Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Viral Ikan Nila Mentah di Menu MBG Sukabumi, SPPG Cikole Minta Maaf: Awalnya Inovasi Ganti Menu Ayam

Viral Ikan Nila Mentah di Menu MBG Sukabumi, SPPG Cikole Minta Maaf: Awalnya Inovasi Ganti Menu Ayam
Viral Ikan Nila Mentah di Menu MBG Sukabumi, SPPG Cikole Minta Maaf: Awalnya Inovasi Ganti Menu Ayam

PEWARTA.CO.ID — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sukabumi menuai sorotan setelah beredar foto paket ikan nila mentah yang masih berdarah dan berbau. Paket makanan tersebut diketahui diterima oleh siswa di SMPN 1 Kota Sukabumi.

Paket menu MBG itu berasal dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Cikole Cisarua 2. Kejadian ini langsung menjadi perbincangan publik setelah sejumlah orang tua murid mengeluhkan kondisi ikan yang dinilai tidak layak dikonsumsi.

Menanggapi polemik yang berkembang, pihak SPPG Cikole Cisarua 2 akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

Penjelasan SPPG soal menu ikan nila

Kepala SPPG Cikole Cisarua 2, Ghiyats Tulus Pratama, menjelaskan bahwa penyajian ikan nila dalam menu MBG sebenarnya merupakan bagian dari inovasi menu untuk meningkatkan variasi sumber protein hewani bagi para siswa.

"Sangat disayangkan kejadian ini. Tujuan kita sebetulnya tidak ada niat untuk lalai. Ini berawal dari rencana inovasi penggantian menu protein hewani yang biasanya ayam, kita coba ganti ke ikan nila," ujar Ghiyats saat memberikan klarifikasi, Rabu (11/3/2025).

Ia memaparkan bahwa proses pengolahan ikan tersebut sebenarnya telah melalui tahapan sesuai prosedur yang ditetapkan. Mulai dari penerimaan bahan baku segar dari pemasok hingga proses pengolahan sebelum didistribusikan ke sekolah.

Menurutnya, ikan terlebih dahulu dicuci menggunakan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis, kemudian dimarinasi dengan bumbu kuning.

Setelah proses tersebut, ikan dikemas menggunakan metode vakum atau vacuum pack sebelum disimpan kembali di dalam freezer hingga waktu distribusi.

"Ikan yang telah dimarinasi divakum dan kembali dimasukkan ke dalam freezer sebelum didistribusikan. Kami juga sudah mengirimkan flyer pedoman konsumsi kepada PIC di sekolah terkait tata cara penyimpanan dan pengolahannya," tambahnya.

Meski demikian, Ghiyats mengakui bahwa terdapat hal teknis yang terlewat dalam proses distribusi maupun penanganan, sehingga memicu respons negatif dari masyarakat.

SPPG siapkan kompensasi untuk sekolah

Sebagai bentuk tanggung jawab atas kejadian tersebut, pihak SPPG Cikole telah melakukan komunikasi dengan mitra dapur penyedia makanan untuk memberikan kompensasi kepada pihak sekolah.

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk permohonan maaf resmi atas polemik yang terjadi.

"Langkah selanjutnya, ini menjadi pembelajaran untuk tidak menggunakan menu-menu yang risikonya tinggi. Kami juga sudah melakukan klarifikasi dan permohonan maaf melalui media sosial SPPG Cikole Cisarua 2," tutup Ghiyats.

Satgas MBG Sukabumi ikut turun tangan

Kegaduhan yang muncul di masyarakat juga mendapat perhatian dari Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis Kota Sukabumi.

Ketua Satgas MBG Kota Sukabumi, Andri Setiawan, menyatakan pihaknya telah melakukan pengawasan serta tindakan tegas terkait kejadian tersebut.

Ia juga mengapresiasi langkah cepat pihak sekolah yang langsung melaporkan temuan menu bermasalah kepada pengelola program.

"Satgas terus mengawasi jalannya program. PIC sekolah sudah melaksanakan tugas dengan baik. Ketika menu bermasalah, langsung hubungi Kasatpel SPPG. Tadi juga sudah ditegur oleh Wakil Kepala BGN," singkat Andri.

Orang tua siswa keluhkan kondisi ikan

Keluhan juga datang dari orang tua siswa penerima paket MBG. Salah satunya Umi, warga Ciaul, yang mengaku anaknya membawa pulang paket makanan tersebut dari sekolah.

“Iya bener ada ikan nila mentah dua ekor dari MBG anakku hari ini,” ujar Umi kepada awak media, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, ikan nila tersebut kemungkinan awalnya dalam kondisi beku. Namun saat sampai di rumah, ikan sudah mencair sehingga mengeluarkan aroma yang kurang sedap.

“Mungkin tadinya beku, tapi sampai di rumah sudah mencair lagi jadinya sedikit berbau. Malah ada wali murid yang bilang ikan kurang fresh (segar),” ungkap Umi.

Tak hanya ikan nila mentah, paket MBG yang diterima siswa juga berisi mie ayam mentah yang masih harus diolah terlebih dahulu sebelum bisa dikonsumsi.

“Jadi sampai di rumah nggak disimpan di kulkas karena nggak bakal dikonsumsi. Akhirnya disambar kucing,” tambah dia.

Bagi sebagian orang tua, kondisi tersebut dinilai kurang sesuai dengan tujuan program MBG yang seharusnya memudahkan pemenuhan gizi siswa tanpa membebani orang tua dengan proses memasak kembali.

Isi paket MBG yang diterima siswa

Selain ikan nila dan mie ayam mentah, paket makanan yang diberikan kepada siswa juga berisi sejumlah bahan tambahan yang rencananya digunakan untuk konsumsi beberapa hari ke depan.

Di dalam tas paket MBG tersebut terdapat dua buah jeruk, susu kemasan ukuran 250 mililiter dan 1 liter, satu pak stroberi, bolu pisang, serta kurma dalam kemasan.

Kasus ini pun menjadi bahan evaluasi bagi pengelola program agar distribusi makanan bergizi bagi siswa dapat berjalan lebih optimal dan sesuai dengan tujuan awal program MBG.

Advertisement
Advertisement
Advertisement