Iran Ultimatum AS: Sekali Saja Serang Khamenei Sama dengan Ajak Perang!
![]() |
| Iran Ultimatum AS: Sekali Saja Serang Khamenei Sama dengan Ajak Perang! |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat di tengah memanasnya ketegangan geopolitik. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa serangan sekecil apa pun terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan diperlakukan sebagai deklarasi perang terbuka terhadap bangsa Iran.
Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi internasional mengenai kemungkinan rencana mantan Presiden AS, Donald Trump, untuk menyingkirkan atau bahkan membunuh Khamenei. Situasi ini memperparah ketegangan yang sudah meningkat akibat gelombang protes besar di dalam negeri Iran.
Iran tegaskan garis merah soal Khamenei
Melalui unggahan di platform X, Pezeshkian menyampaikan ancaman tegas yang ditujukan langsung kepada pihak luar, khususnya Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa posisi Khamenei bukan sekadar simbol politik, melainkan representasi kedaulatan nasional Iran.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kami sama artinya dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran," ancam Iran dilansir dari The Guardian.
Peringatan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika stabilitas kepemimpinan tertingginya diganggu oleh kekuatan asing.
AS dituding jadi biang tekanan dan kerusuhan
Dalam pernyataan lanjutan, Pezeshkian juga menuding Amerika Serikat sebagai penyebab utama memburuknya kondisi sosial dan ekonomi Iran. Menurutnya, sanksi berkepanjangan dan permusuhan Washington telah memberi dampak langsung terhadap kehidupan rakyat.
“Jika terdapat kesulitan dan tekanan dalam kehidupan rakyat Iran tercinta, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan yang telah berlangsung lama serta sanksi tidak manusiawi yang dijatuhkan oleh pemerintah AS dan sekutu-sekutunya,” ujar Pezeshkian.
Ia menyiratkan bahwa tekanan eksternal turut memicu ketidakstabilan domestik yang berujung pada gelombang demonstrasi besar-besaran.
Trump serukan akhir kekuasaan Khamenei
Di sisi lain, Donald Trump dalam wawancara dengan Politico pada Sabtu lalu secara terbuka menyerang kepemimpinan Khamenei. Ia bahkan menyerukan agar kekuasaan Khamenei yang telah berlangsung hampir empat dekade segera diakhiri.
Trump menyebut Khamenei sebagai “orang sakit yang seharusnya mengelola negaranya dengan benar dan berhenti membunuh rakyatnya.” Pernyataan tersebut semakin memperuncing hubungan AS–Iran yang sudah berada di titik nadir.
Akar kerusuhan: Krisis ekonomi hingga tuntutan ganti rezim
Gelombang kerusuhan terbaru di Iran pecah sejak 28 Desember. Awalnya, protes dipicu oleh kemarahan publik atas lonjakan inflasi, anjloknya nilai mata uang, serta kondisi ekonomi yang semakin menekan.
Namun, demonstrasi tersebut dengan cepat meluas dari Teheran ke berbagai kota besar lain dan berubah menjadi gerakan anti-pemerintah. Tuntutan yang semula soal biaya hidup berkembang menjadi seruan perubahan rezim secara terbuka.
Internet diputus, dunia luar terputus
Menghadapi eskalasi protes, otoritas Iran pada 8 Januari mengambil langkah ekstrem dengan hampir sepenuhnya mematikan akses internet dan layanan telepon. Kebijakan ini membuat sebagian besar warga terputus dari konektivitas global.
Langkah tersebut dinilai bertujuan menekan arus komunikasi, menutupi skala kerusuhan yang terjadi, serta membungkam laporan independen dari dalam negeri. Akibatnya, banyak warga Iran terisolasi dari dunia luar selama beberapa hari.
AS hampir serang, sekutu desak menahan diri
Di tengah situasi genting, Trump pada Selasa lalu justru mendorong rakyat Iran untuk terus melakukan unjuk rasa. Bahkan, pada Rabu, Amerika Serikat disebut hampir melancarkan serangan militer ke Iran.
Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah Trump memutuskan menunda aksi militer di tengah meningkatnya tekanan regional dan jalur diplomatik.
Situs berita Axios melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah memperingatkan Trump bahwa Israel belum siap menghadapi potensi serangan balasan dari Iran.
Netanyahu juga mempertanyakan efektivitas serangan militer AS terhadap Iran. Selain itu, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dikabarkan turut mendesak agar semua pihak menahan diri demi menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Ribuan tewas dan puluhan ribu ditangkap
Seorang pejabat Iran mengungkapkan bahwa sedikitnya 5.000 orang tewas selama gelombang protes, termasuk sekitar 500 personel keamanan. Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah kerusuhan modern Iran.
Dalam pidato pada Kamis, Ayatollah Ali Khamenei untuk pertama kalinya mengakui besarnya jumlah korban jiwa. Ia menyebut ribuan orang tewas, “sebagian dengan cara yang tidak manusiawi dan brutal.”
Khamenei secara terbuka menyalahkan Amerika Serikat atas jatuhnya korban, mengecam Trump yang ia sebut sebagai “penjahat” karena mendukung demonstrasi, serta menyerukan penindakan keras terhadap para pengunjuk rasa.
Sementara itu, kantor berita Human Rights Activists melaporkan bahwa sebanyak 24.348 demonstran telah ditangkap dalam operasi penindakan aparat keamanan Iran.
Hingga beberapa hari terakhir, tidak ada laporan mengenai aksi protes lanjutan di Iran, meski ketegangan politik dan ancaman konflik dengan Amerika Serikat masih membayangi kawasan.
