Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Defisit APBN Capai Rp319 Triliun

Rupiah terancam tembus Rp18.000 per dolar AS di tengah defisit APBN Rp319 triliun dan risiko kenaikan harga minyak dunia.

rupiah tertekan defisit apbn rp319 triliun dan berpotensi melemah ke rp18000 per dolar as
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di tengah tekanan fiskal dan risiko kenaikan harga minyak global. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi global.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (12/10/2026), dengan perhatian pasar tertuju pada defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp319 triliun per September 2026.

Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS. Menurutnya, perkembangan kondisi fiskal domestik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kehati-hatian pelaku pasar valuta asing.

"Pergerakan rupiah pada perdagangan Senin ini cenderung fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pasar merespons pelebaran defisit APBN per September 2026 yang menyentuh Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari PDB," ujar Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jakarta, Senin (12/10/2026).

Defisit APBN tembus Rp319 triliun

Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN hingga September 2026 mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari produk domestik bruto (PDB). Posisi tersebut meningkat dibandingkan akhir Agustus 2026 yang tercatat sebesar 0,9 persen dari PDB.

Defisit terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar daripada pendapatan yang terkumpul. Hingga akhir September, belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau tumbuh 19 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), setara 69,2 persen dari pagu tahunan sebesar Rp3.842,7 triliun.

Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp2.341,5 triliun, meningkat 25,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi tersebut telah mencapai 74,2 persen dari target pendapatan negara sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp3.153,6 triliun.

Meski pertumbuhan pendapatan lebih tinggi daripada pertumbuhan belanja, besarnya pengeluaran negara tetap membuat APBN mencatatkan defisit. Namun, posisi defisit tersebut masih berada di bawah target akhir tahun pemerintah.

Harga minyak dunia turut membayangi rupiah

Selain perkembangan fiskal, kenaikan harga minyak mentah global menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan pasar. Menurut Ibrahim, kenaikan harga energi dapat meningkatkan beban subsidi pemerintah dan memengaruhi ruang fiskal pada sisa tahun anggaran.

"Sentimen lain yang memberatkan rupiah datang dari risiko kenaikan harga minyak dunia karena setiap kenaikan satu dolar per barel akan menambah beban APBN sekitar Rp6 triliun. Meski demikian, bantalan fiskal kita masih terbantu oleh surplus keseimbangan primer yang kini tercatat mencapai Rp125,5 triliun," kata Ibrahim.

Surplus keseimbangan primer sebesar Rp125,5 triliun tersebut melampaui rancangan awal APBN 2026 yang memproyeksikan defisit keseimbangan primer sebesar Rp89,7 triliun sepanjang tahun. Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang dapat membantu menahan tekanan terhadap posisi fiskal pemerintah.

Di sisi lain, pasar tetap mencermati risiko kenaikan belanja akibat perubahan harga komoditas energi. Perkembangan tersebut dinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia dan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Defisit September 2026 lebih rendah dibandingkan tahun lalu

Meski defisit APBN meningkat sepanjang 2026, perbandingan tahunan menunjukkan angka September tahun ini masih lebih rendah daripada periode yang sama pada 2025. Pada akhir Agustus 2025, defisit tercatat Rp321,6 triliun atau 1,35 persen dari PDB, sebelum meningkat menjadi Rp371,5 triliun pada September 2025.

Dengan defisit sebesar Rp319 triliun pada September 2026, nilainya turun sekitar 14,13 persen dibandingkan September tahun sebelumnya. Angka tersebut juga masih berada di bawah batas desain defisit APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen dari PDB.

Perbaikan secara tahunan itu menjadi salah satu penopang kondisi fiskal domestik. Kendati demikian, pelaku pasar tetap memperhitungkan risiko eksternal dan dinamika belanja pemerintah menjelang akhir tahun.

Rupiah diperkirakan bergerak hingga Rp18.060 sepekan ke depan

Untuk perdagangan selama sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS. Proyeksi tersebut mencerminkan potensi fluktuasi di tengah perhatian investor terhadap kondisi fiskal dan perkembangan pasar global.

"Untuk pergerakan sepanjang sepekan ke depan, diperkirakan mata uang Rupiah akan bergerak di rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS. Pelaku pasar masih terus mencermati keseimbangan antara perbaikan defisit tahunan dan risiko lonjakan belanja di sisa tahun anggaran," kata Ibrahim.

Dengan proyeksi tersebut, level Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu batas yang berpotensi disentuh rupiah dalam sepekan ke depan. Namun, angka tersebut merupakan perkiraan analis, bukan kepastian arah pergerakan nilai tukar.

Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan anggaran pemerintah, harga minyak dunia, serta sentimen ekonomi global sebelum menentukan posisi pada aset berdenominasi rupiah. Pergerakan aktual dapat berubah mengikuti perkembangan faktor domestik maupun eksternal.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi PEWARTA
Redaksi PEWARTA
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Defisit APBN Capai Rp319 Triliun
  • Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Defisit APBN Capai Rp319 Triliun
  • Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Defisit APBN Capai Rp319 Triliun
  • Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Defisit APBN Capai Rp319 Triliun
  • Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Defisit APBN Capai Rp319 Triliun
  • Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Defisit APBN Capai Rp319 Triliun