Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Iran Tiba-tiba Tutup Selat Hormuz, Dunia Waspada di Tengah Negosiasi Nuklir dengan AS

Iran Tiba-tiba Tutup Selat Hormuz, Dunia Waspada di Tengah Negosiasi Nuklir dengan AS
Iran Tiba-tiba Tutup Selat Hormuz, Dunia Waspada di Tengah Negosiasi Nuklir dengan AS

PEWARTA.CO.ID — Pemerintah Iran mengumumkan penutupan sementara Selat Hormuz pada Selasa (17/2/2026) untuk kepentingan latihan tembak langsung.

Langkah ini terjadi bertepatan dengan putaran terbaru pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Amerika Serikat terkait program nuklir Republik Islam tersebut.

Pengumuman tersebut langsung menyita perhatian dunia. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasinya. Penutupan, meski disebut bersifat sementara, dinilai sebagai sinyal tegas Iran di tengah meningkatnya tekanan dari Washington.

Ini menjadi kali pertama Teheran secara terbuka menyatakan penutupan jalur laut strategis tersebut sejak Amerika Serikat meningkatkan ancaman dan mengerahkan tambahan kekuatan militernya ke kawasan.

Hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai dampak langsung terhadap lalu lintas pelayaran, namun langkah ini dinilai berpotensi memperuncing ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Latihan militer di jalur strategis

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan militer telah meluncurkan rudal ke arah perairan Selat Hormuz sebagai bagian dari latihan. Otoritas setempat menyebut penutupan dilakukan selama beberapa jam dengan alasan keamanan dan keselamatan maritim.

Latihan tersebut digelar di kawasan Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Teluk Oman—tiga wilayah yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia. Garda Revolusi Iran disebut telah memulai latihan sejak Senin pagi waktu setempat.

Bukan kali pertama Iran menggelar latihan tembak langsung di kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Namun, deklarasi penutupan resmi atas jalur internasional itu dianggap sebagai eskalasi yang lebih serius.

Selama ini, Iran memang kerap melakukan manuver militer di wilayah perairan tersebut, yang terkadang memperlambat aktivitas pelayaran. Akan tetapi, pengumuman penutupan secara terbuka dipandang sebagai pesan kuat bahwa setiap potensi serangan terhadap Iran bisa membawa dampak luas bagi stabilitas global.

Negosiasi nuklir masih berlangsung

Di tengah memanasnya situasi, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan optimisme terkait proses diplomasi yang sedang berjalan.

Ia menyatakan bahwa “peluang baru telah terbuka” untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat.

“Kami berharap bahwa negosiasi akan mengarah pada solusi yang berkelanjutan dan dinegosiasikan yang dapat melayani kepentingan pihak-pihak terkait dan kawasan yang lebih luas,” kata Araghchi kepada konferensi perlucutan senjata PBB, sebagaimana dilansir Associated Press.

Ia juga menegaskan bahwa Iran siap menghadapi segala bentuk ancaman.

Araghchi menambahkan bahwa Iran “tetap sepenuhnya siap untuk membela diri terhadap ancaman atau tindakan agresi apa pun,” dan bahwa konsekuensi dari serangan apa pun terhadap Iran tidak akan terbatas pada perbatasannya.

Araghchi memimpin langsung delegasi Iran dalam perundingan yang digelar di Jenewa. Pembicaraan tersebut merupakan kelanjutan dari upaya panjang kedua negara untuk menghidupkan kembali kesepakatan yang membatasi program nuklir Iran.

AS tambah kekuatan militer

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pekan lalu mengumumkan pengiriman kapal induk terbesar dunia, USS Gerald R. Ford, ke kawasan Timur Tengah.

Kapal tersebut dijadwalkan bergabung dengan USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali yang telah berada di wilayah itu selama tiga pekan terakhir.

Penambahan kekuatan militer ini dinilai sebagai bentuk tekanan terhadap Teheran agar bersedia membatasi aktivitas nuklirnya. Washington menegaskan tujuannya adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Iran berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan tidak bertujuan menciptakan senjata. Teheran juga menolak tuntutan untuk menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri maupun menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Bayang-bayang konflik baru

Negosiasi antara AS dan Iran sejatinya telah berlangsung selama berbulan-bulan sebelum pecahnya konflik singkat antara Israel dan Iran pada Juni lalu. Perang selama 12 hari itu menghentikan proses diplomasi yang tengah berjalan.

Dalam konflik tersebut, Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran. Serangan itu diyakini merusak sentrifugal yang digunakan untuk memperkaya uranium hingga mendekati tingkat kemurnian senjata.

Sementara itu, serangan Israel disebut menghancurkan sistem pertahanan udara Iran dan menargetkan persenjataan rudal balistiknya.

Sebelum konflik pecah, Iran dilaporkan telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen—hanya selangkah teknis menuju level yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Negara-negara Teluk Arab telah memperingatkan bahwa setiap eskalasi lebih lanjut berisiko memicu konflik regional baru di kawasan yang masih terguncang oleh perang Israel-Hamas.

Penutupan Selat Hormuz di tengah negosiasi nuklir ini pun menjadi simbol tarik-menarik kepentingan antara diplomasi dan demonstrasi kekuatan militer.

Dunia kini menanti apakah langkah tersebut akan menjadi tekanan strategis semata, atau justru awal dari babak ketegangan yang lebih besar di Timur Tengah.

Advertisement
Advertisement
Advertisement