Bisnis Viral Bisa Tumbang! Kasus Menantea Bongkar Pentingnya Tata Kelola dan Kontrak yang Sering Diabaikan
![]() |
| Bisnis viral bisa tumbang! Kasus Menantea bongkar pentingnya tata kelola dan kontrak yang sering diabaikan. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Kabar penutupan seluruh gerai Menantea pada 25 April 2026 menjadi sorotan publik.
Brand minuman kekinian yang sempat viral dan berkembang pesat ini kini justru menjadi contoh nyata bahwa bisnis besar pun bisa runtuh jika fondasinya tidak kuat.
Didirikan oleh Jehian Panangian dan Jerome Polin pada April 2021, Menantea sempat menjelma menjadi simbol kesuksesan bisnis anak muda.
Dalam waktu singkat, ekspansi dilakukan ke berbagai kota.
Namun, di balik pertumbuhan cepat tersebut, tersimpan persoalan mendasar yang akhirnya memicu kemunduran.
Fondasi bisnis yang rapuh jadi pemicu
Penutupan Menantea tidak lepas dari berbagai persoalan internal.
Mulai dari lemahnya sistem kerja sama, kurangnya verifikasi mitra, hingga tidak adanya audit internal yang rutin.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis yang terlalu cepat tidak selalu diiringi dengan penguatan sistem.
Bahkan, ekspansi sering kali menutupi celah yang baru terasa ketika tekanan mulai datang.
Salah satu poin penting yang disorot adalah lemahnya aspek kontrak.
Jerome Polin sendiri menegaskan pentingnya perjanjian yang jelas sejak awal sebagai bentuk mitigasi risiko dalam bisnis.
Kontrak sering dianggap sepele
Dalam praktiknya, banyak pelaku usaha terutama yang baru merintis masih menganggap kontrak sebagai formalitas.
Fokus lebih banyak diarahkan pada pemasaran dan penjualan, sementara aspek legal kerap diabaikan.
Padahal, tanpa kontrak yang jelas, pelaku usaha berisiko kehilangan arah.
Mereka tidak memiliki kejelasan hak, kewajiban, hingga mekanisme penyelesaian konflik.
Pakar hukum dari BP Lawyers, Sekar Ayu Primandani, menilai kondisi ini sebagai kesalahan umum yang berbahaya.
Banyak pengusaha terlalu fokus mengejar peluang hingga mengabaikan perlindungan hukum.
Ketika masalah muncul, sering kali sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan karena tidak ada dasar hukum yang kuat.
Konflik internal juga jadi ancaman
Masalah dalam bisnis tidak hanya terjadi antar mitra, tetapi juga bisa muncul di level pendiri dan pemegang saham.
Di awal, hubungan biasanya dilandasi kepercayaan dan visi yang sama.
Namun seiring berkembangnya bisnis, kepentingan bisa berubah dan memicu konflik.
Tanpa perjanjian pemegang saham yang jelas, perbedaan tersebut berpotensi merusak stabilitas perusahaan.
Perjanjian ini seharusnya menjadi acuan dalam pengambilan keputusan strategis serta pembagian kontrol.
Pentingnya pembagian peran yang jelas
Selain kontrak, pembagian tugas juga menjadi faktor krusial.
Banyak bisnis gagal karena tidak adanya kejelasan tanggung jawab antar pihak.
Dalam struktur Perseroan Terbatas, peran sebenarnya sudah diatur.
Direksi bertanggung jawab atas operasional, komisaris berfungsi sebagai pengawas, dan pemegang saham menentukan arah strategis.
Namun, kesalahpahaman sering terjadi, misalnya anggapan bahwa komisaris memiliki wewenang lebih tinggi dalam operasional.
Padahal, secara hukum, kewenangan tersebut berada pada direksi.
Pelajaran besar dari kasus Menantea
Kasus Menantea menjadi pengingat bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh ide kreatif atau strategi pemasaran.
Faktor utama yang menentukan ketahanan bisnis justru terletak pada tata kelola yang baik, kontrak yang kuat, serta manajemen risiko yang disiplin.
Bisnis yang terlihat besar di luar bisa saja rapuh di dalam jika tidak memiliki sistem yang jelas.
Oleh karena itu, membangun fondasi sejak awal menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah bisnis tidak diukur dari seberapa cepat tumbuh, tetapi dari seberapa siap menghadapi risiko yang datang.

