Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Penumpang Whoosh dan LRT Jabodebek Meningkat Usai Tabrakan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek

Penumpang Whoosh dan LRT Jabodebek Meningkat Usai Tabrakan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek
Penumpang Whoosh dan LRT Jabodebek Meningkat Usai Tabrakan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek

PEWARTA.CO.ID — Insiden tabrakan antara KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin malam berdampak pada lonjakan pengguna transportasi umum lainnya, termasuk kereta cepat Whoosh dan LRT Jabodebek.

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat adanya peningkatan jumlah penumpang Whoosh pada Selasa (28/4/2026). Kenaikan tersebut terjadi dibandingkan periode yang sama pada pekan sebelumnya.

General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, mengatakan tingkat okupansi perjalanan Whoosh hari ini meningkat sekitar 10 persen dibandingkan Selasa pekan lalu.

Menurut Eva, hingga siang hari jumlah penumpang Whoosh berada di kisaran 370 hingga 400 penumpang untuk setiap perjalanan. Angka tersebut menunjukkan tingkat keterisian sekitar 65 persen.

“Nah, kalau kita bandingkan dengan Selasa minggu lalu, memang untuk hari ini kita melihat okupansi per KA itu sekitar 65 persen. Biasanya itu hanya di kisaran 45–50 persen,” ujarnya saat ditemui di Stasiun Halim, Selasa (28/4/2026).

Peningkatan jumlah pengguna juga terjadi pada layanan LRT Jabodebek, khususnya di Stasiun Jatimulya, Bekasi.

Berdasarkan data hingga pukul 16.30 WIB, jumlah penumpang yang berangkat dari Stasiun Jatimulya mencapai 9.023 pengguna pada Selasa (28/4/2026). Jumlah itu naik sekitar 45 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 6.224 pengguna.

Stasiun Jatimulya diketahui berjarak sekitar 2,7 kilometer dari Stasiun Bekasi Timur. Lokasi tersebut dapat ditempuh sekitar 10 menit menggunakan kendaraan roda dua, sehingga menjadi salah satu pilihan masyarakat Bekasi untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menyebut pihaknya terus berupaya menghadirkan layanan transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat di tengah situasi pemulihan perjalanan kereta.

“LRT Jabodebek terus melayani perjalanan masyarakat dari kawasan Bekasi menuju Jakarta, dan berharap proses pemulihan operasional perjalanan kereta di wilayah Bekasi dapat segera berjalan lancar sehingga mobilitas masyarakat kembali normal,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Selain menjadi alternatif transportasi, LRT Jabodebek juga menawarkan tarif yang relatif terjangkau. Pada jam sibuk atau peak hour, yakni pukul 06.00–08.59 WIB dan 16.00–19.59 WIB, tarif maksimal yang dikenakan sebesar Rp20.000.

Sementara di luar jam sibuk, pengguna hanya dikenakan tarif maksimal Rp10.000 untuk sekali perjalanan.

Pihak LRT Jabodebek juga mengingatkan masyarakat agar tetap mematuhi aturan keselamatan selama menggunakan layanan kereta. Penumpang diminta tidak memaksa masuk ketika pintu kereta sudah tertutup serta memberikan prioritas kepada lansia, ibu hamil atau menyusui, dan penyandang disabilitas.

Advertisement
Advertisement
Advertisement