Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Penyebab Rupiah Melemah Dipicu Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran

Penyebab Rupiah Melemah Dipicu Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran
Penyebab Rupiah Melemah Dipicu Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran

PEWARTA.CO.ID — Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Selasa pagi, tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data pasar, rupiah turun 12 poin atau setara 0,07 persen ke posisi Rp17.223 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.211 per dolar AS.

Sentimen global tekan rupiah

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu perubahan sentimen pasar global yang kembali mengarah ke aset aman (risk off). Kondisi ini terjadi di tengah belum jelasnya prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang berbalik risk off dari ketidakpastian perdamaian di Timteng (Timur Tengah) oleh laporan apabila AS tidak menerima usulan perdamaian terbaru Iran. Indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia terpantau kembali naik,” ucapnya dikutip dari ANTARA di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Kenaikan indeks dolar AS dan harga minyak mentah global menjadi indikator meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan tersebut.

Dinamika negosiasi AS-Iran

Mengutip laporan Anadolu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump diketahui menggelar pertemuan dengan tim keamanan nasionalnya pada Senin (27/4/2026) untuk membahas proposal terbaru dari Iran.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya diplomasi yang kembali digencarkan setelah konflik berkepanjangan serta serangkaian negosiasi yang belum membuahkan hasil.

Namun, laporan menyebutkan bahwa Trump belum merasa puas terhadap proposal yang diajukan Teheran. Usulan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian konflik antara AS-Israel dan Iran, namun tidak menyentuh isu krusial terkait program nuklir Iran.

Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh mempertahankan haknya untuk melakukan pengayaan uranium. Teheran menilai langkah tersebut sah secara hukum internasional dan menolak tuntutan AS untuk menghentikannya sepenuhnya.

Hambatan kesepakatan masih besar

Ketidakjelasan sikap AS terhadap proposal tersebut menambah panjang daftar hambatan dalam proses negosiasi. Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya bahkan menyebut bahwa menerima proposal Iran dapat merusak klaim kemenangan politik Trump.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat menyatakan bahwa Iran menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap perjanjian harus menjamin Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Upaya diplomatik sejauh ini masih menghadapi berbagai kendala, termasuk persoalan pembukaan Selat Hormuz, penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, hingga masa depan program nuklir Iran.

Negosiasi berlanjut, pasar tetap waspada

Pembicaraan antara kedua negara sebelumnya telah berlangsung di Islamabad pada 11 April, namun belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang dimulai sejak 28 Februari.

Negosiasi tersebut sempat didahului oleh gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi Pakistan pada 8 April dan kemudian diperpanjang oleh pihak AS.

Meski demikian, rencana pertemuan lanjutan kembali menemui kendala setelah Trump membatalkan keberangkatan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan.

Hingga kini, berbagai pihak masih berupaya menggelar putaran negosiasi berikutnya, meski sejumlah isu utama masih belum menemukan titik temu.

Proyeksi pergerakan rupiah

Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS.

Tekanan eksternal diperkirakan tetap mendominasi pergerakan mata uang Garuda, seiring pelaku pasar yang cenderung berhati-hati menunggu perkembangan terbaru dari dinamika geopolitik dunia.

Advertisement
Advertisement
Advertisement