Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenal Skizofrenia, Gangguan Kesehatan Jiwa Berat yang Perlu Dikenali Gejalanya

Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan jiwa berat yang memengaruhi cara berpikir, persepsi, perilaku, dan kehidupan sehari-hari.

mengenal skizofrenia dan gejala gangguan kesehatan jiwa
Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan jiwa berat yang dapat memengaruhi persepsi, pikiran, perilaku, dan fungsi sehari-hari seseorang. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Masalah kesehatan jiwa tidak hanya mencakup depresi dan gangguan kecemasan. Ada pula gangguan jiwa berat seperti psikosis, termasuk skizofrenia, yang dapat memengaruhi cara seseorang memahami kenyataan, berpikir, berperilaku, hingga menjalani aktivitas sehari-hari.

Psikolog sekaligus Ketua Bidang Kemitraan dan Komunikasi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), Annelia Sari Sani, menyebut psikosis atau skizofrenia sebagai salah satu kelompok gangguan kesehatan jiwa yang perlu mendapat perhatian di Indonesia.

“Depresi kecemasan itu adalah hal berbeda. Tapi memang secara statistik, Indonesia itu masalah kesehatan jiwa itu yang menduduki 4 besar itu adalah gangguan jiwa besar atau psikosis atau diagnosisnya ada skizofrenia. Kalau kita ajak ngomong sudah enggak nyambung, enggak tahu ini siapa. Antara realitas dengan apa yang dia persepsikan itu berbeda. Nah itu gangguan jiwa berat,” ujar Annelia dalam acara Morning Zone yang tayang di kanal YouTube Okezone.

Selain psikosis, gangguan kecemasan, gangguan mood seperti depresi, dan gangguan akibat penggunaan zat juga menjadi bagian dari masalah kesehatan jiwa yang perlu ditangani secara tepat.

Apa itu skizofrenia?

Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, mempersepsikan sesuatu, dan berperilaku. Kondisi ini dapat ditandai dengan gejala seperti waham atau delusi, halusinasi, gangguan berpikir, serta perubahan perilaku.

Pada kondisi tertentu, seseorang dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan membedakan pengalaman yang muncul akibat gangguan tersebut dengan kenyataan. Karena gejalanya dapat menyerupai kondisi lain, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu gejala atau perilaku tertentu dan memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan profesional.

Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Skizofrenia melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/970/2025. Pedoman tersebut berstatus berlaku dan menjadi acuan dalam penatalaksanaan skizofrenia di Indonesia.

Skizofrenia juga bukan sekadar kondisi ketika seseorang berbicara sendiri atau menunjukkan perilaku yang dianggap aneh. Penilaian medis diperlukan untuk memastikan gejala, tingkat gangguan fungsi, serta kemungkinan adanya kondisi lain yang menyebabkan gejala serupa.

Berapa banyak kasus skizofrenia di Indonesia?

Pedoman Kementerian Kesehatan yang diterbitkan pada 2025 menyebut jumlah orang di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa berat skizofrenia diperkirakan sekitar 2,6 juta orang. Dokumen tersebut juga mencatat prevalensi skizofrenia di berbagai negara umumnya berada pada kisaran 0,5 hingga 1 persen populasi.

Dalam dokumen yang sama, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan psikosis atau skizofrenia sebesar 3 per 1.000 rumah tangga pada indikator yang digunakan dalam pedoman tersebut.

Angka tersebut menunjukkan bahwa skizofrenia merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian, mulai dari pengenalan gejala, akses terhadap layanan kesehatan, dukungan keluarga hingga upaya mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa.

Gejala skizofrenia yang perlu dikenali

Gejala skizofrenia dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut beberapa karakteristik utamanya berkaitan dengan gangguan dalam mempersepsikan kenyataan serta perubahan perilaku.

Pertama adalah delusi atau waham. Kondisi ini berupa keyakinan yang sangat kuat terhadap sesuatu meskipun terdapat bukti yang bertentangan dengan keyakinan tersebut.

Contohnya, seseorang dapat meyakini bahwa dirinya sedang dikejar, diawasi, atau akan disakiti tanpa adanya dasar yang sesuai dengan kenyataan.

