Washington Siapkan Revolusi Lewat Kekerasan Pasca AS-Israel Serang Iran
![]() |
| Washington Siapkan Revolusi Lewat Kekerasan Pasca AS-Israel Serang Iran |
PEWARTA.CO.ID — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel melancarkan serangan langsung ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
Sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di beberapa titik, menandai eskalasi konflik yang kini menyeret Amerika Serikat (AS) ke dalam operasi militer terbuka terhadap Teheran.
Tak lama setelah serangan itu terjadi, Washington mengonfirmasi keterlibatannya. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Negeri Paman Sam telah memulai serangan besar-besaran terhadap Iran. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan perubahan drastis dari tekanan diplomatik menjadi aksi militer langsung.
Dalam pidatonya, Trump menyampaikan komitmen untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran, termasuk angkatan laut dan infrastruktur rudalnya. Ia juga secara terbuka mendesak rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
"Kita akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka. Itu akan benar-benar, sekali lagi, dihancurkan," kata Trump di platform media sosial Truth Social.
Target militer dan seruan revolusi
Trump menegaskan bahwa tujuan operasi militer ini bukan sekadar serangan terbatas, melainkan penghancuran menyeluruh terhadap kemampuan militer Republik Islam Iran. Ia menyebut bahwa pemerintahan yang berdiri sejak revolusi 1979 menjadi sasaran utama tekanan politik dan militer Amerika Serikat.
Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Washington tidak hanya ingin melemahkan militer Iran, tetapi juga mendorong perubahan rezim. Retorika ini memperlihatkan strategi yang jauh lebih agresif dibanding pendekatan-pendekatan sebelumnya.
Jurnalis Alan Fisher dari Al Jazeera menilai bahwa pola yang dilakukan AS kali ini memiliki kemiripan dengan intervensi masa lalu, namun dengan metode berbeda.
"Mereka pernah melakukannya sebelumnya. Kali ini, mereka melakukannya dengan senjata dan bom, bukan secara diam-diam melalui CIA," kata Fisher.
Ia menambahkan bahwa operasi militer ini kemungkinan besar tidak akan berhenti dalam waktu singkat. Menurutnya, Trump telah mengisyaratkan kesiapan menghadapi konsekuensi perang, termasuk potensi jatuhnya korban jiwa.
"Dia mengatakan itu adalah sesuatu yang harus diterima dalam perang dan mendesak rakyat Iran untuk bersabar untuk saat ini, tetapi kemudian mengambil alih kendali pemerintahan mereka," lanjut Fisher.
Operasi berkelanjutan dan risiko korban
Analis memandang bahwa pernyataan Trump menunjukkan operasi militer yang dirancang sebagai kampanye jangka panjang. Tidak sekadar serangan simbolis, tetapi rangkaian aksi yang berpotensi menargetkan berbagai fasilitas strategis Iran.
Trump disebut menerima kemungkinan adanya korban sebagai konsekuensi dari konflik terbuka. Narasi tersebut mempertegas bahwa Washington mempersiapkan skenario perang yang lebih luas, bukan sekadar respons terbatas atas dinamika regional.
Langkah ini juga menempatkan Amerika Serikat dan Israel dalam posisi konfrontasi langsung dengan Teheran, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik ke negara-negara tetangga.
Timur Tengah bergejolak
Seiring pecahnya babak baru perang Iran-Israel, kawasan Timur Tengah kembali berada dalam ketidakpastian. Dampaknya langsung terasa pada sektor penerbangan internasional. Berdasarkan data dari FlightRadar24, seluruh penerbangan komersial dilaporkan menghindari wilayah udara Iran.
Penutupan jalur udara ini menandakan tingkat ancaman keamanan yang tinggi. Maskapai-maskapai internasional memilih rute alternatif demi menghindari risiko keselamatan.
Di sisi lain, Kedutaan Besar AS di Qatar mengeluarkan imbauan kepada warga dan personelnya untuk tetap berada di tempat hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Langkah serupa juga dilakukan oleh Kedutaan Besar Inggris di negara tersebut, yang meminta warganya menahan diri dari aktivitas di luar rumah.
Meski situasi regional memanas, Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan kondisi dalam negeri tetap terkendali. Otoritas setempat mengklaim situasi keamanan di negara itu “stabil dan aman” pascaserangan Israel terhadap Iran.
Ancaman konflik regional
Serangan terbuka antara Israel dan Iran yang didukung langsung oleh Amerika Serikat berpotensi memicu respons balasan. Iran selama ini dikenal memiliki jaringan sekutu dan kelompok proksi di berbagai negara kawasan, yang bisa saja terlibat dalam eskalasi berikutnya.
Keterlibatan Washington secara langsung juga mengubah peta konflik. Jika sebelumnya ketegangan Iran-Israel sering berlangsung dalam bayang-bayang operasi rahasia dan perang siber, kini konfrontasi terjadi secara terang-terangan.
Situasi ini menempatkan Timur Tengah dalam fase yang sangat rawan. Dengan seruan terbuka untuk menggulingkan pemerintahan Iran serta operasi militer yang diklaim berkelanjutan, dunia kini menanti bagaimana respons Teheran dan dampaknya terhadap stabilitas global.
