Pasar LCGC Lesu, Daihatsu Ungkap Penyebab Turunnya Penjualan Mobil di 2025
![]() |
| Pasar LCGC Lesu, Daihatsu Ungkap Penyebab Turunnya Penjualan Mobil di 2025 |
PEWARTA.CO.ID — Pasar Low Cost Green Car (LCGC), yang sejak awal dirancang untuk memperluas akses masyarakat menengah terhadap kepemilikan mobil, kini menghadapi masa sulit.
Setelah sempat menjadi penggerak utama penjualan mobil nasional, performa segmen ini justru merosot dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut dianggap mencerminkan melemahnya daya beli konsumen di segmen menengah yang menjadi target utama LCGC.
Program LCGC pada awal peluncurannya sukses besar. Pemerintah menghadirkan skema mobil murah ramah lingkungan demi mendorong masyarakat untuk memiliki kendaraan roda empat dengan harga terjangkau.
Kebijakan itu bahkan sempat mengangkat total penjualan mobil hingga menembus angka 1 juta unit. Namun, tren positif tersebut kini mulai kehilangan daya dorongnya.
Marketing and Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Sri Agung Handayani, mengungkapkan bahwa penurunan paling tajam dalam penjualan kendaraan terjadi pada segmen LCGC.
“Secara year-to-date sampai Oktober, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, market yang paling turun itu adalah LCGC, penurunannya sebesar 4,1 persen,” kata Sri Agung Handayani di Jakarta, dikutip Minggu (30/11/2025).
Tidak hanya LCGC, pelemahan penjualan juga terjadi pada beberapa segmen lain. Sri Agung menjelaskan bahwa low MPV mengalami penurunan sekitar 2,4 persen, sementara medium SUV turun sekitar 1,1 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Menurutnya, penyusutan jumlah pemain LCGC turut mempengaruhi kondisi pasar.
“Sekarang LCGC tinggal tiga (pemain-red), berarti marketnya tinggal 16,3 persen. Padahal dulunya di angka 21,4 persen. Jadi penurunannya paling banyak, secara absolut besar sekali,” ucapnya.
![]() |
| Mobil LCGC Daihatsu Sigra |
Daihatsu berharap kondisi perekonomian Indonesia membaik pada tahun mendatang seiring dengan penerapan sejumlah regulasi baru.
Pemulihan ekonomi dinilai akan sangat menentukan, terutama bagi industri otomotif yang mengandalkan konsumen pembeli pertama atau first car buyer.
“Selama ekonomi makroekonomi yang baik, bisa bergulir pertumbuhan ekonominya membaik, ada daya beli, secara bulanannya dia sehat pendapatannya, maka first car buyer memiliki daya bayar yang baik juga,” ujar Sri Agung.
Data wholesales Gaikindo menunjukkan pelemahan yang jauh lebih signifikan dibandingkan penurunan persentase pasar. Sepanjang Januari–Oktober 2025, distribusi LCGC hanya mencapai 97.556 unit, anjlok 34,8 persen dari periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 149.583 unit.
Penurunan drastis itu memperlihatkan bahwa segmen mobil murah kini berada di titik krusial. Para pelaku industri menilai bahwa upaya membangkitkan kembali minat pembeli membutuhkan kombinasi antara pemulihan ekonomi, kebijakan pemerintah, dan strategi produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen menengah saat ini.

