Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Penyebab Harga Plastik Naik Hampir 45 Persen, Ternyata Ini Alasan yang Bikin Pedagang Resah

Penyebab Harga Plastik Naik Hampir 45 Persen, Ternyata Ini Alasan yang Bikin Pedagang Resah
Harga Plastik Naik Hampir 45 Persen. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan pelaku industri. Kenaikan yang terjadi bahkan terbilang signifikan, dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor plastik dan produk turunannya (HS 39) mencapai USD873,2 juta atau setara Rp14,78 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.927) pada Februari 2026. Kebutuhan tersebut dipenuhi dari berbagai negara mitra dagang.

China tercatat sebagai pemasok terbesar dengan nilai impor mencapai USD380,1 juta. Posisi berikutnya ditempati Thailand sebesar USD82,7 juta, disusul Korea Selatan dengan kontribusi USD66,7 juta.

Pasokan nafta terganggu akibat konflik

Kenaikan harga plastik tidak lepas dari melonjaknya harga nafta, bahan baku utama dalam industri petrokimia. Sekitar 70% pasokan nafta global diketahui berasal dari wilayah Timur Tengah.

Namun, stabilitas pasokan terganggu sejak terjadinya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Dampak konflik tersebut langsung terasa pada rantai distribusi bahan baku industri.

Dalam kurun waktu satu bulan, harga nafta mengalami kenaikan tajam hingga mendekati 45%. Per 1 April 2026, harga nafta mencapai 917 USD per ton, melonjak dari kisaran 630 USD per ton pada Februari. Angka ini masih berpotensi berubah karena kondisi pasar yang sangat fluktuatif.

Dampak luas ke industri petrokimia

Nafta merupakan komponen penting dalam produksi berbagai bahan kimia dasar. Di antaranya adalah butadiena yang digunakan untuk pembuatan sarung tangan karet dan ban.

Selain itu, nafta juga diolah menjadi etilena untuk memproduksi polietilena yang banyak digunakan pada botol plastik, kontainer, serta berbagai kebutuhan rumah tangga. Produk turunan lainnya adalah propilena yang digunakan dalam industri otomotif, mainan, hingga kemasan.

Kenaikan harga bahan baku ini secara otomatis meningkatkan biaya produksi di sektor industri, meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri masih dijaga stabil oleh pemerintah. Hal ini disebabkan bahan baku non-BBM seperti nafta tidak termasuk dalam skema subsidi.

Industri bertahan di tengah tekanan biaya

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, Plastik (Inaplas), Fajar Budiono, mengungkapkan kondisi industri saat ini berada dalam tekanan berat akibat ketidakpastian pasokan.

"Artinya itu kan enggak bisa disuplai, dan ketersediaannya enggak jelas kapan bisa di tangan kita," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, Plastik (Inaplas), Fajar Budiono dikutip BBC Indonesia Senin (6/4/2026).

Menurutnya, pelaku industri kini terpaksa menjalankan strategi bertahan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik.

"Kami memang dalam kondisi survival mode (mode bertahan). Artinya kami mempertahankan utilitas [proses produksi] di kondisi minimum untuk mencukupi kebutuhan lokal," ujar Fajar.

Asosiasi Inaplas sendiri menaungi lebih dari 80 perusahaan yang bergerak di sektor petrokimia dan plastik. Produk yang dihasilkan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari kemasan makanan dan minuman, kosmetik, perangkat elektronik, hingga perabot rumah tangga.

Mencari alternatif pasokan baru

Di tengah ketidakpastian ini, pelaku industri mulai mengalihkan perhatian ke sumber pasokan alternatif. Beberapa kawasan yang menjadi incaran antara lain Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika Serikat.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari Timur Tengah sekaligus menjaga keberlangsungan produksi di dalam negeri.

Namun demikian, proses diversifikasi sumber bahan baku ini tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan waktu dan penyesuaian logistik agar rantai pasok kembali stabil di tengah dinamika global yang masih bergejolak.

Advertisement
Advertisement
Advertisement