Trump Tolak Proposal Gencatan Senjata 7 Hari dari Iran
![]() |
| Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran terkait penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan telah menolak proposal Iran yang menawarkan peta jalan selama tujuh hari untuk menghentikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu, 26 September 2026, setelah Iran mengajukan rencana yang mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut, kelanjutan pembicaraan mengenai isu nuklir, serta pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Saya menolak proposal mereka," kata Trump, seperti dikutip Al Jazeera.
Laporan Reuters menyebut proposal Iran berkaitan dengan upaya menghentikan pertempuran dalam waktu tujuh hari sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran masih menunggu tanggapan resmi AS melalui jalur mediator.
Proposal Iran untuk buka kembali Selat Hormuz
Araghchi sebelumnya mengatakan Iran telah menyampaikan rencana konkret kepada Amerika Serikat melalui Qatar.
Dalam pernyataan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Araghchi mengatakan apabila syarat yang dibutuhkan terpenuhi, Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan pelayaran normal dipulihkan dalam waktu tujuh hari.
"Iran telah menyampaikan kepada Amerika Serikat, melalui Qatar, rencana konkret tujuh hari. Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali, dan jalur maritim normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari," kata Araghchi.
Reuters sebelumnya melaporkan pada 22 September bahwa Iran menyatakan kesiapan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu satu pekan apabila AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Proposal tersebut telah disampaikan kepada AS melalui mediator sejak 16 September.
Tiga bagian utama proposal Iran
Proposal yang disampaikan Teheran tersebut pada dasarnya mencakup beberapa poin yang saling berkaitan.
Pertama, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari setelah kesepakatan tercapai.
Kedua, pembicaraan mengenai isu nuklir akan dilanjutkan sebagai bagian dari proses diplomatik.
Ketiga, Washington diminta mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dengan skema tersebut, pembukaan kembali jalur pelayaran menjadi bagian dari kesepakatan yang lebih luas mengenai penghentian konflik dan kelanjutan pembicaraan antara kedua negara.
Trump menyatakan menolak proposal tersebut
Trump secara terbuka mengatakan dirinya telah menolak proposal yang diajukan Iran.
Reuters melaporkan Trump mengatakan Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi ia tetap menolak proposal tersebut. Laporan yang sama juga menyebut Iran kemudian menunggu langkah berikutnya dari Washington.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal yang dikutip sejumlah media menyebut Trump telah menolak usulan gencatan senjata tujuh hari tersebut dan mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan operasi militer AS terhadap Iran dapat kembali berlangsung setelah pemilihan paruh waktu AS pada November.
Klaim mengenai rencana kelanjutan serangan setelah pemilu tersebut berasal dari laporan yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, sehingga perlu dibedakan dari pernyataan Trump yang disampaikan secara terbuka mengenai penolakannya terhadap proposal Iran.
Iran masih menunggu respons resmi
Meskipun Trump telah menyatakan penolakan, terdapat perbedaan waktu dan jalur penyampaian respons antara kedua pihak.
Al Jazeera melaporkan Araghchi mengatakan Teheran belum menerima respons formal Amerika Serikat melalui mediator. Hal tersebut menunjukkan bahwa komunikasi diplomatik melalui pihak ketiga masih menjadi bagian dari proses setelah proposal disampaikan.
Iran sebelumnya menyampaikan proposal tersebut melalui Qatar. Jalur tersebut digunakan di tengah upaya untuk membuka kembali ruang pembicaraan mengenai konflik, isu nuklir, dan status Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam konflik
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Karena menjadi jalur penting bagi pengiriman energi global, kondisi keamanan di kawasan tersebut memiliki dampak lebih luas terhadap perdagangan dan pasar energi internasional.
Proposal Iran karena itu tidak hanya berkaitan dengan penghentian pertempuran, tetapi juga dengan pemulihan lalu lintas maritim melalui salah satu jalur strategis kawasan tersebut. Al Jazeera menyebut sekitar seperlima minyak dan gas alam dunia dalam kondisi normal melewati Selat Hormuz.
Upaya diplomasi masih berlangsung
Sebelum penolakan Trump terhadap proposal tujuh hari tersebut, Iran telah beberapa kali menyampaikan kesiapan untuk membuka kembali ruang diplomasi.
Pada 22 September, Reuters melaporkan pejabat Iran mengatakan delegasi Teheran yang berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB memiliki kewenangan penuh untuk menjalankan negosiasi diplomatik. Iran juga menjadikan pembukaan Selat Hormuz sebagai salah satu bagian dari tawaran apabila tekanan militer AS dikurangi dan blokade terhadap pelabuhan Iran dicabut.
Di sisi lain, Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran masih mungkin dibahas setelah pemilihan paruh waktu AS pada November, sementara pada saat yang sama pemerintahannya tetap mempertahankan tekanan terhadap Teheran.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa proposal tujuh hari dari Iran belum menghasilkan kesepakatan dengan Washington. Trump telah menyatakan penolakannya, sedangkan Teheran masih menunggu respons formal melalui jalur diplomatik.
