Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

BRIN Ciptakan Gula Semut dari Sorgum, Inovasi Alternatif Pengganti Gula yang Ramah UMKM

BRIN Ciptakan Gula Semut dari Sorgum, Inovasi Alternatif Pengganti Gula yang Ramah UMKM
BRIN ciptakan gula semut dari sorgum, inovasi alternatif pengganti gula yang ramah UMKM. (Dok. BRIN)

PEWARTA.CO.ID — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan terobosan baru dengan mengembangkan teknologi pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis.

Inovasi ini menjadi solusi alternatif sumber gula sekaligus upaya meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal di Indonesia.

Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan membuka peluang usaha baru bagi petani serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Potensi sorgum sebagai sumber gula alternatif

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan bahwa sorgum memiliki potensi besar sebagai bahan baku pangan dan energi, meskipun pemanfaatannya masih belum optimal.

"Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi lebih fleksibel pemanfaatannya. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan," katanya.

Meski kandungan gulanya lebih rendah dibandingkan tebu, yakni sekitar 11–15 persen, tanaman ini tetap menjanjikan sebagai alternatif sumber gula, khususnya bagi petani dan pelaku usaha skala kecil.

Proses pengolahan gula semut dari sorgum

Pengolahan gula semut dari sorgum dilakukan melalui serangkaian mesin terintegrasi.

Proses dimulai dengan pemerasan batang sorgum menggunakan mesin roller press untuk mengekstraksi nira.

Dari sekitar 100 kilogram batang sorgum, dapat dihasilkan hingga 20 liter nira, tergantung kondisi tanaman dan lingkungan.

Tahapan berikutnya dilakukan melalui dua metode, yaitu:

  1. Vacuum evaporator, yang bekerja dalam sistem tertutup dengan suhu 60–70 derajat Celsius untuk menghasilkan gula cair atau sirup sorgum.
  2. Open pan cooker, yang digunakan untuk menghasilkan gula semut pada suhu 90–100 derajat Celsius hingga terbentuk kristal gula.
  3. "Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam, tergantung kandungan gula awalnya," ujar Sandi.
  4. Setelah proses pemasakan, gula dikeringkan menggunakan oven dehydrator untuk menurunkan kadar air.
  5. Tahap akhir dilakukan dengan mesin penghancur (crusher) sehingga menghasilkan butiran gula semut yang siap dikemas.

Efisien, higienis, dan ramah lingkungan

Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah efisiensi energi.

Berbeda dengan metode tradisional yang menggunakan kayu bakar, sistem yang dikembangkan BRIN memanfaatkan gas sebagai sumber panas yang lebih hemat dan mudah dikendalikan.

Selain itu, seluruh peralatan menggunakan material stainless steel tipe food grade, sehingga lebih higienis dan memenuhi standar keamanan pangan.

Desain alat juga bersifat modular dan mudah dipindahkan, menjadikannya ideal untuk penggunaan di tingkat UMKM dan kelompok tani.

Dukung pengembangan UMKM dan ketahanan pangan

Dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 30 liter nira per proses, teknologi ini dinilai sangat cocok untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani di daerah.

Inovasi BRIN ini diharapkan mampu memperkuat diversifikasi pangan nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap gula tebu.

Kehadiran gula semut dari sorgum pun membuka peluang baru bagi industri pangan lokal yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

Advertisement
Advertisement
Advertisement