Ekonomi RI Tetap Tangguh! Airlangga Ungkap Bukti Ketahanan di Tengah Tekanan Global
![]() |
| Ekonomi RI Tetap Tangguh! Airlangga Ungkap Bukti Ketahanan di Tengah Tekanan Global. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap kuat dan stabil meski dihadapkan pada berbagai tekanan global.
Ketahanan ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu melampaui rata-rata pertumbuhan dunia.
Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen.
Sementara itu, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11 persen pada 2025, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20.
Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, Airlangga menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi nasional didukung oleh permintaan domestik yang kuat, meliputi konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Permintaan domestik jadi penopang utama
Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak ekonomi dengan kontribusi sebesar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index yang tetap tinggi di level 360,7.
Selain itu, stabilitas sektor eksternal, kebijakan fiskal yang disiplin, serta koordinasi antarlembaga turut memperkokoh fondasi ekonomi Indonesia.
Di sektor pangan, produksi beras nasional mendekati 34,7 juta ton dengan cadangan beras Perum Bulog hampir mencapai 4,6 juta ton salah satu yang terbesar sepanjang sejarah.
Sementara di sektor energi, pemerintah mendorong kemandirian melalui program B50 dan mencatat surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” ujar Airlangga.
Indikator ekonomi tetap solid
Memasuki triwulan II 2026, kondisi ekonomi nasional dinilai tetap kokoh.
Hal ini tercermin dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi.
Sektor manufaktur juga menunjukkan ekspansi dengan indeks sebesar 50,1. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai 148,2 miliar dolar AS.
Kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai 47 miliar dolar AS turut menjadi penopang ketahanan ekonomi terhadap tekanan global.
APBN pun terus berperan sebagai bantalan ekonomi melalui berbagai stimulus, termasuk bantuan pangan, subsidi energi, dan diskon transportasi senilai sekitar Rp11,92 triliun.
Defisit anggaran tetap terkendali di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.
“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi 25,6 miliar dolar AS. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” kata Menko.
Hilirisasi dan investasi dorong pertumbuhan
Pemerintah juga terus mempercepat program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Sepanjang 2025, investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 36,5 miliar dolar AS, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan menyumbang 30,2 persen terhadap total investasi nasional.
Untuk memperkuat iklim usaha, pemerintah membentuk Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta melakukan reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025.
Penyederhanaan perizinan berbasis risiko dan digitalisasi melalui sistem OSS-RBA juga terus didorong.
Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di sektor strategis seperti manufaktur, ekonomi digital, pariwisata, kesehatan, dan hilirisasi mineral turut menjadi fokus pemerintah.
Di tingkat internasional, Indonesia juga memperluas kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia, serta memperkuat peran dalam forum global seperti BRICS, ASEAN, RCEP, dan CPTPP.
Indonesia semakin menarik bagi investor global
Airlangga menambahkan bahwa arus investasi asing langsung (FDI) menunjukkan tren positif, terutama pada sektor energi, semikonduktor, dan pusat data.
Indonesia dinilai memiliki keunggulan dari sisi sumber daya dan pasar domestik yang besar.
“Indonesia memiliki lahan, Indonesia memiliki harga energi yang kompetitif, dan kita juga memiliki energi bersih. Harga air kita juga kompetitif. Jadi, sebagian besar perusahaan AS, atau bahkan perusahaan regional, termasuk China, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia," ujarnya.
"Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa. Saya pikir digital adalah salah satu hal yang masih menarik bagi sebagian besar investor, terutama dengan AI, komputasi kuantum, mereka membutuhkan lebih banyak pusat data,” tutup Airlangga.


