Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Militer China Bergejolak, Dua Jenderal Senior Dicopot dari Komando Tertinggi

Militer China Bergejolak, Dua Jenderal Senior Dicopot dari Komando Tertinggi
Militer China Bergejolak, Dua Jenderal Senior Dicopot dari Komando Tertinggi

PEWARTA.CO.ID — Militer China kembali menjadi perhatian dunia internasional setelah dua perwira tinggi dicopot dari struktur tertinggi angkatan bersenjata.

Langkah tersebut memicu spekulasi luas mengenai kesiapan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dalam menghadapi potensi konflik di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas.

Pencopotan dua tokoh senior di tubuh Komisi Militer Pusat (CMC) Tiongkok dinilai bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Sejumlah pengamat melihatnya sebagai bagian dari pembersihan internal yang berdampak langsung terhadap stabilitas kepemimpinan militer.

Dua nama yang terdampak adalah Wakil Ketua CMC Jenderal Zhang Youxia serta perwira senior Liu Zhenli. Dengan pencopotan ini, jumlah anggota CMC menyusut drastis, menyisakan Ketua Xi Jinping dan satu anggota lainnya, Zhang Shengmin.

Situasi tersebut menandai perubahan signifikan dalam struktur komando inti militer China, yang biasanya diisi tujuh anggota.

Konsolidasi kekuasaan dan risiko stabilitas

Konsultan risiko politik berbasis di New York, SinoInsider, menilai penyusutan komposisi CMC ini sebagai fase paling sensitif secara politik selama masa kepemimpinan Xi. Menurut mereka, kondisi tersebut berpotensi mengguncang stabilitas kelembagaan di level komando tertinggi.

Analis pertahanan juga menyoroti bahwa perombakan ini menghilangkan figur-figur berpengalaman dari lingkaran inti militer, khususnya mereka yang memiliki pengalaman operasional di lapangan.

Evan Sankey dari Cato Institute menyatakan bahwa komisi yang biasanya beranggotakan tujuh orang kini hanya dijalankan oleh dua figur. Ia mencatat bahwa keduanya tidak memiliki pengalaman tempur langsung.

Dalam pandangannya, kondisi ini mencerminkan konsolidasi kekuasaan jangka pendek oleh Xi sekaligus kemunduran reputasi tata kelola militer China, sebagaimana dilaporkan Nepal Aaja, Senin (16/2/2026).

Gangguan perencanaan dan kesiapan operasional

SinoInsider menilai pencopotan tersebut terjadi beriringan dengan kampanye antikorupsi serta pembenahan di departemen peralatan dan politik militer. Kombinasi langkah ini diperkirakan dapat menghambat siklus perencanaan strategis serta memperlambat kesiapan operasional PLA.

Perubahan kepemimpinan yang berulang di level komando teater, ditambah pemecatan figur-figur senior, dinilai berpotensi mengurangi kemampuan koordinasi dalam menjalankan operasi militer kompleks. Gangguan ini disebut berkaitan erat dengan restrukturisasi menyeluruh dan upaya penegakan disiplin internal yang sedang berlangsung.

Para analis memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dalam tubuh militer.

Efek psikologis dan budaya organisasi

Shanshan Mei dari RAND Corporation menilai atmosfer yang tercipta akibat pencopotan beruntun dapat memunculkan rasa takut serta kecenderungan menghindari risiko. Dampak ini, menurutnya, tidak hanya terasa di kalangan militer, tetapi juga meluas ke institusi pemerintahan lain.

Ketidakpastian mengenai siapa yang mungkin menjadi target berikutnya diyakini meningkatkan kewaspadaan berlebihan di kalangan pejabat, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas pengambilan keputusan.

Sementara itu, Zi Yang dari S. Rajaratnam School of International Studies menggambarkan kejatuhan Zhang dan Liu sebagai peristiwa yang tidak lazim dalam inti profesional PLA. Salah satu dari mereka dikenal sebagai veteran tempur yang berprestasi.

Menurutnya, skala pergantian ini mengingatkan pada periode pergolakan politik bersejarah di China. Ia memperkirakan ketidakstabilan dapat berlanjut hingga 2026, terutama jika dinamika faksi internal semakin menguat.

Risiko salah perhitungan di masa krisis

Mantan ahli strategi Asia Pentagon, Drew Thompson, menilai penyusutan lingkaran penasihat militer di sekitar Xi berpotensi meningkatkan risiko salah penilaian saat menghadapi krisis.

Ia menegaskan bahwa pencegahan yang efektif bergantung pada tersedianya nasihat militer yang kompeten dan independen. Dengan komposisi CMC yang menyusut, muncul pertanyaan tentang siapa saja yang akan terlibat dalam konsultasi tingkat tinggi apabila situasi perang benar-benar terjadi.

Pandangan serupa disampaikan Lyle Morris dari Asia Society Policy Institute. Ia menilai penyingkiran komandan berpengalaman bisa menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kohesi serta efektivitas tempur.

Dengan berkurangnya kesinambungan komando dan potensi penurunan moral, sejumlah analis memproyeksikan turbulensi di pucuk pimpinan PLA masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Di tengah dinamika tersebut, kesiapan militer China menghadapi konflik eksternal kini menjadi sorotan serius komunitas internasional.

Advertisement
Advertisement
Advertisement