tanah Pacitan
![]() |
| Luweng Ombo Pacitan |
Pesona gua Pacitan tidak berhenti pada destinasi yang dapat dikunjungi wisatawan umum. Beberapa kawasan justru memiliki karakter teknis dan membutuhkan kemampuan khusus untuk ditelusuri.
Salah satunya Luweng Ombo di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo. Pada Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Pacitan melepas Ekspedisi Gahvara Yava 2026 yang melakukan pemetaan dan penelusuran sistem gua tersebut.
Ekspedisi itu kemudian mencatat tambahan panjang lorong terpetakan 1.242,5 meter sehingga total sistem Luweng Ombo–Kebon menjadi 8.242,5 meter. Tim juga mencapai titik SUMP pada kedalaman 246 meter di bawah permukaan tanah dan menemukan lorong baru yang masih berstatus belum selesai dieksplorasi.
Bagi masyarakat umum, fakta tersebut memberikan gambaran bahwa istilah “1001 Goa” tidak hanya berkaitan dengan tempat wisata seperti Gua Gong. Di bawah permukaan Pacitan terdapat sistem gua yang masih menjadi objek penelitian, pemetaan, dan eksplorasi.
Gua juga berkaitan dengan sejarah manusia
Kekayaan karst Pacitan mempunyai dimensi yang lebih luas daripada pariwisata. Kawasan Gunung Sewu yang mencakup Pacitan juga dikenal memiliki warisan prasejarah, termasuk jejak hunian manusia masa lalu.
UNESCO mencatat adanya situs-situs prasejarah di kawasan Gunung Sewu yang memperlihatkan keberadaan komunitas manusia sejak periode Paleolitik hingga Neolitik. Kawasan tersebut juga berkaitan dengan tradisi budaya Pacitanian yang penting dalam kajian prasejarah Asia Tenggara.
Karena itu, gua dan kawasan karst Pacitan memiliki nilai yang berlapis. Ada nilai geologi dari proses pembentukan gua, nilai ekologis dari ekosistem bawah tanah, nilai ilmiah dari penelitian speleologi, serta nilai sejarah dari jejak kehidupan manusia masa lalu.
Julukan yang terus menemukan makna baru
Sebutan “Kota 1001 Goa” pada akhirnya lebih tepat dipahami sebagai identitas daripada angka sensus. Julukan tersebut lahir dari upaya menggambarkan banyaknya gua Pacitan, kemudian berkembang menjadi bagian dari citra pariwisata daerah.
Perkembangan riset dalam beberapa tahun terakhir justru membuat maknanya semakin kuat. Ketika komunitas penelusur masih menemukan ribuan titik gua dan ekspedisi pada 2026 masih memetakan lorong baru, kawasan karst Pacitan menunjukkan bahwa ruang bawah tanahnya belum sepenuhnya diketahui.
Bagi wisatawan, Gua Gong dan Gua Tabuhan memberikan pintu masuk untuk mengenal sisi populer dari kekayaan tersebut. Sementara bagi peneliti dan penelusur gua, Luweng Ombo dan sistem karst lainnya memperlihatkan bahwa masih banyak bagian Pacitan yang menyimpan cerita jauh di bawah permukaan.
Itulah sebabnya julukan “Kota 1001 Goa” tetap melekat pada Pacitan: bukan karena daerah ini berhenti pada angka 1.001, melainkan karena kekayaan guanya memang jauh lebih besar daripada yang bisa diringkas oleh sebuah angka.



