Notification

×

Redaksi Samping

Medsos Samping

Ikuti kami di: / / / /

Translate

Billboard 1045x250 Dekstop

Bawah Navigasi Mobile

Dinsos Bondowoso Terima 8 Aduan Kasus Kekerasan dalam 5 Bulan Terakhir

Sabtu, 28 Mei 2022 | 08:11 WIB Last Updated 2022-05-28T01:11:09Z

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA


Dinsos Bondowoso Terima 8 Aduan Kasus Kekerasan dalam 5 Bulan Terakhir
Ilustrasi kekerasan pada anak

PEWARTA.CO.ID - Dalam lima bulan terakhir, Dinas Sosial (Dinsos) Bondowoso menerima delapan laporan terkait kasus kekerasan di wilayahnya. Ironisnya, kekerasan terjadi pada kaum perempuan dan anak-anak.

Menurut laporan, satu di antaranya adalah kasus kekerasan seksual yang menimpa anak usia 16 tahun, di mana pelakunya merupakan ayah kandung korban sendiri.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Bondowoso, Anisatul Hamidah mengatakan, pihaknya akan segera melakukan pendampingan kepada para korban.

"Itu semua kita dampingi. Alhamdulillah mereka saat ini masih sekolah," kata Hamidah dilansir dari suara.com, Sabtu (28/5/2022).

Hamidah mengungkapkan, dari laporan yang masuk terbanyak didominasi kasus kekerasan seksual.

"Dua-duanya, didominasi seksual," terangnya.

Melihat banyaknya kasus kekerasan pada anak di bawah umur di wilayah Kabupaten Bondowoso, lantas Hamidah mengimbau masyarakat untuk berani melapor.

Ia mengimbau, jika masyarakat mengetahui atau mungkin bahkan mengalaminya, dapat segera mengadu kepada P2TP2A Dinsos P3AKB.

"Jadi kami sifatnya tidak hanya menunggu laporan, ketika ada pengaduan, Dumas (aduan masyarakat) kami langsung datang," jelasnya.

Hamidah menjelaskan, untuk penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, pihaknya melakukan pendekatan secara diam-diam demi menjaga privasi keluarga yang bersangkutan.

"Jadi tidak seperti penanganan bencana alam. Kalau bencana alam itu rame-rame tidak apa-apa. Jadi kalau menangani kekerasan seksual harus silent," jelasnya.

Dinsos P3AKB dan P2TP2A, lanjut Hamidah, akan memberikan pendampingan dengan mengirimkan psikolog dan tim khusus.

Saat memberikan pendampingan pun, para petugas tidak akan mengenakan seragam dinas. Sebab dikhawatirkan dapat memperparah kondisi psikis korban.

"Karena mereka itu untuk bertemu orang saja takut, apalagi bertemu aparat. Kami lakukan pendekatan seperti itu, psikososial," tuturnya.

Dalam waktu dekat ini, lanjut Hamidah, Dinsos Bondowoso akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, guna memastikan korban tetap dapat bersekolah seperti biasa.

"Yang pertama kita dampingi psikisnya agar tidak tergoncang, tentu tergoncang tapi minimal kita pantau. Kedua kita pastikan mereka tidak dikeluarkan dari sekolahnya," paparnya.

Selain itu, pihaknya juga akan memantau kondisi kesehatan para korban dengan melibatkan tim dari Dinas Kesehatan Pemkab Bondowoso.


(nra/agt)

Dapatkan berita terkini lainnya, serta viral hari ini di Indonesia terbaru dan terpopuler dari Pewarta.co.id melalui platform Google News.
close