Serangan Iran Rusak 274 Bangunan di 24 Pangkalan AS, Kerugian Diperkirakan Capai Rp271 Triliun
![]() |
| Kerusakan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah akibat serangan rudal dan drone Iran selama konflik kedua negara. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Serangan rudal dan drone Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas militer Amerika Serikat (AS) yang tersebar di sejumlah negara Timur Tengah.
Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan The Wall Street Journal (WSJ), sedikitnya 274 bangunan di 24 instalasi militer yang menampung personel AS mengalami kerusakan.
Nilai kerugian akibat serangan tersebut diperkirakan mencapai USD5 miliar hingga USD15 miliar atau sekitar Rp90,63 triliun sampai Rp271,90 triliun.
Laporan yang diterbitkan pada Jumat (30/10/2026) itu mengungkap bahwa kerusakan fasilitas militer AS menjadi salah satu beban tambahan dalam perang melawan Iran.
Pasalnya, Pentagon sebelumnya telah memperkirakan biaya perang mencapai USD47,1 miliar atau sekitar Rp853,78 triliun hingga 16 Oktober 2026. Angka tersebut belum memasukkan biaya perbaikan pangkalan militer yang rusak akibat serangan Iran.
Serangan Iran rusak ratusan bangunan di pangkalan AS
Analisis WSJ menemukan bahwa kerusakan terjadi di 24 instalasi militer yang memiliki kehadiran pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah.
Dari total tersebut, sedikitnya 119 bangunan di 13 instalasi militer mengalami kerusakan selama dua minggu pertama konflik.
Salah satu lokasi yang dilaporkan mengalami dampak cukup besar adalah markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Serangan Iran menggunakan rudal dan pesawat nirawak atau drone dilaporkan semakin akurat seiring meningkatnya eskalasi konflik.
Serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang aksi balasan Teheran setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang memicu konflik pada 28 Februari 2026.
Seorang pejabat AS yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada WSJ bahwa Pentagon memperkirakan kerusakan pangkalan militer akibat serangan Iran mencapai sedikitnya USD5 miliar.
Namun, sumber lain yang mengetahui perkiraan biaya tersebut menyebut nilai kerugian berpotensi meningkat hingga USD15 miliar.
Angka tertinggi tersebut setara dengan sekitar Rp271,90 triliun, berdasarkan konversi nilai mata uang dalam laporan.
Pentagon belum tentu memperbaiki seluruh fasilitas yang rusak
Besarnya kerusakan membuat pemerintah AS harus mempertimbangkan kembali penggunaan sejumlah pangkalan militernya di Timur Tengah.
Laporan WSJ menyebutkan bahwa beberapa fasilitas militer digunakan bersama oleh Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di kawasan tersebut.
Kondisi ini memungkinkan negara tuan rumah ikut menanggung sebagian biaya perbaikan infrastruktur yang mengalami kerusakan.
Selain itu, Pentagon dikabarkan mempertimbangkan untuk tidak memperbaiki seluruh fasilitas yang terdampak serangan Iran.
Washington bahkan disebut sedang mengkaji kemungkinan menarik personelnya dari sejumlah fasilitas militer di Kuwait dan Arab Saudi.
Langkah tersebut dipertimbangkan agar pasukan Amerika berada di lokasi yang lebih aman dan tidak mudah dijangkau serangan Iran.
Sebelumnya, Teheran telah menuntut penarikan seluruh pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah sebagai salah satu syarat tercapainya perdamaian jangka panjang.
Iran disebut mulai memulihkan fasilitas rudal
Di tengah kerusakan yang dialami pangkalan militer Amerika, Iran dilaporkan mulai memperbaiki sejumlah fasilitas rudal dan mengambil kembali persediaan senjata yang sebelumnya disimpan di lokasi tersembunyi.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian Washington karena kemampuan militer Teheran dinilai masih dapat digunakan untuk menghadapi kemungkinan serangan berikutnya.
Presiden AS Donald Trump juga dikabarkan sedang mempertimbangkan opsi melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran.
