Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Wamen UMKM Tegaskan Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar Harus Pulih dan Naik Kelas

Wamen UMKM Helvi Moraza menegaskan pemulihan UMKM terdampak bencana di Sumbar harus dilanjutkan dengan pendampingan agar usaha tumbuh dan naik kelas.

Wamen UMKM Helvi Moraza dampingi UMKM terdampak bencana Sumbar
Wamen UMKM Helvi Moraza saat memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM terdampak bencana di Sumatera Barat. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat pendampingan bagi pelaku usaha terdampak bencana di Sumatera Barat agar tidak hanya mampu memulihkan aktivitas bisnis, tetapi juga meningkatkan kapasitas dan daya saing.

Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza mengatakan pemulihan UMKM membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, mulai dari penguatan produksi, perluasan pasar hingga akses pembiayaan. Hal tersebut disampaikan saat kegiatan Peningkatan Kapasitas Wirausaha Terdampak Bencana di Universitas Andalas, Padang, Jumat (2/10/2026).

Menurut Helvi, pelaku UMKM terdampak bencana tidak hanya menghadapi kerusakan peralatan produksi dan kehilangan persediaan. Mereka juga perlu membangun kembali pelanggan, memperluas pasar, serta menjaga sumber penghasilan keluarga.

“Dampak bencana terhadap UMKM dan bagaimana mengantisipasinya justru menjadi tantangan paling berat setelah bencana terjadi. Karena itu, kami hadir untuk memastikan pengusaha UMKM mendapatkan pendampingan agar bisa memulai kembali usahanya dan menjaga keberlanjutannya,” ujar Helvi.

38 ribu UMKM Sumbar mendapat dukungan

Pemerintah telah menyiapkan dukungan bagi sekitar 38 ribu UMKM terdampak bencana di Sumatera Barat dengan total alokasi sekitar Rp115 miliar.

Helvi menegaskan bantuan tersebut tidak dimaksudkan berhenti pada pemberian dana. Pemerintah juga mendorong pelatihan dan pendampingan supaya bantuan dapat digunakan untuk memulihkan sekaligus mengembangkan kegiatan usaha.

“Kami memahami harapan Bapak dan Ibu pengusaha UMKM agar pendampingan ini tidak berhenti begitu saja. Karena itu, tujuan kami bukan sekadar menyalurkan bantuan yang kemudian digunakan tanpa arah pemberdayaan, melainkan memastikan bantuan tersebut mendukung pemulihan usaha,” kata Helvi.

Ia menjelaskan, penerima bantuan juga diarahkan mengikuti pelatihan dan pendampingan, termasuk literasi keuangan serta pencatatan transaksi melalui perbankan. Upaya tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memiliki catatan perkembangan yang dapat digunakan untuk membuka peluang pembiayaan.

Pendampingan diarahkan untuk mengembangkan usaha

Kementerian UMKM memandang fase setelah bencana sebagai tahap penting bagi keberlangsungan usaha masyarakat. Pelaku UMKM perlu mendapatkan pendampingan agar usaha yang kembali berjalan tidak berhenti pada kondisi sebelum bencana.

Pendampingan diarahkan pada peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, pemasaran, pemanfaatan kanal digital, hingga penguatan pencatatan keuangan. Dengan begitu, pelaku usaha diharapkan dapat memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.

“Keberhasilan kita juga tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan atau peserta yang hadir. Ukurannya harus terlihat pada perubahan nyata seperti produksi kembali berjalan, pesanan bertambah, pasar terbuka, pendapatan meningkat, dan mata pencaharian masyarakat tetap terjaga,” ungkap Helvi.

Universitas Andalas mencatat sekitar 800 pelaku usaha terdampak bencana mengikuti kegiatan Peningkatan Kapasitas Wirausaha Terdampak Bencana Regional II Sumatera Barat pada 2 Oktober 2026. Program tersebut menitikberatkan pada penguatan produksi, perluasan pasar, literasi keuangan, dan akses pembiayaan.

