Scroll ke bawah untuk melanjutkan

[OPINI] Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu

OPINI ini ditulis oleh Doaul Husni, S.Mn. - Wakabid Pemuda dan Mahasiswa PA GMNI Sampang.

OPINI Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu


DARI Sampang, Jawa Timur terlihat berbeda. Dari sini kita melihat ladang tembakau, tambak garam, perahu nelayan, dan anak-anak muda yang sering harus merantau untuk mencari penghidupan. Daerah kami kerap berada di papan bawah indikator pembangunan Jawa Timur, padahal kekayaan alam dan semangat kerja warganya tidak kalah dari tempat lain. Karena itu, ketika PA GMNI Jawa Timur memasuki pemilihan kepengurusan periode 2026/2031, kami di daerah memandangnya bukan sebagai urusan elite di Surabaya, melainkan menyangkut nasib kaderisasi hingga ke pinggiran.

Kami membaca dua nama, Tri Prakoso, S.H., M.H.P. dan Dra. Sri Rahayu. Tulisan ini adalah pandangan dari kacamata anak muda dan Alumni GMNI di daerah, yang mencoba membaca keduanya secara utuh mulai dari akar gerakan, pendidikan, jejak usaha dan politik, hingga kedekatan sosial mereka. Dari pesisir Madura, kami melihat harapan, dan harapan yang baik layak diuji dengan data.

Slogan yang Menantang Kami Semua

Mengusung kalimat, "Gotong Royong Mewujudkan PA GMNI yang Berdikari secara Ekonomi dan Berdaulat secara Politik". Bagi kami, kalimat itu bukan hiasan. Ia adalah tolok ukur. Kader muda di daerah akan bertanya sederhana: apa artinya berdikari bagi saya yang baru lulus dan belum punya pekerjaan? Apa artinya gotong royong bagi cabang kecil yang kekurangan dana dan jaringan?

Ini sejalan dengan pesan Bung Karno tentang Trisakti. Berdaulat secara politik tidak punya arti bila kader-kadernya masih bergantung pada belas kasihan pihak lain untuk hidup dan bergerak. Kedaulatan harus dimulai dari kemampuan berdiri di atas kaki sendiri, dimulai dari kader.

Tri Prakoso: Pemikir, Pengusaha, dan Dekat dengan Santri

Tri Prakoso dikenal sebagai praktisi hukum, pengusaha sektor energi, aktivis, dan penulis opini asal Jawa Timur. Ia alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember dan Universitas Airlangga, aktivis Pro Demokrasi '98, serta alumni GMNI Jember. Di dunia usaha ia menjabat Wakil Ketua Umum Migas Kadin Jawa Timur dan Sekretaris Hiswana Migas Jatim Balinus, jaringan yang membentang dari Banten hingga Nusa Tenggara Timur.

Profil yang beredar menyebut Tri Prakoso sebagai praktisi dan tokoh alumni GMNI yang menempa diri dalam kerja pengorganisasian, pemikiran, dan pengabdian sosial, dengan latar pendidikan hukum, ekonomi, dan geopolitik pertahanan, serta komitmen pada Pancasila 1 Juni 1945 dan Marhaenisme. Jika dibaca sebagai perjalanan, rekam jejaknya berlapis: mahasiswa hukum dan kader GMNI Jember, aktivis Pro Demokrasi '98, praktisi hukum, pengusaha dan pengurus asosiasi energi, hingga penulis opini yang rutin menguji gagasan di ruang publik. Lapisan-lapisan itu membuatnya bisa berbicara dengan bahasa gerakan, bahasa hukum, dan bahasa bisnis sekaligus, kemampuan yang jarang dimiliki satu orang.

