Notification

×

Redaksi Samping

Medsos Samping

Ikuti kami di: / / / /

Translate

Billboard 1045x250 Dekstop

Bawah Navigasi Mobile

Harga CPO Naik, Analis Sarankan Perusahaan Sawit Melantai di Bursa

Rabu, 11 Mei 2022 | 16:39 WIB Last Updated 2022-05-11T09:39:48Z

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA


Harga CPO Naik, Analis Sarankan Perusahaan Sawit Melantai di Bursa
Ilustrasi kebun kelapa sawit

PEWARTA.CO.ID - Kenaikan harga minyak sawit mentah dinilai menjadi momentum terbaik bagi perusahaan sawit untuk melantai di Bursa.

Hal itu dikemukakan oleh analis Fendi Susiyanto yang juga CEO PT Elkoranvidi Indonesia Investama. Ia mengatakan, kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) menjadi waktu yang tepat untuk perusahaan sawit untuk melakukan IPO.

Ia juga turut mendukung rencana PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) yang dikabarkan akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Sudah tepat jika perusahaan komoditas, termasuk CPO, melakukan IPO saat ini, karena sedang ada momentumnya. Kalau segi prospek baik. Dari sisi sektoral memungkinkan," ujarnya dikutip dari Tribun bisnis, Rabu (11/5/2022).

Namun demikian, keberhasilan sebuah perusahaan melakukan IPO juga ditunjang dari kesiapan internalnya.

Karenanya, Fendi menyarankan agar perusahaan sawit yang memiliki rencana untuk melantai di BEI dapat melakukan persiapan secara matang, serta dapat menangkap peluang bisnis saat momentumnya dirasa tepat seperti sekarang.

Selain itu, perlunya bagi pihak eksternal yang membawa IPO dapat menemukan kantong-kantong investor.

"Jangan sampai sektornya sudah bagus, tetapi perusahaannya belum siap. Penentu IPO dari internal dulu. Efek pasar bisa cukup tinggi karena ini sektornya lagi bagus. Tapi kalau penasihat keuangan atau underwriter-nya kurang mumpuni, maka tidak bisa membawa IPO dengan baik," tuturnya.

Fendi juga menjelaskan alasan kenapa saat ini menjadi momentum terbaik untuk IPO bagi perusahaan sawit tanah air. Di antaranya dipengaruhi oleh kenaikan harga CPO yang terus terjadi.

Selain itu, pasar saham menjadi pilihan untuk mendapatkan suntikan modal tambahan karena pencairan kredit bank dibatasi selama pandemi.

Sedangkan dari perspektif investor, karena rendahnya suku bunga dirasa menjadi kurang menarik. Sehingga dibutuhkan alternatif lain untuk menanamkan modalnya.

Tak ayal hal inilah yang menurut Fendi, membuat sejumlah penanam modal lebih memilih berinvestasi di pasar modal, khususnya sektor retail, selama pandemi ini. Meskipun faktanya pertumbuhan investor retail sangat lambat.

"Kalau kami lihat, ada potensi terjadinya super cycle commodity. Artinya, kenaikan cukup panjang dan cukup masuk akal. Terutama dari kasus global sudah recovery dan tumbuh lagi setelah pandemi. Permintaan bahan baku, terutama komoditas, naik," imbuhnya.

Pernyataan Fendi dirasa cukup rasional, mengingat saat ini tengah memasuki masa pemulihan ekonomi global. Dan lagi, sebab adanya perang Ukraina-Rusia juga menjadikan permintaan CPO dari Indonesia menjadi meningkat. Hal itu disebabkan terhambatnya distribusi bahan minyak mentah nabati dari kedua negara yang berseteru tersebut ke sejumlah negara, termasuk Eropa.

(wah/gli)

Dapatkan berita terkini lainnya, serta viral hari ini di Indonesia terbaru dan terpopuler dari Pewarta.co.id melalui platform Google News.
close