1.949 Orang Ditangkap, 400 Sekolah Ditutup dalam Demonstrasi Pelajar di Prancis
![]() |
| Polisi antihuru-hara berjaga saat demonstrasi pelajar berlangsung di Prancis yang meluas ke sejumlah wilayah. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Aksi demonstrasi pelajar di Prancis berubah menjadi kerusuhan di sejumlah wilayah setelah siswa sekolah menengah dan mahasiswa memblokade sekolah, mendirikan barikade, serta bentrok dengan polisi. Pada Kamis (1/10/2026), sebanyak 1.949 orang ditangkap dalam rangkaian aksi tersebut.
Pemerintah Prancis juga memutuskan sekitar 400 sekolah ditutup pada Jumat (2/10/2026) sebagai dampak dari kerusuhan. Sejumlah sekolah mengalami kerusakan dan beberapa kegiatan belajar dialihkan secara daring.
Aksi itu awalnya dipicu tuntutan terkait kondisi pendidikan, termasuk kekurangan tenaga pengajar, kelas yang terlalu padat, infrastruktur sekolah, serta kebutuhan peningkatan anggaran pendidikan. Gerakan yang bermula di wilayah Paris kemudian meluas ke berbagai kota di Prancis dan melibatkan mahasiswa serta kelompok pekerja sektor publik.
Polisi menangkap hampir 2.000 orang
Jumlah penangkapan pada Kamis meningkat tajam dibandingkan hari sebelumnya. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat 1.949 orang ditangkap dalam satu hari, sementara 305 polisi dan anggota gendarmerie dilaporkan mengalami luka-luka.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengecam apa yang disebut pemerintah sebagai kekerasan yang semakin meluas. Pemerintah menyebut sebagian aksi telah berubah dari demonstrasi pendidikan menjadi bentrokan dan kerusakan fasilitas umum.
Namun, di tengah penanganan aksi tersebut, tindakan aparat juga menjadi sorotan. Pemerintah menyatakan Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional telah membuka penyelidikan terhadap sejumlah insiden yang menyebabkan pelajar mengalami cedera.
Salah satu kasus yang dilaporkan terjadi di Tours. Menurut laporan media Prancis yang dikutip dalam pemberitaan, seorang pemuda mengalami cedera kepala yang diduga berkaitan dengan proyektil yang ditembakkan menggunakan senjata kepolisian yang dirancang tidak mematikan.
Sekitar 400 sekolah ditutup
Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray mengatakan lebih dari 400 sekolah ditutup pada Jumat untuk alasan keamanan. Sejumlah sekolah tidak dapat digunakan setelah terjadi kerusakan atau insiden kekerasan di sekitar lingkungan pendidikan.
Menurut Geffray, keselamatan siswa menjadi prioritas. Pemerintah juga menyatakan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dari jarak jauh pada sekolah yang terdampak.
Data Kementerian Pendidikan kemudian menunjukkan jumlah lembaga pendidikan yang mengalami aksi atau gangguan bahkan mencapai lebih dari 500 pada Jumat pagi. Namun, angka sekolah yang benar-benar ditutup berada di kisaran 400 lembaga.
Tuntutan pelajar mencakup perekrutan lebih banyak guru pengganti, pengurangan kepadatan kelas, perbaikan kondisi bangunan, serta peningkatan pendanaan untuk pendidikan negeri.
Kerusuhan terjadi di sejumlah kota
Bentrokan tidak hanya terjadi di kawasan Paris. Di Marseille, demonstran dilaporkan menyerang petugas pemadam kebakaran yang sedang menangani kebakaran di dekat Lycée Saint-Exupéry.
Salah satu kendaraan pemadam kebakaran dilaporkan dirusak dan dibakar, sementara seorang petugas mengalami luka. Di lokasi lain di Marseille, sebuah bus kota dibakar dan sejumlah bus lainnya diserang sehingga layanan transportasi umum sempat dihentikan.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah. Di Paris, bagian depan Lycée Diderot menghitam setelah kebakaran yang melibatkan tempat sampah dan skuter, sedangkan Lycée Nelson-Mandela di Nantes mengalami kerusakan akibat kebakaran yang disengaja.
Polisi antihuru-hara juga dikerahkan ke sejumlah wilayah untuk menghadapi massa. Gas air mata digunakan dalam beberapa bentrokan, termasuk ketika aksi berlangsung di Saint-Denis, kawasan di sebelah utara Paris.
Pemerintah dan LFI berbeda pandangan
Pemerintah Prancis menggelar rapat darurat setelah aksi meluas dan sebagian demonstrasi berubah menjadi kekerasan. Berdasarkan informasi dari badan intelijen yang disampaikan pemerintah, sejumlah pejabat menuduh partai kiri La France Insoumise (LFI) dan kelompok yang disebut sebagai afiliasinya ikut mengorganisasi atau memanfaatkan aksi tersebut.
Tuduhan tersebut dibantah LFI. Juru bicara partai, Manuel Bompard, mengatakan pemerintah tidak seharusnya menganggap seluruh gerakan pelajar sebagai aksi yang diarahkan kelompok politik.
“Gerakan spontan ini lahir dari rasa frustrasi terhadap kondisi pendidikan yang sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Bompard kepada AFP.
Jean-Luc Mélenchon, tokoh LFI yang menjadi kandidat dalam pemilihan presiden Prancis mendatang, juga menyerukan kepada para siswa agar menggunakan cara-cara tanpa kekerasan.
Tuntutan pelajar berfokus pada pendidikan
Di balik eskalasi kerusuhan, tuntutan awal pelajar berpusat pada persoalan pendidikan. Mereka meminta lebih banyak tenaga pengajar, kelas dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, peningkatan pendanaan, serta perbaikan fasilitas sekolah.
Christelle Kauffmann dari serikat administrator sekolah SNPDEN-Unsa mengatakan pihak kepala sekolah menghadapi keterbatasan sumber daya untuk mengurangi jumlah siswa di kelas.
Ia juga mengecam serangan terhadap kepala sekolah dan tenaga pendidikan selama aksi berlangsung. Sejumlah staf sekolah dilaporkan mengalami luka dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Pemerintah Prancis kini menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni merespons tuntutan mengenai kondisi pendidikan dan menjaga keamanan di tengah aksi yang telah berkembang menjadi bentrokan di sejumlah wilayah.
Pada Jumat (2/10/2026), Menteri Pendidikan Édouard Geffray dijadwalkan bertemu dengan organisasi pelajar dan orang tua untuk membahas tuntutan yang menjadi pemicu demonstrasi. Pemerintah juga tetap menekankan penanganan terhadap aksi kekerasan dan perusakan yang terjadi selama demonstrasi.
