Notification

×

Redaksi Samping

Medsos Samping

Ikuti kami di: / / / /

Translate

Billboard 1045x250 Dekstop

Bawah Navigasi Mobile

Bahaya Bakteri Salmonella Bagi Kesehatan yang Ada di Cokelat Kinder Surprise

Rabu, 13 April 2022 | 06:23 WIB Last Updated 2022-04-12T23:23:37Z

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA


Bahaya Salmonella Bagi Kesehatan yang Ada di Cokelat Kinder Surprise
Ilustrasi bakteri Salmonella

PEWARTA.CO.ID - Diberitakan sebelumnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menghentikan sementara peredaran produk cokelat Kinder Joy dari pasaran. Langkah ini diambil untuk mencegah dugaan penyebaran bakteri Salmonella.

BPOM juga mengimbau masyarakat untuk tidak membeli dan mengkonsumsi Kinder Joy terlebih dahulu sampai diketahui hasil uji lap yang dilakukan.

Meski begitu pihak BPOM belum bisa memastikan kapan hasil uji lab tersebut akan diumumkan ke publik.

"BPOM akan menghentikan peredaran produk merek Kinder Joy untuk sementara waktu," tulis BPOM dalam pernyataan resmi lembaga tersebut, Senin (12/4/2022).

Langkah preventif ini terkait pemberitaan adanya kandungan Salmonella dalam produk sejenis, yaitu Kinder Surprise yang sudah ditarik peredarannya di Eropa.

Meski produsen antara Kinder Surprise dan Kinder Joy berbeda, namun sikap yang diambil BPOM kali ini adalah sebagai bentuk kehati-hatian. Terlebih jenis snack ini menyasar pada target konsumen level anak-anak, sehingga perlu untuk mendapat perhatian.

Seseorang yang terinfeksi bakteri Salmonella dapat merasakan dampak buruk bagi kesehatannya. Gejala yang ditimbulkan pun beragam, mulai dari yang paling ringan sampai yang terburuk.

Untuk mengetahui bahaya Salmonella bagi kesehatan, silakan simak penjelasan berikut seperti dikutip dari laman detikHealth, Rabu (13/4/2022).

Tanda Gejala Terinfeksi Salmonella


Seseorang yang terkontaminasi bakteri Salmonella biasanya mengalami beberapa tanda gejala gangguan kesehatan, salah satunya adalah diare.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella disebut Salmonellosis. Awal terinfeksi Salmonella umumnya terjadi melalui air atau makanan yang dikonsumsi.

Ciri-ciri terinfeksi Salmonella dapat dikenali seperti munculnya keluhan seperti kram perut, muntah, feses darah, sakit perut, diare, sakit kepala, serta merasa demam dan atau kedinginan.

Namun, gejala tersebut tidak langsung muncul begitu saja. Rata-rata baru akan dirasakan penderitanya setelah 72 jam sejak terinfeksi.

Memang terdengar remeh untuk gejala yang dirasakan, layaknya keluhan pada sakit biasa akibat kelelahan. Namun faktanya tidak demikian. Penderita Salmonella biasanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk benar-benar normal, bahkan bisa dalam hitungan bulan.

Risiko Jika Terinfeksi Salmonella


Setelah mengetahui gejala tanda terinfeksi Salmonella, berlanjut mengetahui potensi risiko apa yang mungkin terjadi pada penderitanya.

1. Masalah Kekebalan Tubuh (Imunitas)


Beberapa kondisi medis yang berkaitan dengan kekebalan tubuh dan beberapa jenis obat ternyata bisa merusak kemampuan tubuh melawan infeksi Salmonella.

Artinya, orang yang memiliki penyakit tertentu berpotensi terkena risiko lebih parah jika terkontaminasi Salmonella. Penyakit yang berkaitan dengan imunitas di antaranya AIDS, Anemia sel sabit, dan Malaria.

Saat terjangkiti Salmonella, biasanya dokter menyarankan untuk mengkonsumsi obat seperti anti-rejection yang diminum setelah transplantasi organ, dan Kortikosteroid.

2. Gangguan Pencernaan dan Usus


Sebenarnya tubuh memiliki sistem pertahanan yang alami untuk melawan bakteri Salmonella, seperti asam lambung yang dapat membunuh bakteri jenis ini.

Namun, pada beberapa kondisi medis dan asupan obat, ternyata bisa merusakan pertahanan tersebut. Misalnya, orang yang terinfeksi Salmonella diketahui memiliki riwayat penyakit radang usus, maka bakteri Salmonella justru akan semakin mudah berkembang di dalam tubuh.

Sementara itu, Salmonella juga menjadi ancaman serius terjadinya komplikasi infeksi, terutama bagi kelompok usia tertentu seperti bayi dan anak kecil, lansia, penerima transplantasi, wanita hamil, dan orang dengan imun yang rendah.

Beberapa kasus ditemukan kemungkinan terjadinya komplikasi seperti dehidrasi parah, bakteremia, dan artritis reaktif.

(mri/naj)

Dapatkan berita terkini lainnya, serta viral hari ini di Indonesia terbaru dan terpopuler dari Pewarta.co.id melalui platform Google News.
close