Klinik UMKM Minang Bangkit

Penguatan pendampingan tersebut merupakan kelanjutan dari Klinik UMKM Minang Bangkit yang diluncurkan di Sumatera Barat pada 23 Januari 2026.

Program tersebut dibentuk sebagai pusat layanan terpadu bagi UMKM terdampak bencana, dengan pendekatan yang mencakup pemulihan kondisi pelaku usaha, pemulihan kegiatan bisnis, serta pengembangan usaha.

Klinik UMKM Minang Bangkit juga mengintegrasikan pendampingan usaha dengan layanan konsultasi, akses permodalan, perluasan pasar, hingga pendampingan psikologis bagi pelaku usaha yang terdampak bencana.

Pada program peningkatan kapasitas yang digelar di Universitas Andalas, penguatan kapasitas diarahkan agar pelaku usaha dapat melanjutkan proses pemulihan menuju tahap pertumbuhan.

Secara keseluruhan, program tersebut dirancang menjangkau 1.475 pengusaha UMKM dan wirausaha di tiga regional. Regional II Sumatera Barat dipusatkan di Kota Padang.

Pemulihan UMKM membutuhkan kolaborasi

Helvi mendorong pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga inkubator, perbankan, dan mitra strategis lainnya untuk memperkuat kolaborasi dalam pemulihan UMKM.

Kolaborasi diperlukan agar pelaku usaha tetap mendapatkan akses konsultasi, informasi layanan, pembiayaan, pemasaran, dan solusi ketika menghadapi kendala setelah program pelatihan selesai.

Menurut Helvi, indikator keberhasilan bukan sekadar berapa banyak orang yang mengikuti kegiatan. Perubahan pada produksi, jumlah pesanan, cakupan pasar, pendapatan, dan keberlanjutan mata pencaharian menjadi ukuran yang lebih penting.

Pendekatan tersebut sejalan dengan program pemerintah yang menempatkan bantuan sebagai bagian dari pemberdayaan, bukan sekadar penyaluran dukungan finansial.

Mahyeldi apresiasi pendampingan pemerintah

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengapresiasi langkah Kementerian UMKM dalam memperkuat pemulihan usaha masyarakat terdampak bencana.

Mahyeldi mengatakan sektor UMKM memiliki peran besar terhadap perekonomian Sumatera Barat karena menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.

“Sumatera Barat memiliki hampir 750 ribu UMKM. Jika satu UMKM menopang satu keluarga dengan rata-rata lima orang, maka hampir empat juta masyarakat kita bergantung pada aktivitas ekonomi UMKM. Ini menunjukkan betapa pentingnya penguatan sektor UMKM bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi.

Menurutnya, pendampingan menjadi bagian penting dalam membantu pelaku usaha membangun kembali kegiatan ekonomi setelah bencana. Pemerintah daerah juga membutuhkan dukungan berbagai pihak agar proses tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sebelumnya, Mahyeldi juga menyatakan pemerintah daerah berkomitmen agar UMKM Sumatera Barat tidak hanya kembali pulih, tetapi mampu meningkatkan daya saing setelah melewati masa pemulihan.

Melalui penguatan produksi, pemasaran, pembiayaan, serta pendampingan berkelanjutan, pemulihan UMKM terdampak bencana di Sumatera Barat diarahkan tidak berhenti ketika aktivitas usaha kembali berjalan. Target berikutnya adalah membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas dan menjaga keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
Redaksi PEWARTA
Redaksi PEWARTA
Portal berita Indonesia terkini 2026, viral terbaru dan terpopuler hari ini disajikan secara update. Bagian dari ekosistem media online Pewarta Network.

WARTA TERBARU

  • Wamen UMKM Tegaskan Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar Harus Pulih dan Naik Kelas
  • Wamen UMKM Tegaskan Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar Harus Pulih dan Naik Kelas
  • Wamen UMKM Tegaskan Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar Harus Pulih dan Naik Kelas
  • Wamen UMKM Tegaskan Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar Harus Pulih dan Naik Kelas
  • Wamen UMKM Tegaskan Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar Harus Pulih dan Naik Kelas
  • Wamen UMKM Tegaskan Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar Harus Pulih dan Naik Kelas