Notification

×

Redaksi Samping

Medsos Samping

Ikuti kami di: / / / /

Translate

Billboard 1045x250 Dekstop

Bawah Navigasi Mobile

Orasi Ilmiah di UB, Surya Paloh: Lebih Baik Tidak Ada Pemilu Jika...

Kamis, 28 Juli 2022 | 15:53 WIB Last Updated 2022-07-28T08:53:54Z

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA


Orasi Ilmiah di UB, Surya Paloh: Lebih Baik Tidak Ada Pemilu Jika...
Surya Paloh saat berpidato pada acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) NasDem 2022. (Dok. CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)

PEWARTA.CO.ID - Ketua Umum (Ketum) Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh mengatakan, sebaiknya tidak ada penyelenggaraan pemilu jika hanya menjadi sumber perpecahan di kalangan masyarakat.

Menurutnya, jalan meraih kekuasaan dengan mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa merupakan kerugian besar.

"Terlalu pendek akal kita dan terlalu tinggi nafsu kita, jika untuk memenangkan pemilu kita harus mempertaruhkan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Bagi saya pribadi, lebih baik tidak ada pemilu jika itu hanya memberikan konsekuensi pada perpecahan bangsa ini," kata Paloh saat menyampaikan orasi ilmiah di Universitas Brawijaya, Malang, Senin (25/7/2022).

Dirinya juga menambahkan, pemilu dalam 10 tahun terakhir selalu berpotensi menimbulkan perpecahan. Dia menilai, semua pihak seolah berhak melakukan apapun demi memenangkan pemilu, termasuk harus mengorbankan kerukunan masyarakat.

Ia juga menyampaikan, sebanyak dua kali gelaran pemilihan presiden telah memberikannya pengalaman bahwa kontestasi dalam pemilu bukanlah segalanya. Namun, pemilu hanyalah wadah untuk mencari sosok pemimpin yang terbaik.

Oleh sebab itu, ia sangat menyayangkan jika proses mencari sosok pemimpin tersebut harus mengorbankan sesuatu yang lebih besar, yaitu kerukunan masyarakat.

Paloh lantas menyoroti politik identitas yang kerap menjadi senjata salah satu kelompok untuk menjatuhkan kelompok lain.

Padahal dalam sejarah, lanjut dia, politik identitas tidak selamanya buruk. Politik identitas dulu digunakan untuk melawan diskriminasi dan ketidakadilan.

"Politik identitas sesungguhnya tidaklah selalu negatif. Dalam sejarahnya, politik identitas lahir dari perjuangan melawan diskriminasi dan ketidakadilan," ucapnya di hadapan audiens.

Mengutip pernyataan cendekiawan Yudi Latif, Paloh kemudian menyebutbahwa politik identitas dibedakan dalam tiga jenis, yaitu good, bad, and ugly.

Dalam pengertian baik atau good, politik identitas menjadi pembeda antara satu partai atau kelompok masyarakat dengan kelompok yang lain. Namun, perbedaan itu tak lantas membuat satu kelompok merasa ekslusif dan benar sendiri.

Lalu, dalam pengertian buruk atau bad, politik identitas hanya membuat satu kelompok merasa eksklusif dan tak mau mengenal kelompok lain. Mereka membatasi diri dengan enggan menjalin kerja sama.

Sementara dalam pengertian ugly, politik identitas digunakan untuk menyerang kelompok lain. Politik identitas dalam posisi ini membuat di satu sisi kelompok merasa paling benar, lalu di sisi lain menganggap kelompok lain salah.

"Paham dan praktik politik semacam ini, selain tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, juga membuat kita lupa seolah manusia adalah makhluk yang hanya memiliki satu identitas belaka," tuturnya.

"Kerusakan model ini pada gilirannya akan membawa politik identitas menjadi politik kebencian," sambungnya.

Dapatkan berita terkini lainnya, serta viral hari ini di Indonesia terbaru dan terpopuler dari Pewarta.co.id melalui platform Google News.
close