Harga Emas Diprediksi Tembus Rp3 Juta Pekan Depan! Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Besar
![]() |
| Harga Emas Diprediksi Tembus Rp3 Juta Pekan Depan! Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Besar |
PEWARTA.CO.ID — Harga emas diperkirakan akan mengalami lonjakan signifikan dalam waktu dekat. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas, diprediksi menjadi pemicu utama kenaikan harga komoditas global, termasuk emas dan minyak mentah.
Situasi konflik yang semakin meluas dan melibatkan berbagai pihak, termasuk negara serta kelompok milisi, menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi dunia. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan investasi ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Dampak konflik terhadap harga minyak
Analis keuangan Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak global, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Gangguan ini diperkirakan akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
“Jika konflik terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak pihak, maka suplai minyak global bisa terganggu. Dampaknya harga minyak akan naik signifikan,” ujarnya di Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Ia memperkirakan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melonjak hingga mencapai kisaran USD 116 per barel apabila ketegangan terus meningkat.
Emas jadi pilihan utama investor
Selain minyak, harga emas juga diprediksi ikut terdorong naik. Ketidakpastian global membuat emas kembali menjadi instrumen investasi favorit karena statusnya sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Ibrahim menyebutkan bahwa harga emas dunia berpotensi menembus level USD4.878 hingga USD5.080 per troy ounce. Jika skenario ini terjadi, maka harga emas di pasar domestik berpeluang menyentuh angka Rp3 juta per gram.
Menurutnya, meningkatnya tensi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina, menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan harga emas. Investor global cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko ke emas maupun dolar Amerika Serikat.
Rupiah tertekan, dolar AS menguat
Di sisi lain, penguatan dolar AS diperkirakan akan memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Ibrahim memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp17.100 per dolar AS dalam waktu dekat.
“Ketika harga minyak naik dan dolar menguat, kebutuhan devisa untuk impor energi juga meningkat. Ini yang memberi tekanan tambahan pada rupiah,” jelasnya.
Ia juga menilai kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi turut memperkuat posisi dolar AS. Kondisi ini memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Permintaan emas global tetap kuat
Meski ada potensi koreksi jangka pendek, permintaan emas dari bank sentral berbagai negara diperkirakan tetap tinggi. Hal ini menjadi faktor fundamental yang menjaga tren kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga energi, serta pergeseran investasi global, prospek harga emas ke depan dinilai masih akan berada dalam tren menguat.