Bagi kami anak muda, kombinasi ini menarik. Banyak tokoh pandai berpikir tetapi jauh dari dunia usaha, dan banyak pengusaha sukses tetapi jarang menulis dan berdebat gagasan. Tri Prakoso menulis tentang kritik ekonomi neoliberal, hukum korporasi BUMN, polemik Pilkada, hingga tradisi kekuasaan Jawa. Dalam kerangka Karl Popper, kebiasaan menulis secara terbuka adalah bentuk kesediaan diuji, sebab gagasan yang dipublikasikan bisa dikritik dan dikoreksi. Kami berharap kebiasaan itu terbawa ke dalam organisasi, yaitu kepemimpinan yang terbuka pada argumen, termasuk dari kader muda.

Latar energinya juga relevan. Energi adalah urusan kedaulatan. Siapa yang menguasai pasokan, distribusi, dan harga energi turut menentukan seberapa mandiri sebuah bangsa. Pengetahuan semacam ini penting bagi ketua organisasi yang hendak membaca geopolitik dan ekonomi bagi kader Jawa Timur.

Satu hal yang kami, anak-anak Madura, tidak bisa lewatkan adalah kedekatan Tri Prakoso dengan kelompok santri. Di Madura, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia pusat moral, jaringan sosial, sekaligus penggerak ekonomi umat, dan kiai serta santri menjadi simpul yang menghubungkan desa ke desa. Kedekatan dengan kalangan ini penting bagi kami karena dua alasan.

Pertama, ia mempertemukan dua arus besar yang menjadi napas Indonesia, nasionalis dan religius, tanpa mengorbankan salah satunya. Marhaenisme dan Pancasila 1 Juni 1945 pada dasarnya sejalan dengan nilai pesantren: sama-sama berpihak pada kaum kecil dan menjunjung gotong royong. Kedua, ia membuka ruang distribusi kader dan penguatan ekonomi yang nyata. Koperasi, pertanian, perikanan, dan UMKM dapat menjadi laborstorium kader dan Alumni GMNI, sehingga kaderisasi tidak terpaku pada satu ruang saja.

Dalam kerangka Karl Popper, ini adalah wujud masyarakat terbuka kelompok yang berbeda berdialog dan bekerja sama, bukan saling curiga.

Tentu kedekatan itu harus dirawat dengan kerja, bukan dijadikan simbol atau alat mobilisasi. Santri adalah mitra setara, bukan objek. Ukurannya sederhana: apakah kedekatan itu melahirkan program bersama yang dirasakan manfaatnya di pesantren dan desa.

Sri Rahayu: Ketelitian dan Keikhlasan

Dra. Sri Rahayu adalah politisi senior dan alumni GMNI Malang yang dikenal tekun, teliti, dan berintegritas. Ia lulusan IKIP Negeri Malang dan berkiprah di ranah legislatif daerah maupun nasional. Pada Pemilu 2024, ia terpilih sebagai caleg DPR RI dari dapil Jawa Timur VI, tetapi mundur menjelang pelantikan, dan kursi itu kemudian beralih kepada cucu Bung Karno, Romy Soekarno.

Di kalangan orang Jawa dan Madura, kita mengenal nilai ikhlas dan legawa, kesediaan melepas sesuatu tanpa dendam. Ini bukan hal mudah, dan tidak semua orang sanggup melakukannya. Dalam organisasi, sikap itu bernilai tinggi. Seorang sekretaris mengurus arsip, administrasi, dan koordinasi, pekerjaan yang jarang disorot tetapi menentukan apakah organisasi berjalan rapi. Orang yang pernah membuktikan bahwa ia tidak haus panggung adalah orang yang tepat memegang peran itu. 

Dalam duet ini, peran sekretaris bukan pelengkap. Profil yang beredar menyebut Sri Rahayu siap menjadi penggerak roda organisasi yang rapi, transparan, dan responsif, agar setiap gagasan alumni menjadi kerja nyata.

Pengalaman legislatifnya di tingkat daerah dan nasional membekalinya pemahaman tentang proses kebijakan dan jejaring luas, yang bisa dipakai menjembatani program PA GMNI dengan pemerintah daerah, termasuk untuk kader di Madura. Kehadiran perempuan senior di posisi strategis juga menjadi pesan bagi kader perempuan muda bahwa ruang kepemimpinan terbuka bagi mereka.

