Situs Sangkulirang-Mangkalihat: Menjelajah Jejak Purba di Kalimantan Timur
![]() |
| Situs Sangkulirang-Mangkalihat. (Dok. Istimewa) |
PEWARTA.CO.ID — Di bentang karst Kalimantan Timur, dinding gua menyimpan cerita yang jauh lebih tua daripada sejarah tertulis. Sangkulirang-Mangkalihat dikenal karena gugusan gua prasejarah, lukisan cadas, tinggalan arkeologis, dan lanskap batu kapur yang memperlihatkan jejak kehidupan manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.
Kawasan ini berada di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat dan mencakup wilayah Kabupaten Kutai Timur serta Kabupaten Berau. Dalam daftar usulan UNESCO, kawasan tersebut disebut memiliki sedikitnya 35 situs gambar cadas yang tersebar pada tujuh kawasan karst, antara lain Merabu, Batu Raya, Batu Gergaji, Batu Nyere, Batu Tutunambo, Batu Pengadan, dan Batu Tabalar.
Yang membuatnya istimewa bukan sekadar usia lukisan di dalam gua. Kawasan ini mempertemukan bukti seni cadas, pemukiman manusia purba, artefak batu, sisa fauna, kerangka manusia, serta bentang karst yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari kehidupan manusia dan ekosistem hutan Kalimantan.
Sangkulirang-Mangkalihat bukan satu gua
Salah satu hal yang perlu dipahami sebelum membicarakan situs ini adalah bahwa Sangkulirang-Mangkalihat bukan nama satu objek wisata atau satu kompleks gua. Ia merupakan bentang kawasan karst luas dengan banyak gua, ceruk batu, situs arkeologi, geosite, habitat hutan, dan permukiman masyarakat di sekitarnya.
UNESCO mencatat kawasan yang diusulkan tersebut berada di bagian timur Kalimantan Timur dan memiliki ribuan lukisan cadas berwarna merah serta sejumlah ukiran. Sementara penelitian arkeologi menunjukkan survei di semenanjung ini telah mengungkap lebih dari 150 gua dan ceruk yang memiliki tinggalan gambar cadas dalam berbagai penelitian terdahulu.
Karena skalanya tersebut, pengalaman menjelajah Sangkulirang-Mangkalihat tidak sama dengan mengunjungi museum atau situs sejarah yang berada di tengah kota. Banyak lokasi berada di lingkungan karst dan hutan dengan akses yang membutuhkan persiapan khusus.
Lukisan cadas menjadi jejak yang paling mudah dikenali
![]() |
| Gambar tangan (hand stencil) ikonik di Situs Sangkulirang-Mangkalihat. (Dok. Ist) |
Gambar tangan atau hand stencil menjadi salah satu motif yang paling sering diasosiasikan dengan situs prasejarah Sangkulirang-Mangkalihat. Selain cap tangan, penelitian menemukan gambar fauna, figur manusia, perahu, bentuk geometris, dan berbagai motif lain yang menunjukkan perubahan gaya seni pada periode berbeda.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature pada 2018 menunjukkan bahwa lukisan figuratif seekor hewan di Lubang Jeriji Saléh memiliki usia minimum sekitar 40.000 tahun. Dua cap tangan berwarna merah-oranye dari situs yang sama memiliki usia minimum sekitar 37.200 tahun, sedangkan satu cap tangan lainnya memiliki usia maksimum sekitar 51.800 tahun berdasarkan lapisan kalsit yang dianalisis.
Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa seni cadas di kawasan ini telah berkembang sejak periode Pleistosen. Penelitian yang sama menyimpulkan produksi seni gua di Kalimantan Timur sudah berlangsung setidaknya sejak sekitar 40.000 tahun lalu dan kemudian mengalami perubahan gaya pada periode berikutnya.
Namun, ada konteks waktu yang perlu diperbarui. Ketika penelitian 2018 diterbitkan, lukisan figuratif Lubang Jeriji Saléh disebut sebagai yang tertua yang diketahui saat itu; penelitian yang diterbitkan Nature pada 2026 di Sulawesi kemudian melaporkan seni cadas dengan batas minimum usia 67.800 tahun, sehingga Sangkulirang-Mangkalihat tidak tepat lagi disebut sebagai seni cadas tertua di dunia.
Apa yang sebenarnya digambarkan manusia purba?
Gambar cadas di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya berupa simbol abstrak. Penelitian menunjukkan adanya figur hewan, cap tangan, figur manusia, adegan yang berkaitan dengan aktivitas sosial, serta pada fase yang lebih muda muncul motif seperti perahu dan bentuk geometris.
UNESCO menilai kumpulan gambar tersebut penting karena memberikan gambaran mengenai kehidupan kelompok pemburu-peramu, hubungan mereka dengan lingkungan, serta kemungkinan fungsi simbolik dan ritual yang melekat pada karya-karya di dinding gua. Sejumlah fauna yang digambarkan bahkan termasuk jenis yang kini telah hilang dari kawasan tersebut.
