Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Harga Energi Dunia Melejit, Warga RI Diminta Beralih ke Kompor Listrik demi Hemat Subsidi

Harga Energi Dunia Melejit, Warga RI Diminta Beralih ke Kompor Listrik demi Hemat Subsidi
Penggunaan kompor listrik dinilai mampu menekan beban subsidi di tengah melonjaknya harga energi dunia. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Lonjakan harga energi global yang dipicu konflik geopolitik dan ketidakstabilan pasar internasional mendorong Indonesia untuk segera memperkuat ketahanan energi nasional.

Salah satu langkah yang dinilai strategis adalah mempercepat penggunaan kompor listrik di sektor rumah tangga.

Upaya ini dianggap mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG), sekaligus membantu menekan beban subsidi energi yang selama ini terus meningkat.

Percepatan program kompor listrik

Direktur Eksekutif Koordinator Daulat Energi, Ridwan Hanafi, menilai pemerintah perlu kembali mengintensifkan program kompor listrik bersubsidi agar lebih optimal dalam menjawab tantangan energi saat ini.

“Program kompor listrik perlu digaungkan kembali karena sangat relevan dengan kondisi saat ini. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kapasitas fiskal negara dalam mengelola kebijakan subsidi energi,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Menurut Ridwan, kebijakan tersebut bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga bagian dari strategi besar dalam menjaga stabilitas energi nasional di tengah tekanan global.

Dampak gejolak global terhadap energi nasional

Ia menjelaskan bahwa kondisi geopolitik dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah, turut memberi tekanan signifikan terhadap harga energi.

Situasi ini berpotensi meningkatkan beban ekonomi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Dalam konteks tersebut, diversifikasi sumber energi menjadi langkah penting yang tidak bisa ditunda.

Penggunaan listrik sebagai alternatif energi rumah tangga dinilai dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.

Beban subsidi lpg terus meningkat

Ridwan juga menyoroti tren kenaikan subsidi LPG yang terus terjadi dari tahun ke tahun.

Tingginya kebutuhan domestik yang tidak diimbangi dengan produksi dalam negeri membuat Indonesia masih sangat bergantung pada impor.

“Tercatat realisasi belanja subsidi LPG cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Untuk tahun 2025 saja, Indonesia mengekspor lebih dari 70 persen kebutuhan dalam negeri,” ungkapnya.

Kondisi ini dinilai berisiko terhadap stabilitas fiskal negara jika tidak segera diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

Kompor listrik sebagai solusi jangka panjang

Lebih lanjut, Ridwan menilai kompor listrik dapat menjadi solusi energi rumah tangga yang lebih efisien dan berkelanjutan, asalkan didukung dengan infrastruktur memadai dan edukasi masyarakat yang menyeluruh.

Dengan penerapan yang tepat, program ini diyakini tidak hanya meringankan beban subsidi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional secara keseluruhan.

“Penguatan implementasi dan sosialisasi yang komprehensif akan membuat program ini semakin tepat sasaran serta memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat maupun keuangan negara,” pungkasnya.

Advertisement
Advertisement
Advertisement