Kedua, halusinasi. Seseorang dapat mendengar, melihat, mencium, merasakan, atau mengalami persepsi lain terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Halusinasi pendengaran, seperti mendengar suara yang tidak didengar orang lain, merupakan salah satu gejala yang dapat muncul pada skizofrenia.

Ketiga, gangguan dalam berpikir dan berbicara. Alur pikiran dapat menjadi sulit diikuti sehingga seseorang kesulitan menyampaikan gagasannya secara runtut atau memberikan respons yang tidak berkaitan dengan pembicaraan.

Keempat, perubahan perilaku. Perubahan tersebut dapat berupa perilaku yang sangat tidak teratur, kegelisahan, atau kondisi sebaliknya ketika seseorang menjadi sangat pasif dan minim respons.

Kelima, gejala negatif. Gejala ini dapat berupa berkurangnya ekspresi emosi, menurunnya minat terhadap aktivitas, menarik diri dari lingkungan sosial, berkurangnya kemampuan berbicara, atau kesulitan merencanakan kegiatan.

WHO menekankan bahwa gejala skizofrenia dapat menyebabkan gangguan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan keluarga, aktivitas sosial, pendidikan, dan pekerjaan.

Penyebab skizofrenia tidak berasal dari satu faktor

Penyebab skizofrenia sampai saat ini tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Mayo Clinic menyebut kombinasi faktor genetik, perubahan kimiawi otak, dan lingkungan dapat berperan dalam munculnya kondisi tersebut.

Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko, antara lain riwayat keluarga dengan skizofrenia, pengalaman hidup tertentu, kondisi selama kehamilan dan kelahiran, serta penggunaan zat psikoaktif pada masa remaja atau dewasa muda. Faktor-faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti mengalami skizofrenia, tetapi dapat meningkatkan risikonya.

Annelia juga menekankan bahwa penyebab gangguan kesehatan jiwa sangat kompleks dan tidak tepat disederhanakan menjadi satu penyebab.

“Kalau ditanya akar penyebab masalahnya, kombinasinya bisa muncul berapa ratus ribu. Banyak sekali memang,” ujar Annelia.

Karena itu, penilaian kondisi seseorang perlu dilakukan secara profesional dengan melihat gejala, riwayat kesehatan, lingkungan, serta faktor lain yang relevan.

Penanganan membutuhkan dukungan profesional

Skizofrenia merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan dan pemantauan. WHO menyebut berbagai pilihan perawatan tersedia, termasuk obat-obatan, psikoedukasi, intervensi keluarga, terapi psikologis tertentu, serta rehabilitasi psikososial.

Dukungan keluarga juga memiliki peran penting dalam proses pemulihan dan keberlangsungan perawatan. Penanganan tidak hanya bertujuan mengurangi gejala, tetapi juga membantu orang dengan skizofrenia mempertahankan fungsi sosial, aktivitas sehari-hari, dan kualitas hidup.

Stigma terhadap orang dengan skizofrenia juga menjadi persoalan tersendiri. WHO menyebut stigma, diskriminasi, dan pelanggaran hak asasi masih sering dialami orang dengan skizofrenia, sehingga edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.

Mengenali gejala skizofrenia tidak berarti memberikan diagnosis kepada seseorang berdasarkan perilaku yang terlihat. Ketika seseorang mengalami perubahan persepsi, pikiran, perilaku, atau fungsi sehari-hari yang mengganggu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan profesional diperlukan untuk mengetahui kondisi dan menentukan penanganan yang sesuai.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi PEWARTA
Redaksi PEWARTA
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Mengenal Skizofrenia, Gangguan Kesehatan Jiwa Berat yang Perlu Dikenali Gejalanya
  • Mengenal Skizofrenia, Gangguan Kesehatan Jiwa Berat yang Perlu Dikenali Gejalanya
  • Mengenal Skizofrenia, Gangguan Kesehatan Jiwa Berat yang Perlu Dikenali Gejalanya
  • Mengenal Skizofrenia, Gangguan Kesehatan Jiwa Berat yang Perlu Dikenali Gejalanya
  • Mengenal Skizofrenia, Gangguan Kesehatan Jiwa Berat yang Perlu Dikenali Gejalanya
  • Mengenal Skizofrenia, Gangguan Kesehatan Jiwa Berat yang Perlu Dikenali Gejalanya