Artinya, dinding gua bukan sekadar media gambar. Ia dapat dibaca sebagai sumber informasi tentang cara manusia masa lalu melihat lingkungan, mengenali hewan, membangun simbol, dan mengekspresikan kehidupan sosialnya.
Tentu, tidak semua makna gambar dapat dipastikan. Tafsir arkeologis terhadap simbol prasejarah tetap bergantung pada konteks temuan, pembandingan motif, stratigrafi, serta penelitian lanjutan.
Liang Tebo memperluas cerita tentang kehidupan manusia purba
Jika lukisan gua menjadi bukti visual, Liang Tebo memberikan bukti biologis sekaligus sosial yang jauh lebih konkret. Gua kapur ini menyimpan kerangka seorang individu yang kemudian menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian prasejarah Asia Tenggara.
Penelitian Nature yang terbit pada 2022 menunjukkan individu tersebut mengalami amputasi pada bagian bawah kaki kiri, kemungkinan ketika masih kanak-kanak, setidaknya sekitar 31.000 tahun lalu. Yang lebih mengejutkan, individu tersebut bertahan hidup selama sekitar enam hingga sembilan tahun setelah prosedur tersebut sebelum dimakamkan di Liang Tebo.
Temuan itu menjadi bukti bahwa kelompok pemburu-peramu di wilayah tropis Asia telah memiliki pengetahuan medis dan kemampuan perawatan yang jauh lebih kompleks daripada yang sebelumnya diperkirakan. Dalam konteks sejarah manusia, penemuan tersebut juga memperlihatkan bahwa praktik perawatan terhadap anggota kelompok sudah berkembang jauh sebelum munculnya masyarakat pertanian menetap.
Liang Tebo sendiri merupakan gua dengan beberapa ruang besar dan juga memiliki gambar cadas pada bagian atasnya. Dengan demikian, satu lokasi dapat memperlihatkan hubungan antara seni, aktivitas manusia, penguburan, dan lingkungan tempat mereka hidup.
Artefak batu menunjukkan kehidupan sehari-hari
Kisah Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya ditulis di dinding gua. Penggalian arkeologis menemukan beragam artefak yang membantu peneliti memahami bagaimana manusia memanfaatkan kawasan tersebut.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur mencatat temuan alat batu dan sisa produksinya dari sejumlah situs, antara lain Batu Aji, Gua Keboboh, Gua Tengkorak, Liang Jon, Liang Abu, dan Liang Pamalawan. Di Liang Jon ditemukan pula sisa kerang, struktur yang diduga sebagai bekas perapian, sisa hewan, manik-manik, alat tulang, dan gerabah.
Temuan tersebut penting karena gambar cadas hanya menunjukkan apa yang ditinggalkan di permukaan gua. Artefak dari lapisan tanah membantu mengisi bagian cerita yang tidak bisa dijelaskan oleh gambar, seperti aktivitas makan, pembuatan alat, pemanfaatan bahan baku, dan kemungkinan pola hunian.
Kombinasi antara temuan permukaan dan hasil penggalian membuat Sangkulirang-Mangkalihat menjadi laboratorium alam untuk mempelajari perjalanan manusia di kawasan timur Borneo.
Karst menjadi bagian penting dari cerita
Jejak purba di kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari bentang alam karst. Penelitian Nature menyebut Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat memiliki bentang batu kapur sekitar 4.200 kilometer persegi dengan banyak gua dan ceruk batu.
Karst menjadi tempat terbentuknya rongga, gua, mata air, dan ruang alami yang dapat digunakan manusia maupun satwa. Pemerintah juga menempatkan kawasan ini sebagai bagian penting dari bentang alam yang mempunyai fungsi ekologis, selain nilai geologi dan budaya.
Kementerian yang menangani konservasi keanekaragaman hayati pernah mencatat Bentang Karst Sangkulirang-Mangkalihat berada di Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Dalam dokumen konservasi, kawasan karst tersebut juga disebut sebagai salah satu ekosistem penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan bentang alam Kalimantan Timur.
Itulah sebabnya melindungi situs gua tidak cukup hanya dengan merawat lukisan. Hutan, sistem air, dinding karst, satwa, serta lingkungan tempat situs berada juga merupakan bagian dari warisan yang sama.
Gua Mengkuris memperlihatkan pentingnya pelestarian
![]() |
| Gua Mengkuris |
Salah satu situs yang mendapat perhatian dalam proses verifikasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat pada 2026 adalah Gua Mengkuris atau situs Telapak Tangan di Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan, Kutai Timur.
Tim Verifikasi Geopark Nasional mengunjungi lokasi tersebut pada Juli 2026 untuk menilai aspek geologi, budaya, pengelolaan, dan keterlibatan masyarakat. Perjalanan menuju gua disebut mencapai sekitar tujuh kilometer dari titik gerbang kawasan.
Dalam kunjungan tersebut, tim verifikasi juga menekankan pentingnya membatasi akses wisata agar lukisan prasejarah tidak mengalami kerusakan. Pemerintah Kutai Timur mencatat perlindungan terhadap gambar cadas menjadi perhatian karena situs tersebut mempunyai nilai ekologis, geologis, sejarah, dan budaya yang sangat tinggi.
