Menkeu Purbaya Prediksi Rupiah Menguat dalam Dua Pekan Lagi, Ini Alasannya
![]() |
| Menkeu Purbaya Prediksi Rupiah Menguat dalam Dua Pekan Lagi, Ini Alasannya |
PEWARTA.CO.ID — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme kuat terhadap prospek nilai tukar Rupiah yang belakangan melemah dan nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan akan segera berbalik arah dalam waktu dekat.
Di tengah tekanan global yang masih berlangsung, Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Ia bahkan memperkirakan penguatan Rupiah mulai terlihat dalam dua minggu ke depan.
"Dua minggu ini (rupiah bakal menguat)," ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Fundamental ekonomi jadi penopang utama
Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. Menurut Purbaya, daya tarik ekonomi nasional masih sangat kuat di mata investor global. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menembus kisaran 6 persen pada tahun ini, sebuah angka yang dinilai cukup kompetitif di tengah perlambatan ekonomi dunia.
Proyeksi tersebut diyakini akan mendorong arus modal asing kembali masuk (capital inflow) ke pasar domestik, sehingga memberikan tekanan positif bagi nilai tukar Rupiah.
“Jadi Anda enggak usah takut, fondasi kita kuat. Rupiah akan (menguat) karena modal akan masuk ke sini. Orang Indonesia yang menaruh uangnya di luar negeri juga akan balik. Dia akan berbisnis di sini, karena orang Indonesia tidak bisa berbisnis di luar negeri, mereka tidak biasa bersaing sehat di sana," tegas Purbaya.
Modal asing diproyeksi kembali masuk
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa tren perbaikan ekonomi akan berjalan seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor. Setelah mencatatkan pertumbuhan sekitar 5,45 persen pada kuartal IV tahun lalu, pemerintah kini fokus mendorong akselerasi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Menurutnya, negara dengan prospek pertumbuhan tinggi akan selalu menjadi tujuan utama aliran modal global.
"Kalau nanti ekonominya membaik terus, harusnya Rupiah kan menguat juga, hampir otomatis. Kenapa? Karena modal-modal asing akan masuk. Mereka akan masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," tambahnya.
Bank Indonesia perkuat stabilitas nilai tukar
Optimisme Menteri Keuangan tersebut sejalan dengan langkah-langkah strategis yang diambil Bank Indonesia (BI). Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah hingga ke kisaran Rp16.860 per USD lebih dipicu faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik global.
BI, kata Erwin, terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi aktif di berbagai instrumen pasar, baik di dalam maupun luar negeri.
"Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder," jelas Erwin.
Cadangan devisa jadi tameng di tengah gejolak global
Meski secara year-to-date Rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 1,04 persen, BI menilai ketahanan eksternal Indonesia masih berada pada level yang aman.
Cadangan devisa nasional tercatat mencapai USD156,5 miliar, angka yang dinilai cukup kuat untuk menjadi bantalan menghadapi ketidakpastian moneter global.
Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang solid, proyeksi pertumbuhan yang menjanjikan, serta kebijakan stabilisasi yang konsisten, pemerintah dan otoritas moneter optimistis pergerakan Rupiah akan kembali ke jalur penguatan dalam waktu dekat.
