4 Tanda Pertandingan Bola Diatur Mafia, Begini Alur Pengaturan Match Fixing
![]() |
| Ilustrasi. Pengaturan skor atau match fixing. |
PEWARTA.CO.ID - Mungkin di antara Anda sebagai pecinta olahraga sepak bola telah sering mendengar istilah match fixing. Istilah ini merujuk pada pengaturan hasil pertandingan yang melibatkan bandar judi bola dengan oknum terkait, baik pemilik klub maupun pemain.
Tentu pola match fixing kerap meresahkan sejumlah pihak, terutama penggemar yang telah repot-repot datang ke stadion mendukung tim kebanggaannya tetapi hasilnya telah di atur.
Namun apa sebenarnya match fixing itu, dan bagaimana cara mengenali tanda ciri-ciri bahwa pertandingan tersebut telah diatur?
Dalam artikel ini mengulas tanda pertandingan bola diatur mafia, lengkap dengan penjelasan alur pengaturan match fixing tersebut dilakukan.
Apa itu match fixing?
Biasanya para petaruh kerap menebak-nebak hasil pertandingan demi mendapatkan keuntungan dari platform yang disediakan bandar bola. Seperti yang disediakan laman peluitpanjang.com misalnya, para pemain judi bola sering memasang taruhan untuk menebak skor suatu pertandingan yang telah akan atau sedang berlangsung.
Secara pemahaman, match fixing bukanlah tindakan yang curang, tetapi kondisi di mana satu pihak telah setuju untuk kalah, imbang, atau memenangkan pihak lawan demi tujuan tertentu. Karena jika anggapan curang, harusnya lebih ke menghalalkan segala cara untuk menang, seperti menggunakan doping misalnya.
Dalam mode pengaturan skor, ada dua jenis yang saat ini dikenal dengan arranged match fixing dan match fixing. Lalu apa bedanya?
Dikutip dari PanditFootball.com, Minggu (3/9/2023), arranged match fixing terjadi ketika koruptor memanipulasi pertandingan untuk memastikan salah satu tim meraih hasil imbang atau kalah. Sementara gambling match fixing terjadi ketika koruptor memanipulasi untuk tujuan meraup keuntungan sebesar mungkin dalam bursa taruhan.
Namun pemahaman sederhananya, arranged match fixing lebih ke menguntungkan salah satu tim yang bermain, sedang gambling match fixing cenderung menyabotase pihak-pihak tertentu demi mendapatkan keuntungan dari pihak bersangkutan.
Jadi, gambling match fixing tidak peduli tim manapun yang akan menang, terpenting mereka bisa mendapatkan keuntungan besar darinya.
Untuk mengenali tandanya, sebenarnya cukup mudah, ada ciri-ciri di mana kejanggalan dapat dirasakan bahkan oleh awam sekalipun. Misalnya, tim kuda hitam bisa menang dalam partai final.
Ada 4 tanda pertandingan bola diatur mafia, berikut poin penjelasan yang menyebabkan pertandingan tersebut bisa dikendalikan oleh oknum tertentu seperti dirangkum dari PanditFootball.
Pengaruh pasar taruhan
Match fixing sebenarnya tidak selalu soal perjudian, tetapi perjudian justru lebih sering memengaruhi hasil pertandingan.
Dalam match fixing biasanya ada dua hal yang diatur, yakni pengaturan pertandingan dan pengaturan pasar taruhan.
Pada dasarnya setiap pertandingan memiliki peluang (odd), di mana setiap taruhan memiliki nilai. Koruptor biasanya menemukan "pemain" tertentu untuk kalah, lalu mereka akan bertaruh di pihak tim lawan untuk menang agar mendapatkan keuntungan.
Semakin banyak uang yang mereka taruh untuk tim yang melawan "pemain" mereka, maka semakin besar pula peluang mendapat keuntungannya. Inilah yang disebut sebagai memengaruhi bursa pasar taruhan.
Indikasi besaran nominal taruhan juga akan menyebabkan dua hal, di mana jika nilainya terlalu besar maka akan membuat bandar curiga, sehingga mengubah odd juga. Namun jika nilainya terlalu kecil maka pengaturan pertandingan menjadi tidak layak, dan usaha suap menjadi sia-sia di pasar taruhan.
Petaruh biasanya sering berkamuflase sehingga tidak diketahui oleh bandar. Dan bandar seringnya menjadi "korban" dengan model permainan seperti ini.
Pelaku langsung
Umumnya pelaku match fixing dilakukan oleh wasit, pemain, dan administrator tim seperti manajer, ofisial, dan presiden klub. Dalam sebuah studi yang dilakukan Declan Hill, seorang jurnalis spesialis yang menelusuri terkait match fixing, ia menyebut kesuksesan match fixing terjadi jika berhasil menyuap administrator tim dibanding pemain dan wasit.
Kendati demikian ketiga unsur tersebut tetap berpeluang terjadi meski rata-rata kasus berada di kubu administrator.
Begini pemahamannya, jika wasit dan pemain tertentu di lapangan bisa dipengaruhi secara personal, maka peluang suksesnya pengaturan pertandingan lewat administrator akan lebih besar karena bisa memengaruhi dalam satu tim secara keseluruhan.
Pelaku tidak langsung
Koruptor tidak bisa terlibat secara langsung untuk mengatur pertandingan. Mereka akan mengajak wasit, pemain, administrator untuk bermain.
Proses pendekatannya juga dilakukan dengan skema yang rapi, seperti berusaha untuk menginap di satu hotel yang sama.
Kendati begitu, pendekatan yang dilakukan ini bisa mendatangkan risiko yang cukup besar bagi koruptor. Maka mereka kerap menggunakan jasa agen atau runner sebagai pihak perantara. Hal ini bisa melindungi koruptor dari deteksi, karena proses transaksi dilakukan dengan banyak layer.
Pemain pasif kelas kakap
Saat seorang koruptor gagal mendapatkan garansi keamanan dari runner atau agen, maka mereka sering menggunakan jasa underground.
Kompetisi sepakbola dengan sistem yang amatir akan lebih berpeluang diatur hasilnya. Terlebih pihak-pihak yang terlibat di dalamnya membantu mengatur pertandingan karena sama-sama membutuhkan.
Namun bagaimanapun, praktik match fixing bisa diberantas jika beberapa hal di atas dapat dipersempit ruang geraknya. Bukan tidak mungkin perjudian dalam sebuah pertandingan akan mampu diberantas jika setiap indikasi dapat tercium dengan mengenali tanda dan ciri-cirinya.
