Muktamar ke-35 NU Perkenalkan AI dan Blockchain untuk Bantu UMKM Naik Kelas
![]() |
| Rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, menjadi ajang pengenalan teknologi untuk mendukung UMKM. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan blockchain menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Teknologi tersebut diperkenalkan Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) melalui Zarfix Marketplace yang dirancang untuk mendukung transformasi digital pelaku usaha dan UMKM.
Founder & Visionary Chairman Zarfix Muhammad Ayyash Nahdi mengatakan platform tersebut menggabungkan AI dan blockchain sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi melalui teknologi karya anak bangsa.
“Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Zarfix Marketplace, platform yang dikembangkan dengan mengintegrasikan teknologi AI dan blockchain,” ujar Muhammad Ayyash Nahdi, Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, kekuatan UMKM dan komunitas di Indonesia memiliki peluang besar ketika dipadukan dengan teknologi buatan dalam negeri.
“Indonesia memiliki kekuatan besar pada UMKM dan komunitas. Ketika kekuatan tersebut dipertemukan dengan teknologi karya anak bangsa, kita tidak hanya berbicara tentang digitalisasi, tetapi juga tentang membangun kemandirian ekonomi dan teknologi Indonesia,” ujarnya.
Dalam ekosistem Zarfix Marketplace, AI digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari otomatisasi konten, analisis data, hingga pemberian rekomendasi bisnis.
Sementara itu, integrasi blockchain diarahkan untuk membangun sistem serta proses transaksi yang lebih terhubung dan transparan.
“Konsep tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung pertumbuhan pelaku usaha,” pungkasnya.
Dorong UMKM lebih produktif
Direktur Zarfix Arief Budiman menekankan bahwa digitalisasi seharusnya menghasilkan manfaat nyata bagi pelaku usaha, bukan sekadar memindahkan aktivitas bisnis ke platform digital.
“Kami tidak ingin UMKM hanya sekadar masuk ke digital. Teknologi harus membuat mereka lebih produktif, lebih efisien, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Kami bangun untuk membantu pelaku usaha naik kelas dan semakin kompetitif,” tandasnya.
Rangkaian Muktamar ke-35 NU di Tambakberas juga menghasilkan keputusan penting terkait kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031.
Kiai Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sedangkan Kiai Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais Aam PBNU.
Keputusan tersebut disepakati Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) setelah menerima hasil Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU.