Membaca Kedua Profil Alumni Ini Secara Utuh

Jika profil keduanya dirangkum, tampak dua pribadi dengan latar berbeda yang saling menyambung.

Tri Prakoso, berlatar pendidikan hukum di Universitas Jember dan Magister Universitas Airlangga, dengan bekal ilmu hukum, ekonomi, dan geopolitik pertahanan. Akar gerakannya ada di GMNI Jember dan barisan aktivis Pro Demokrasi '98. Kiprahnya mencakup dunia hukum, sektor energi lewat Migas Kadin Jatim dan Hiswana Migas Jatim Balinus, serta penulisan opini. Modal utamanya adalah pemikiran, jejaring usaha, dan kedekatan dengan kalangan santri, sehingga ia berperan memberi arah, gagasan, dan jaringan ekonomi.

Dra. Sri Rahayu, adalah lulusan IKIP Negeri (UM) Malang dan alumni GMNI Malang. Ia berkiprah di ranah legislatif daerah dan nasional, dengan modal ketelitian, integritas, dan jejaring legislatif. Perannya dalam duet ini adalah menjaga tata kelola dan eksekusi organisasi.

Dari uraian itu tampak komposisi yang saling melengkapi: ketua yang kuat di gagasan dan jaringan, sekretaris yang kuat di ketertiban organisasi dan pengalaman kebijakan. Keduanya juga berasal dari dua cabang GMNI yang berbeda, Jember dan Malang, mencerminkan sebaran wilayah yang diperlukan agar kaderisasi tidak terpusat.

Yang Kami Harapkan dari Dua Sosok Alumni Ini

Sebagai anak muda dan Alumni GMNI di daerah, kami menitipkan lima harapan.

  • Distribusi kader sampai ke daerah. Ruang ekonomi dan pengabdian jangan hanya berputar di kota besar. Cabang seperti Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan perlu ikut mendapat akses jaringan, mentoring, dan peluang usaha, misalnya di pengolahan garam, tembakau, perikanan, UMKM, dan ekonomi pesantren.
  • Kaderisasi yang menyatu dengan ekonomi. Kader muda butuh keterampilan dan penghasilan agar bisa bertahan sambil berorganisasi. Koperasi atau usaha bersama alumni yang transparan layak dirintis.
  • Gotong royong, bukan benturan. Perbedaan di tubuh alumni wajar, tetapi jangan berubah menjadi permusuhan. Dalam bahasa Steven Pinker di Enlightenment Now, kemajuan lahir dari nalar dan kerja sama, bukan dari tribalisme.
  • Ruang bagi anak muda. Beri kader muda ruang tampil dan ruang salah, sebab Popper mengajarkan bahwa kesalahan yang terbuka adalah jalan belajar.
  • Kemandirian dan transparansi. Kedekatan dengan dunia usaha dan politik hendaknya disertai aturan benturan kepentingan yang jelas, agar organisasi tetap berdaulat atas dirinya sendiri.

Penutup

Tidak ada pemimpin yang sempurna, dan kami tidak sedang menawarkan kultus. Kami hanya ingin menimbang dengan kepala dingin. Kombinasi sosok yang kuat dalam pemikiran, jaringan ekonomi, dan kedekatan dengan kalangan santri, juga yang teliti dan ikhlas adalah modal yang menjanjikan.

Selebihnya akan diuji oleh kerja nyata, dan kami, kader muda dan Alumni GMNI dari pesisir Madura, siap ikut mengawal serta mengkritik dengan hormat. Sebab berdikari dan berdaulat bukan hadiah dari atas. Ia dibangun bersama, dari ladang tembakau dan ladang garam di Sampang sampai ruang rapat di Surabaya.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi PEWARTA
Redaksi PEWARTA
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • [OPINI] Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu
  • [OPINI] Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu
  • [OPINI] Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu
  • [OPINI] Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu
  • [OPINI] Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu
  • [OPINI] Dari Pesisir Madura, Kami Melihat Harapan PA GMNI Pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu