Sinyal Ekonomi RI Menguat: Inflasi Terkendali, Ekspor Naik, Manufaktur Kembali Ekspansi
![]() |
| Perekonomian Indonesia memasuki triwulan IV 2026 dengan inflasi terkendali, surplus perdagangan, dan manufaktur kembali berekspansi. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Perekonomian Indonesia memasuki triwulan IV 2026 dengan sejumlah indikator yang menunjukkan penguatan. Inflasi September tetap berada dalam sasaran, neraca perdagangan Januari-Agustus mencatat surplus, sementara aktivitas manufaktur kembali masuk zona ekspansi pada September 2026.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa fondasi perekonomian nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Pemerintah juga terus menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga daya beli, mendorong produksi, serta memperkuat investasi.
Inflasi September 2026 tetap terkendali
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Inflasi inti pada September tercatat 2,84 persen yoy. Sementara inflasi month-to-month berada di level 0,30 persen dan inflasi tahun kalender mencapai 2,17 persen.
Meski inflasi secara umum terkendali, komponen volatile food masih menjadi perhatian pemerintah. Tekanan harga pangan dipengaruhi antara lain oleh dinamika permintaan, gangguan produksi sejumlah komoditas hortikultura, cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.
“Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03 persen (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,” kata Haryo.
Pemerintah jaga daya beli masyarakat
Untuk menjaga daya beli sekaligus ketahanan pangan, pemerintah memperkuat sejumlah program perlindungan sosial dan intervensi pangan.
Langkah tersebut mencakup percepatan penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III, bantuan pangan beras sebanyak 10 kilogram per bulan untuk periode Oktober-Desember 2026, serta percepatan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium melalui Perum Bulog.
Kebijakan tersebut juga didukung Gerakan Pangan Murah, optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah, serta Kerja Sama Antar Daerah. Di sisi produksi, pemerintah memperkuat tata kelola air dan irigasi, penataan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, hingga sistem peringatan dini untuk daerah yang berpotensi mengalami defisit pangan.
Neraca perdagangan surplus USD7,25 miliar
Dari sektor eksternal, kinerja perdagangan Indonesia juga mencatat perkembangan positif.
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mengalami surplus sebesar USD7,25 miliar. Nilai ekspor pada periode yang sama mencapai USD193,64 miliar atau tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2025.
Kinerja ekspor antara lain ditopang komoditas besi dan baja senilai USD19,18 miliar, yang tumbuh 4,88 persen. CPO dan turunannya menyumbang USD17,75 miliar atau tumbuh 6,57 persen, sedangkan batu bara mencapai USD16,58 miliar atau meningkat 4,31 persen.
Ekspor produk industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen. Pemerintah menilai perkembangan tersebut mencerminkan kontribusi hilirisasi terhadap penguatan ekspor nasional.
Impor mesin ikut meningkat
Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari struktur impor Indonesia.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, impor bahan baku dan barang penolong mencapai USD133,38 miliar, sedangkan impor barang modal mencapai USD36,74 miliar. Kedua kelompok tersebut secara total menyumbang 91,3 persen dari keseluruhan impor barang.
Peningkatan juga terjadi pada impor mesin dan peralatan mekanis yang tumbuh 15,26 persen. Sementara impor mesin dan perlengkapan elektrik melonjak 22,94 persen.
Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap input produksi dan barang modal. Kondisi itu berjalan seiring dengan aktivitas produksi serta investasi domestik yang terus bergerak.
PMI manufaktur kembali ekspansi
Sektor manufaktur memberikan sinyal positif lainnya. PMI Manufaktur Indonesia yang disusun S&P Global naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali berada di zona ekspansi.
Pemulihan tersebut didorong peningkatan permintaan dan pesanan baru. Volume pesanan baru pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Februari 2026, sedangkan pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.
Peningkatan pesanan kemudian mendorong produksi, aktivitas pembelian, penyerapan tenaga kerja, dan persediaan input. Pelaku usaha juga tetap optimistis terhadap prospek produksi dalam 12 bulan mendatang.
Dari sisi biaya, tekanan harga input dan output juga melambat ke level terendah dalam enam bulan. Kondisi tersebut memberi ruang lebih besar bagi produsen untuk merespons peningkatan permintaan.
Pemerintah ingin momentum berlanjut
Kombinasi inflasi yang masih berada dalam sasaran, surplus perdagangan, serta kembalinya manufaktur ke zona ekspansi menjadi tiga indikator utama yang diperhatikan pemerintah memasuki triwulan IV 2026.
Meski demikian, pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama tekanan harga pangan serta ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, kebijakan tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan stabilitas harga, tetapi juga memastikan pertumbuhan aktivitas ekonomi dapat memberikan dampak lebih luas.
“Ke depan, kebijakan pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Haryo.
Dengan sejumlah indikator tersebut, perekonomian Indonesia memasuki penghujung 2026 dengan fondasi yang relatif terjaga. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan tren tersebut agar penguatan perdagangan, industri, dan daya beli dapat terus berlanjut hingga akhir tahun.
