Jepang Kagum Program MBG Indonesia, Soroti Perbedaan Standar Memasak
![]() |
| Jepang Kagum Program MBG Indonesia, Soroti Perbedaan Standar Memasak |
PEWARTA.CO.ID — Kamar Dagang dan Industri Jepang atau Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI) melakukan studi banding terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia.
Kunjungan ini bertujuan mempelajari sistem penyediaan makanan bergizi yang dijalankan pemerintah Indonesia dalam skala besar dan terstruktur.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi JCCI menyambangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasir Putih, Sawangan, Depok.
Mereka melihat langsung bagaimana program MBG diimplementasikan hingga mampu menjangkau hampir 60 juta penerima manfaat setiap hari. Jumlah ini dinilai sangat signifikan, bahkan setara dengan hampir setengah populasi Jepang.
Ketua delegasi JCCI, Hayashi Hiroto, menyampaikan kekagumannya terhadap capaian Indonesia dalam menjalankan program berskala masif tersebut. Menurutnya, keberhasilan MBG membuat Indonesia layak menjadi rujukan internasional, termasuk bagi Jepang.
“Capaian MBG menunjukkan Indonesia mampu menjalankan program berskala masif dan kini menjadi lokasi studi banding. Kolaborasi dengan Jepang akan memperkuat kualitas serta keamanan pangan, sekaligus mempererat hubungan kedua negara,” ujar Ketua delegasi JCCI Hayashi Hiroto, sebagaimana dikutip, Minggu (18/1/2026).
Meski demikian, Kadin Jepang juga memberikan sejumlah catatan penting, khususnya terkait aspek keamanan pangan. Ia menilai bahwa petunjuk teknis dan standar operasional MBG di Indonesia sudah berada pada level tinggi dan hampir menyamai standar yang diterapkan di Jepang. Namun, terdapat perbedaan mendasar pada tahap proses memasak.
“Yang membedakan adalah pada tahap memasak. Di Jepang, suhu setiap menu diukur sebelum disajikan, dengan standar minimal 80 derajat Celsius untuk memastikan makanan aman,” ucapnya.
Selain menyampaikan masukan, delegasi Jepang turut menawarkan peluang kerja sama konkret. Salah satunya adalah program magang bagi siswa SMK Yayasan Bina Mulia jurusan Tata Boga.
Tak hanya itu, Jepang juga membuka kesempatan pelatihan bagi Kepala SPPG Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bagian dari upaya transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Sebagai catatan, Jepang telah memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan program makan siang sekolah sejak tahun 1889 atau lebih dari 137 tahun.
Pengalaman tersebut dinilai relevan dan berharga sebagai referensi untuk terus meningkatkan kualitas serta keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.