Situasi tersebut semakin rumit karena Amerika Serikat menghadapi keterbatasan persediaan rudal pencegat yang digunakan untuk menghadapi serangan rudal balistik dan ancaman udara lainnya.
Meski demikian, Menteri Perang AS Pete Hegseth sebelumnya meremehkan kemampuan militer Iran yang tersisa setelah berbagai serangan selama konflik.
Pada Agustus 2026, ia menyatakan bahwa kemampuan militer Teheran telah jauh berkurang dibandingkan kondisi sebelumnya.
"Mereka memang masih memiliki sejumlah kemampuan, tetapi kondisinya jauh dari keadaan mereka sebelumnya," ujar Hegseth.
Senator AS tuding pemerintah menutupi biaya perang
Besarnya kerugian akibat konflik juga memunculkan kritik dari kalangan anggota parlemen Amerika Serikat.
Senator Partai Demokrat Chris Murphy menuduh pemerintah AS berusaha menyembunyikan besarnya biaya sebenarnya yang harus ditanggung negara akibat perang melawan Iran.
Murphy, yang merupakan anggota Komite Hubungan Luar Negeri dan Subkomite Alokasi Senat untuk Pertahanan, menyampaikan kritik tersebut setelah dirinya tidak mendapatkan izin untuk mengunjungi Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Pangkalan tersebut merupakan salah satu fasilitas militer penting Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Dalam analisis citra satelitnya, WSJ menemukan sedikitnya belasan bangunan di pangkalan tersebut mengalami kerusakan.
Murphy menilai pembatasan akses terhadap fasilitas militer tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keterbukaan pemerintah dalam menyampaikan dampak perang.
Ia secara khusus menuduh pemerintah berupaya "menutupi biaya sebenarnya dari perang tersebut."
Sementara itu, Pentagon menjelaskan bahwa larangan kunjungan tersebut berkaitan dengan pembatasan perjalanan di kawasan Timur Tengah.
Biaya perang Iran sudah mencapai Rp853 triliun
Selain kerusakan pangkalan, perang melawan Iran telah menghabiskan anggaran militer Amerika Serikat dalam jumlah sangat besar.
Berdasarkan perkiraan terbaru Pentagon yang disampaikan kepada Kongres, biaya perang mencapai USD47,1 miliar atau sekitar Rp853,78 triliun hingga 16 Oktober 2026.
Pengeluaran tersebut terbagi dalam beberapa kategori utama.
Sekitar USD29 miliar atau Rp525,68 triliun digunakan untuk mengganti amunisi dan persenjataan yang telah dipakai selama operasi militer.
Kemudian, USD11,9 miliar atau sekitar Rp215,71 triliun dialokasikan untuk biaya operasional militer.
Sementara itu, sekitar USD6,1 miliar atau Rp110,57 triliun merupakan biaya akibat kehilangan berbagai peralatan dan perlengkapan militer.
Namun, perhitungan tersebut belum memasukkan kerugian akibat kerusakan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Artinya, total biaya perang berpotensi meningkat apabila pengeluaran untuk memperbaiki atau mengganti fasilitas yang rusak ikut dimasukkan.
Korban militer AS terus bertambah
Dampak perang melawan Iran tidak hanya terlihat dari kerusakan infrastruktur dan besarnya anggaran militer, tetapi juga korban dari pihak Amerika Serikat.
Militer AS mengakui terdapat 23 personel yang meninggal dunia dalam insiden terkait operasi perang melawan Iran.
Dari jumlah tersebut, 11 personel dilaporkan meninggal akibat serangan musuh.
Sementara itu, sebanyak 865 personel militer lainnya mengalami luka-luka selama konflik berlangsung.
Besarnya jumlah korban, kerusakan fasilitas, serta biaya operasional menunjukkan bahwa perang melawan Iran memberikan tekanan besar terhadap kemampuan militer dan keuangan Amerika Serikat.
Dengan tambahan potensi kerugian hingga USD15 miliar akibat kerusakan pangkalan, beban yang harus ditanggung Pentagon diperkirakan semakin besar apabila konflik kembali meningkat atau fasilitas militer yang terdampak harus dibangun ulang.
