Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Wamen HAM Mugiyanto Terjebak 3 Hari di Qatar Imbas Perang AS-Israel Vs Iran

Wamen HAM Mugiyanto Terjebak 3 Hari di Qatar Imbas Perang AS-Israel Vs Iran
Wamen HAM Mugiyanto Terjebak 3 Hari di Qatar Imbas Perang AS-Israel Vs Iran

PEWARTA.CO.ID — Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) RI, Mugiyanto, masih tertahan di Doha, Qatar, setelah ketegangan antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat berdampak langsung pada penutupan wilayah udara di kawasan tersebut.

Situasi ini membuat sejumlah penerbangan internasional dibatalkan dan ratusan warga negara Indonesia (WNI) terpaksa menunda perjalanan.

Mugiyanto diketahui berada di Qatar dalam rangka perjalanan menuju Jenewa, Swiss, untuk menghadiri sidang Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, hingga memasuki hari ketiga, ia bersama rombongan belum dapat melanjutkan penerbangan akibat kondisi yang belum memungkinkan.

Dalam video keterangan yang diunggah Kementerian HAM melalui akun Instagram resminya pada Selasa (3/3/2026), Mugiyanto menyampaikan langsung perkembangan situasi dari Doha.

"Ini adalah hari ketiga kami terdampar di Doha, di Qatar, dalam perjalanan kami yang seharusnya adalah menghadiri sidang dewan HAM PBB di Jenewa," kata Mugiyanto dalam keterangannya.

Ruang udara masih ditutup

Menurut Mugiyanto, kondisi keamanan di Qatar dan sejumlah negara sekitar belum sepenuhnya stabil. Penutupan wilayah udara masih diberlakukan sebagai langkah antisipatif di tengah eskalasi konflik militer yang memanas.

Ia menyebutkan, hingga saat ini belum ada kepastian kapan penerbangan akan kembali dibuka secara normal. Situasi tersebut membuat para penumpang, termasuk delegasi resmi pemerintah Indonesia, harus bersabar menunggu perkembangan terbaru dari otoritas setempat.

"Kami hanya bisa berharap mudah-mudahan segera, mudah-mudahan segera dipulihkan ruang udara, wilayah udara di Qatar dan negara-negara sekitar dan perdamaian bisa segera terwujud," ujarnya.

Penutupan ruang udara tidak hanya terjadi di Qatar, tetapi juga berdampak pada beberapa negara di kawasan Timur Tengah yang menjadi jalur transit penerbangan internasional.

Ratusan WNI ikut terdampak

Selain Mugiyanto dan rombongan, terdapat lebih dari 100 WNI yang juga tertahan di Doha, tepatnya di Bandara Internasional Hamad. Informasi tersebut diperoleh dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Qatar.

Tak hanya di Qatar, WNI lainnya juga dilaporkan mengalami situasi serupa di sejumlah negara sekitar. Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat pembatalan dan penundaan penerbangan.

"Selain yang berada di Doha, Qatar, ada juga puluhan bahkan ratusan para warga negara Indonesia yang juga terdampar. Ada yang di Uni Emirat Arab di Dubai, ada juga yang di Kuwait, di Arab Saudi, di Bahrain, dan kita semua tidak bisa terbang, tidak bisa melanjutkan perjalanan," tuturnya.

Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Arab Saudi, dan Bahrain menjadi titik terdampak karena berada dalam radius ketegangan geopolitik yang meningkat.

Kekhawatiran keamanan meningkat

Di tengah ketidakpastian ini, para WNI yang berada di wilayah terdampak juga diliputi kekhawatiran terkait keamanan. Beberapa negara bahkan telah mengeluarkan imbauan agar warga tetap berada di dalam rumah dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Mugiyanto menyebut bahwa situasi tersebut menuntut seluruh WNI untuk tetap waspada dan mengikuti arahan resmi dari perwakilan diplomatik Indonesia maupun otoritas setempat.

"Kami berharap ya, kita semua yang berada di wilayah terdampak konflik militer ini tetap tenang dan kita percayakan saja situasi ini segera membaik, dan kita ikuti saja apa yang menjadi kebijakan-kebijakan dan juga arahan dari bapak-bapak duta besar dan juga otoritas setempat," tuturnya.

Pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di negara-negara terkait terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi guna memastikan keselamatan serta keamanan seluruh WNI yang berada di kawasan terdampak konflik.

Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban dalam eskalasi ketegangan tersebut. Namun, penutupan ruang udara dan pembatasan mobilitas masih menjadi tantangan utama bagi mereka yang hendak melanjutkan perjalanan internasional.

Advertisement
Advertisement
Advertisement