Hal ini menjadi catatan penting bagi wisatawan. Situs prasejarah bukan tempat untuk disentuh, dicoret, digosok, atau diperlakukan seperti objek dekorasi; jejak yang bertahan selama ribuan tahun dapat rusak hanya dalam waktu sangat singkat akibat interaksi manusia yang tidak terkendali.
Geopark menjadi arah pengelolaan kawasan
Pada Juli 2026, Sangkulirang-Mangkalihat memasuki tahap verifikasi lapangan dalam proses pengusulan sebagai Geopark Nasional. Tim verifikasi mendatangi sejumlah geosite dan cultural site di Kutai Timur dan Berau untuk menilai kesiapan kawasan.
Pemerintah daerah menjelaskan bahwa proses tersebut tidak hanya berkaitan dengan keindahan geologi. Aspek yang dinilai juga mencakup keanekaragaman hayati, warisan budaya, pengelolaan kawasan, pendidikan, dan keterlibatan masyarakat.
Di Kabupaten Berau, penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengelolaan Geopark 2026–2032 juga telah dimulai. Kajian tersebut diarahkan untuk menjadi pedoman pengelolaan kawasan dan melibatkan pemerintah daerah, pengelola geopark, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya diarahkan pada wisata. Konservasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting karena sebagian situs berada di ruang hidup komunitas yang telah lama bergantung pada hutan dan lingkungan karst.
Bagaimana statusnya di UNESCO?
Sangkulirang-Mangkalihat sudah tercatat dalam UNESCO World Heritage Centre Tentative List sejak 30 Januari 2015 dengan kategori budaya dan kriteria (iii). UNESCO menyebut kawasan tersebut sebagai Prehistoric rock art area.
Namun, status tersebut perlu dibedakan dari Warisan Dunia UNESCO. Tentative List merupakan daftar inventaris situs yang dipertimbangkan negara untuk diajukan sebagai nominasi, bukan berarti situs tersebut sudah ditetapkan sebagai World Heritage Site. Hingga informasi yang tersedia pada 2026, Sangkulirang-Mangkalihat masih berada dalam kategori Tentative List.
Konteks ini penting karena penyebutan status UNESCO secara keliru dapat membuat pembaca mengira proses pengakuan internasional sudah selesai. Di tingkat nasional, proses penguatan kawasan justru masih terlihat dari verifikasi Geopark Nasional yang berlangsung pada 2026.
Bisa menjadi tujuan wisata sejarah dan edukasi?
Sangkulirang-Mangkalihat mempunyai potensi wisata yang jauh lebih besar daripada sekadar melihat lukisan gua. Pemerintah Kabupaten Berau mencantumkan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai salah satu wisata alam daerah, sementara Desa Wisata Merabu di Kecamatan Kelay menawarkan pengalaman berada di kawasan karst yang masih diselimuti hutan tropis dataran rendah.
Merabu juga menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat. Profil Jadesta mencatat masyarakat setempat bergantung antara lain pada pertanian serta hasil hutan bukan kayu, sementara lingkungan hutan dan karst menjadi bagian penting dari identitas kampung.
Meski demikian, tidak semua gua prasejarah dapat diperlakukan sebagai objek wisata umum. Beberapa situs memiliki akses yang sulit dan memerlukan pendampingan, sementara situs dengan lukisan rentan membutuhkan pembatasan kunjungan untuk menjaga kondisi aslinya.
Bagi calon pengunjung, prinsip yang paling aman adalah mencari informasi dari pengelola lokal atau instansi terkait sebelum berangkat. Tujuannya bukan hanya memastikan akses, tetapi juga mengetahui aturan konservasi yang berlaku di lokasi.
Menjelajah masa lalu tanpa merusaknya
Sangkulirang-Mangkalihat memperlihatkan bahwa jejak manusia purba di Indonesia tidak berhenti pada situs yang sudah populer di buku pelajaran. Di gua-gua Kalimantan Timur, cap tangan, gambar hewan, artefak batu, sisa hunian, dan kerangka manusia membentuk potongan cerita tentang bagaimana manusia pernah hidup di lingkungan hutan tropis puluhan ribu tahun lalu.
Nilai kawasan ini juga semakin jelas ketika unsur arkeologi ditempatkan bersama geologi dan kehidupan masyarakat sekarang. Batu kapur membentuk gua, gua menyimpan bukti sejarah, hutan menjaga sistem ekologis, dan masyarakat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kawasan tersebut.
Bagi sahabat Pewarta yang tertarik pada wisata sejarah, arkeologi, atau bentang alam yang belum banyak disentuh pariwisata massal, Sangkulirang-Mangkalihat menawarkan perjalanan yang berbeda. Yang dicari bukan sekadar pemandangan indah, melainkan kesempatan membaca kembali jejak manusia dari masa yang rentangnya bahkan jauh melampaui sejarah tertulis.


