Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

AS Lancarkan Serangan Besar ke ISIS di Suriah, Operasi Hawkeye Strike Diperluas

AS Lancarkan Serangan Besar ke ISIS di Suriah, Operasi Hawkeye Strike Diperluas
AS Lancarkan Serangan Besar ke ISIS di Suriah, Operasi Hawkeye Strike Diperluas

PEWARTA.CO.ID — Amerika Serikat (AS) bersama pasukan sekutunya melancarkan serangan militer berskala besar ke sejumlah target kelompok teroris ISIS di wilayah Suriah, Sabtu (10/1/2026).

Operasi ini menjadi salah satu aksi militer paling signifikan AS di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir.

Serangan itu dikonfirmasi langsung oleh Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) dan disebut sebagai bagian dari Operasi Hawkeye Strike, yang sebelumnya telah diumumkan pada Desember 2025.

Balasan atas serangan mematikan ISIS

Centcom menyebut, Presiden AS Donald Trump memberikan perintah langsung untuk melancarkan operasi tersebut sebagai bentuk pembalasan atas serangan ISIS yang menewaskan personel AS di Suriah pada 13 Desember lalu.

Serangan balasan ini juga dimaksudkan untuk menekan aktivitas terorisme serta melindungi pasukan AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.

"Pesan kami tetap tegas: jika Anda melukai prajurit kami, kami akan menemukan dan membunuh Anda di mana pun di dunia, tidak peduli seberapa keras Anda mencoba menghindari keadilan," kata Centcom.

Pernyataan itu menegaskan sikap keras Washington terhadap setiap ancaman yang menyasar personel militernya, baik di Suriah maupun wilayah konflik lainnya.

Puluhan target diserang dengan amunisi presisi

Seorang pejabat AS yang dikutip CBS News, mitra BBC di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa dalam operasi tersebut AS dan sekutunya melepaskan lebih dari 90 amunisi presisi ke lebih dari 35 target ISIS. Serangan ini melibatkan lebih dari 20 pesawat tempur dan drone.

Pesawat yang dikerahkan antara lain F-15E, A-10, AC-130J, MQ-9 Reaper, serta F-16 milik Angkatan Udara Yordania. Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi terkait lokasi detail serangan maupun jumlah korban dari pihak ISIS.

Pernyataan tegas pentagon

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, turut menegaskan komitmen pemerintahannya dalam memerangi ISIS. Melalui akun X miliknya, ia menulis, "Kami tidak akan pernah lupa, dan tidak akan pernah menyerah," merujuk pada aksi militer terbaru tersebut.

Operasi Hawkeye Strike pertama kali diumumkan pada Desember 2025, menyusul penyergapan ISIS di Palmyra, Suriah tengah. Dalam insiden itu, dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil AS tewas.

"Ini bukan awal dari perang - ini adalah deklarasi pembalasan," kata Hegseth ketika mengumumkan operasi tersebut pada bulan Desember.

"Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Trump, tidak akan pernah ragu dan tidak akan pernah menyerah untuk membela rakyat kami."

Rentetan operasi militer sejak Desember

Sebelum serangan besar pada Sabtu lalu, Centcom mencatat bahwa pasukan AS telah membunuh atau menangkap hampir 25 anggota ISIS dalam 11 misi terpisah sepanjang 20 hingga 29 Desember 2025. Seluruh misi tersebut merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike.

Pada misi perdana operasi itu, 19 Desember 2025, pasukan AS dan Yordania melancarkan serangan besar-besaran ke ISIS di Suriah tengah. Operasi tersebut melibatkan jet tempur, helikopter serang, dan artileri, dengan sasaran lebih dari 70 target di berbagai lokasi.

Centcom menyebut operasi itu menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi untuk menghantam infrastruktur dan gudang senjata ISIS yang telah teridentifikasi.

Situasi Suriah masih rapuh

Serangkaian serangan ini terjadi di tengah kondisi Suriah yang masih belum stabil. Negara tersebut berada dalam fase rapuh sejak tumbangnya rezim Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024, yang secara efektif mengakhiri perang saudara selama 13 tahun.

Saat ini, Suriah dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa, yang juga dikenal dengan nama Abu Mohammed al-Jolani. Ia menjabat sebagai presiden setelah kelompok pemberontaknya berhasil menggulingkan Assad dan mengonsolidasikan kekuasaan.

Meski kekuatan ISIS di Suriah telah melemah, namun kelompok tersebut masih aktif, terutama dengan melancarkan serangan terhadap pasukan pimpinan Kurdi di wilayah timur laut sepanjang 2025. Kondisi ini membuat kawasan tersebut tetap menjadi titik rawan konflik dan operasi militer berkelanjutan.

Advertisement
Advertisement
Advertisement